Kenapa Go-Food Berani Klaim Kuasai Pasar Asia Tenggara?

Kompas.com - 19/09/2019, 18:08 WIB
Chief Food Officer Gojek Group, Catherine Hindra Sutjahyo (kanan) dan Executive Director of Consumer Insight Nielsen Singapura, Garick Kea (kedua kanan) memberikan penjelasan dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis (19/9/2019). KOMPAS.com/MURTI ALI LINGGAChief Food Officer Gojek Group, Catherine Hindra Sutjahyo (kanan) dan Executive Director of Consumer Insight Nielsen Singapura, Garick Kea (kedua kanan) memberikan penjelasan dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis (19/9/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Go-Food mengklaim menguasai pangsa pasar regional, Asia Tenggara dengan cakupan 75 persen. Hal ini membuat salah satu layanan Gojek itu unggul dibanding pemain-pemain lain dengan layanan sejenis.

Lantas, apa alasan Go-Food berani mengklaim capaian itu?

Chief Food Officer Gojek Group Catherine Hindra Sutjahjo mengungkapkan, klaim tersebut didasarkan sejumlah data-data yang ada.

Mulai dari penggunaan lebih banyak, konsumen lebih memilih Go-Food, hingga layanan dipandang berkontribusi pada pertumbuhan bisnis mitra.

Baca juga: Go-Jek Rencanakan Ekspansi Go-Food ke Singapura

"Kenapa kami berani sebut 75 persen? Itu berdasarkan jumlah order dan rerata nilai pesanan by basket size. Kalau dihitung berdasarkan jumlah yang dibayarkan konsumer sebelum promo, itu bukan angka real. Jadi, kami sebut 75 persen itu angkanya real," kata Catherine di Jakarta, Kamis (19/9/2019).

Catherine menuturkan, selain di Indonesia, Go-Food juga menguasai layanan pesan antar makanan di negara kawasan ASEAN lainnya, yakni Vietnam. Ini terwujud sejak tujuh bulan lalu sudah melayani pesanan kepada penggunan dan menggaet setidaknya 70.000 mitra.

 "Kami jadi pemain terbesar di Ho Chi Minh dan Hanoi," sebutnya.

Baca juga: Buka Tenant di Go-Food Festival, Omzet Bakaro Grill Express Naik 3,7 Kali Lipat

Dia menyebutkan, hingga kini transaksi di layanan Go-Food sudah mencapai 50 juta kali per bulan sejak enam bulan terakhir. Bahkan, angka tersebut meningkatkan dua kali lipat dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

"Dalam enam bulan terakhir, tercatat jumlah transaksi Go-Food meningkat dua kali lipat mencapai lebih dari 50 juta transaksi di seluruh Asia Tenggara setiap bulannya," ungkapnya.

Di sisi lain, menurut Riset Nielsen, 95 persen masyarakat Indonesia membeli makanan siap santap dalam tiga bulan terakhir. Dari angka ini, sekitar 58 persen di antaranya memesan menggunakan layanan pesan-antar makanan.

Baca juga: Rambah Asuransi, AIA Indonesia Suntik Dana ke Gojek

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X