Saham-saham Bank BUMN Bertumbangan, Apa Sebabnya?

Kompas.com - 03/10/2019, 08:06 WIB
Suasana Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (1/7/2018). IHSG dibuka pada 6.381,18 naik 22,56 poin dibandingkan penutupan perdagangan Jumat lalu. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGSuasana Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (1/7/2018). IHSG dibuka pada 6.381,18 naik 22,56 poin dibandingkan penutupan perdagangan Jumat lalu.

JAKARTA, KOMPAS.com - Saham- saham bank Badan Usaha Milik Negara ( BUMN) bertumbangan pada perdagangan Rabu (2/10/2109) kemarin. Saham  empat bank pelat merah kompak jeblok secara signifikan pada penutupan perdagangan.

Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI, anggota indeks Kompas100) ditutup melorot 5,43 persen ke level Rp 6.525, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI, anggota indeks Kompas100) anjlok 4,81 persen, PT Bank Rakyat Indonesia tbk (BBRI, anggota indeks Kompas100) merosot 3,44 persen, dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN, anggota indeks Kompas100) melemah 2,78 persen.

Analis Kresna Sekuritas Franky Rivan mengatkan, penyebab jebloknya saham-saham bank BUMN tersebut ada dua faktor.

Baca juga: Ekonomi Masih Loyo, Saham Sektor Apa yang Bisa Jadi Pilihan?

Pertama adalah adanya aksi jual di pasar global dan kedua lantaran memburuknya kualitas aset bank pelat merah. Namun bukan karena faktor pertumbuhan kredit yang masih terus melambat.

Menurut dia, jika terjadi market global sell off maka akan menimbulkan dampak signifikan terhadap penurunan saham-saham bank BUMN karena memiliki Beta yang lebih besar dibandingkan dengan bank swasta.

"Beta saham bank BUMN itu sekitar 1,5 persen-1,6 persen. Makanya saat terjadi sell off di global market, biasanya saham BUMN yang paling akan terkena. Sedangkan bank swasta Beta sahamnya kecil, seperti BBCA (anggota indeks Kompas100) misalnya hanya 0,9 persen," jelas Rivan seperti dilansir Kontan.co.id, Rabu (2/10/2019).

Sementara terkait kualitas aset, Rivan melihat semakin memburuk karena kemungkinan gagal bayar (default) dan fraud dari Duniatex. Bank-bank BUMN memiliki eksposure kredit yang cukup besar ke grup perusahaan tekstil itu.

Prospek saham-saham bank BUMN ke depan menurut Franky akan sangat tergantung pada perbaikan kualitas aset dan perkembangan proses restrukturisasi kredit Duniatex. Saat ini, ia masih merekomendasikan hold untuk saham bank pelat merah dan hanya merekomendasikan buy untuk BBCA.

Baca juga: Beli Saham Perusahaan Saat IPO, Apa Untungnya?

Sementara Kepala Riset Samuel Sekuritas Indonesia, Suria Dharma menilai anjloknya saham bank BUMN ini bukan akibat perlambatan pertumbuhan kredit maupun sentimen atas kasus Duniatex.

"Ini bukan karena sentimen Duniatex juga karena kredit ke Duniatex baru jadi special mention loan (SML)," ujar Suria.

Adapun perlambatan pertumbuhan kredit merupakan isu secara industri bukan sektor. Seperti diketahui, kredit perbankan per Agustus hanya tumbuh 8,4 persen year on year (yoy) melambat dari pertumbuhan bulan-bulan sebelumnya.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X