Antisipasi Kebakaran Lahan, Ibu Kota Baru akan Dilengkapi Bendungan Penampung Air

Kompas.com - 16/09/2019, 17:36 WIB
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimoeljono saat menemui wartawan usai memberikan kuliah umum mahasiswa baru program pascasarjana Fakultas Teknik UGM di Grha Sabha Pramana Selasa (27/08/2019) KOMPAS.COM/YUSTINUS WIJAYA KUSUMAMenteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimoeljono saat menemui wartawan usai memberikan kuliah umum mahasiswa baru program pascasarjana Fakultas Teknik UGM di Grha Sabha Pramana Selasa (27/08/2019)

JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah daerah dilanda kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan dan Sumatera. Bahkan, asap sudah sampai ke negeri Jiran, Malaysia.

Lalu, apakah potensi bencana kebakaran ini sudah diperhitungkan untuk wilayah calon ibu kota yang telah diputuskan di Kalimantan?

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Mochamad Basoeki Hadimoeljono mengatakan, pihaknya telah melakukan survei potensi Karhutla di kawasan Ibu Kota Baru, Kalimantan Timur.

Hasilnya Ibu Kota yang baru minim potensi karhutla dan khususnya di bagian Utara Bukit Soeharto yang tidak banyak tambang batu bara.

"Kami sudah survei, kalau yang di sebelah timur (bukit) Soeharato-Semboja itu memang daerah batu bara tapi sebelah utara kelihatannya batu baranya tidak signifikan menurut survei kita," kata Basoeki kepada wartawan di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta, Senin (16/9/2019).

Kendati demikian, Basuki mengungkapkan pihaknya masih akan melakukan kajian lebih detail ihwal potensi karhutla di kawasan Samarinda. Bahkan, pihaknya telah merencanakan untuk membuat bendungan sebagai langkah antisipasi jika terjadi Karhutla sewaktu-waktu.

"Kita kan lokasinya di sebelah sini, kalau yang di sebelah sininya yang kena tol itu memang gambut batu bara. Tapi yang sebelah sini (utara) batu bara tipis. Mau bikin bendungan di situ," ujarnya.

Menteri PUPR menambahkan, di wilayah Kabupaten Penajam Paser berdasarkan hasil survei tidak terlalu berpotensi terjadi karhutla. Sehingga perlu khawatir.

"Menurut survei kami yang recognize tipis. Kalau batu bara itu bahaya, dia bisa terus tahunan kalau ter-ekspose terbakar itu bisa masuk ke dalem dan itu paling susah," jelasnya.

Persoalan kabut asap akibat karhutla seolah tak berkesudahan. Sejak tiga hari terakhir isejumlah tempat kembali dilaporkan dilanda masalah kabut asap.

Sejumlah efek dari masalah kesehatan, pembatalan penerbangan, dan jarak pandang yang turun mengiringi dampak kabut asap yang terjadi.

Akibat karhutla terdapat beberapa wilayah di Indonesia yang terdampak. Seperti Kepulauan Riau, Jambi, Palembang, Banjarmasin, Palangkaraya, bahkan negara tetangga Malaysia yang berselimut kabut asap.



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X