BPS: Ada Deflasi, Bukan Berarti Daya Beli Turun

Kompas.com - 01/10/2019, 16:00 WIB
Ilustrasi belanja memakai kantong plastik. KOMPAS/HERU SRI KUMOROIlustrasi belanja memakai kantong plastik.

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadi deflasi sebesar 0,27 persen. Namun demikian, Kepala BPS Suhariyanto menegaskan terjadinya deflasi pada bulan ini tidak disebabkan menurunnya daya beli masyarakat.

Sebab, dari seluruh komponen Indeks Harga Konsumsi (IHK) hanya harga bahan makanan bergejolak (volatile food) saja yang mengalami penurunan. Sementara, inflasi inti masih di kisaran 0,29 persen. Secara tahunan pun, tingkat inflasi masih berada di kisaran 3,39 persen.

"Deflasi 0,27 persen lebih disebabkan karena penurunan harga barang bergejolak, inflasi inti masih 0,29 persen dan secara year on year inflasi masih 3,39 persen, sehingga disimpulkan tidak ada penurunan daya beli," jelas Suhariyanto ketika memberikan paparan kepada awak media di Jakarta, Selasa (1/10/2019).

Sebagai informasi, harga bahan pangan bergejolak mengalami deflasi 1,97 persen dengan andil terhadap keseluruhan deflasi sebesar 0,44 persen.

Baca juga: BPS: September 2019 Deflasi 0,27 Persen

Komoditas yang paling dominan memberikan andil terhadap deflasi adalah harga cabai merah yang turun tajam dengan andil terhadap deflasi sebesar 0,19 persen, bawang merah dengan andil terhadap deflasi sebesar 0,07 persen, daging ayam ras memberikan andil terhadap deflasi sebesar 0,5 persen.

Komoditas lain yang memberikan andil terhadap deflasi adalah cabai rawit sebesar 0,03 persen dan telur ayam ras sebesar 0,02 persen.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Bisa dilihat terjadinya deflasi bahan makanan lebih disebabkan harga berbagai komoditas tumbuh-tubuhan serta daging ayam ras dan telur ayam ras," jelas Suhariyanto.

Sementara, untuk bahan pangan lain terjadi inflasi seperti di harga beras yang mengalami inflasi tipis sebesar 0,12 oersen dengan sumbangan terhadap inflasi sebessar 0,01 persen.

"Tidak perlu dikhawatirkan karenae cadangan cukup," ujar dia.

Baca juga: Harga Cabai hingga Telur Ayam Merosot Picu Deflasi

Adapun kelompok makanan jadi dan rokok rokok serta hasil tembakau lainnya mengalami inflasi 0,28 persen, dengan sumbangan 0,05 persen.

Komoditas yang memberikan sumbangan dominan terhadap inflasi adalah mie, nasi dengan lauk pauk, serta rokok kretek filter yang memberikan sumbanyan terhadap inflasi sebesar 0,01 persen.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Cara Menambah Daya Listrik Berikut Rincian Biayanya

Cara Menambah Daya Listrik Berikut Rincian Biayanya

Whats New
Puncak BBI Berjalan Lancar, Telkom Hadirkan Beragam Dukungan Ekosistem Digital di Flobamora

Puncak BBI Berjalan Lancar, Telkom Hadirkan Beragam Dukungan Ekosistem Digital di Flobamora

Rilis
Riset NielsenIQ: Tingkat Konsumsi Naik, Tren Pemulihan di Tengah Pembatasan Sosial

Riset NielsenIQ: Tingkat Konsumsi Naik, Tren Pemulihan di Tengah Pembatasan Sosial

Whats New
Bank Dunia Rekomendasikan Indonesia Naikkan Tarif Cukai Rokok Untuk Dongkrak Pendapatan Negara

Bank Dunia Rekomendasikan Indonesia Naikkan Tarif Cukai Rokok Untuk Dongkrak Pendapatan Negara

Whats New
Ini Strategi Indonesia Hadapi Isu Transisi Dunia Pendidikan ke Dunia Kerja

Ini Strategi Indonesia Hadapi Isu Transisi Dunia Pendidikan ke Dunia Kerja

Rilis
Program Padat Karya Bidang Jalan dan Jembatan Serap 273.603 Tenaga Kerja

Program Padat Karya Bidang Jalan dan Jembatan Serap 273.603 Tenaga Kerja

Rilis
Tips Berbisnis Bagi Pemula Ala Bos Grab Indonesia

Tips Berbisnis Bagi Pemula Ala Bos Grab Indonesia

Whats New
Prudential Kukuhkan 40 Calon Pengusaha yang Ikut Program Kewirausahaan

Prudential Kukuhkan 40 Calon Pengusaha yang Ikut Program Kewirausahaan

Rilis
 Mata Uang Kripto adalah Uang Digital, Begini Cara Kerjanya

Mata Uang Kripto adalah Uang Digital, Begini Cara Kerjanya

Whats New
Hati-hati, Ini Konflik Pembagian Harta Warisan yang Rawan Terjadi

Hati-hati, Ini Konflik Pembagian Harta Warisan yang Rawan Terjadi

Whats New
Indonesia Jadi Anggota Dewan FAO, Guru Besar IPB: Bisa Bantu Perbaikan Data Pertanian

Indonesia Jadi Anggota Dewan FAO, Guru Besar IPB: Bisa Bantu Perbaikan Data Pertanian

Rilis
Demi Mobil Listrik, Luhut Resmikan Smelter Nikel Senilai Rp 14 Triliun di Pulau Obi

Demi Mobil Listrik, Luhut Resmikan Smelter Nikel Senilai Rp 14 Triliun di Pulau Obi

Whats New
Kasus Covid Melonjak, Konvensi Luar Biasa Kadin Tak Mendapat Izin

Kasus Covid Melonjak, Konvensi Luar Biasa Kadin Tak Mendapat Izin

Whats New
Usia Perusahaan Masih Muda, DANA Belum Mau IPO

Usia Perusahaan Masih Muda, DANA Belum Mau IPO

Whats New
Lima Upaya Kemenaker Hapus Bentuk-bentuk Pekerja Anak

Lima Upaya Kemenaker Hapus Bentuk-bentuk Pekerja Anak

Rilis
komentar di artikel lainnya
Close Ads X