No Deal Brexit, Miliaran Euro dan Jutaan Pekerjaan Akan Raib

Kompas.com - 23/09/2019, 08:43 WIB
Inggris tak siap no deal Brexit ThinkstockInggris tak siap no deal Brexit

BERLIN, KOMPAS.com - Sebulan sebelum tenggat waktu Inggris keluar dari Uni Eropa, gabungan produsen mobil di kawasan tersebut telah memberi peringatakan soal risiko kehilangan miliaran euro.

Menurut mereka, jika no-deal Brexit terjadi, di Inggris juga bakal terjadi pemberhentian produksi yang memakan biaya sebesar 50.000 poundsterling atau Rp 875 juta (kurs Rp 17.500 per poundsterling) setiap menit.

Dikutip dari Reuters, Inggris rencananya bakal meninggalkan Uni Eropa pada 31 Oktober, namun, dunia bisnis mulai mengkhawatirkan langkah Perdana Menteri Boris Johnson yang dianggap tidak kunjung memiliki kemajuan untuk mengajukan kesepakatan baru menggantikan pendahulunya Theresa May, yang ditolak tiga kali oleh parlemen Inggris.

Baca juga: Ada No Deal Brexit, Defisit Anggaran Inggris Melonjak

Dalam sebuah keterangan, kelompok yang juga berisi Asosiasi Manufaktur Automobile Eropa, juga Asosiasi Suplier Otomotif Eropa serta 17 kelompok lainnya telah memberikan peringatan mengenai dampak dari no-deal Brexit kepada industri yang telah mempekerjakan 13,8 juta orang di Uni Eropa termasuk Inggris, atau 6,1 persen dari keseluruhan tenaga kerja.

"Keluarnya Inggris dari Uni Eropa dengan tanpa kesepakatan akan memicu perubahan signifikan di kondisi perdaganga, dengan miliaran euro ancaman tarif yang bakal berdampak pada pilihan dan kemampuan konsumen di kedua belah sisi," ujar mereka dalam keterangan tertulisnya.

"Berakhirnya perdagangan tanpa hambatan bisa meberi disrupsi yang merusak untuk industri, dengan ongkos untuk seteiap penghentian produksi di UK sendiri bisa mencapai 54.700 euro setiap menit," tambahnya.

Baca juga: Inggris Tak Siap untuk No-Deal Brexit, Mengapa?

Jika kedua belah pihak menerapkan aturan dari Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) konsekuensi dari no-deal Brexit yang paling mungkin terjadi adalah tambahan tarif hingga 5,7 miliar euro dalam perdagangan mobil antaran negara-negara Uni Eropa dengan Inggris.

Industri mobil Eropa sendiri sangat bergantung pada rantai pasokan cross boarder yang membuat ongkos produksi mereka sangat efektif karena hampir tidak ada tarif impor antar negara-negara Uni Eropa.

Adapun industri mobil Inggris, yang hampir seluruhnya dimiliki asing menjadi sangat rentan lantaran sebagian besar pabrik dimiliki perusahaan Jerman, Perancis dan Jepang.


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber Reuters
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X