Transformasi Digital Bukanlah tentang Teknologi

Kompas.com - 02/10/2019, 14:21 WIB
Ilustrasi teknologi digital SHUTTERSTOCKIlustrasi teknologi digital

YANG bahkan lebih dahsyat dan bikin menganga dari ekstrimnya perkembangan teknologi digital di setiap tahun, adalah efek yang diakibatkannya.

Efek yang menggoyang semua lapisan kehidupan ibarat gempa revolusi yang masa bodoh dengan ketidaksiapan Anda, dan mengubah cara orang belajar, operasional bisnis, cara menikmati berita, sampai teknik ngegombal yang kini cukup pakai gambar emoji dengan mata berbentuk hati.

Lalu dengan satu klik, mengirim bunga dengan poin diskonan di jasa online delivery.

Anda tahu kok soal ini. Anda melihat sendiri efeknya setiap hari bahkan di rumah sendiri.

  • Si kecil yang pulang dari sekolah dan teriak heboh, “Mak! Aku enggak mau jadi dokter lagi. Aku mau jadi YouTuber aja!”
  • Fresh graduate yang memilih tempat kerja dari akun Instagram perusahaannya, “Ogah ah kerja di sini. Akunnya aja enggak keurus, pasti enggak asik”
  • Atau pemilik bisnis yang meletakkan telapak tangan dalam-dalam di jidat gara- gara tokonya kalah laku sama emak- emak yang jualan via Facebook.

Dan kalau Anda, seperti banyak perusahaan lain yang berpikir dengan keluar duit setumpuk untuk membeli teknologi, bisa menyiapkan Anda untuk revolusi ini, maka mendingan Anda bakar duit itu di halaman depan bersama daun kering, karena usaha Anda bisa jadi sudah gagal sebelum dimulai.

Karena sebenarnya, transformasi digital BUKANLAH tentang teknologi.

Baca juga: Manfaatkan Teknologi, Bangun Usaha Rintisan Kian Mudah

Transformasi digital adalah tentang revolusi kultur

Riset tentang ini telah dan terus dilakukan di dunia bisnis, yang menemukan 84 persen usaha transformasi digital rentan gagal.

Dari 1 triliun dollar AS di seluruh dunia yang diinvestasikan perusahaan untuk upaya transformasi digital pada tahun 2017, dan diduga bakal membengkak hingga 2,1 triliun dollar AS di 2021, 84 persennya tidak akan mencapai transformasi yang diharapkan.

Kenapa?

Karena sebagian besar dari dana ini digunakan hanya untuk ‘membeli’ teknologi.

“Alahhh, bisnis sih tetap gitu- gitu aja. Tinggal cara bisnis lama diterapkan pake teknologi digital kan beres”, kata banyak orang bisnis yang gagal paham. Duka terdalam saya untuk mereka – mereka ini.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X