India Bakal Hentikan Ekspor Bawang Merah, Mengapa?

Kompas.com - 03/10/2019, 11:37 WIB
Ilustrasi bawang merah Ilustrasi bawang merah

INDIA, KOMPAS.com - India melarang ekspor bawang merah. Hal ini panen yang terus berkurang akibat hujan yang terus melanda wilayah negeri ini.

Akibatnya, harga bawang di negara itu melonjak di tengah permintaan konsumen melemah. Hal tersebut menurunkan pertumbuhan ekonomi terbesar ketiga di negara Asia.

"Larangan mulai berlaku pada hari Minggu dan akan berlangsung sampai perintah lebih lanjut," kata keterangan pemerintah India dikutip CNBC, Kamis (3/10/2019).

Seperti diketahui, India adalah salah satu pengekspor bawang merah terbesar di dunia. Selama tahun 2018 menurut data perdagangan, negara tersebut mampu mengekspor 2,2 miliar kilogram atau senilai 514,3 juta dollar AS.

Baca juga: BI Ingin Indonesia Belajar dari China dan India Soal Pengelolaan Data

Tetapi, ekspor bawang merah hanya menyumbang 0,16 persen dari keseluruhan ekspor India tahun lalu. Selain itu, bawang merah yang biasanya digunakan sebagai bumbu utama dalam masakan di India naik dua kali lipat sejak Juli 2019.

Kendati melarang ekspor, perintah tersebut bukan satu-satunya langkah yang diambil pemerintah India untuk memperbaiki harga bawang yang melambung tinggi, mengingat pentingnya sayuran bagi konsumen domestik.

Pemerintah setempat juga melakukan berbagai cara, salah satunya melepaskan pasokan cadangan bawang nasionalnya. Pun menetapkan harga ekspor minimum pada pengiriman bawang sebelumnya di bulan September.

Tidak hanya itu, pemerintah setempat juga menarik insentif ekspor pada bulan Juni 2019.

Baca juga: Ekonomi India Cuma Tumbuh 5 Persen, Terendah dalam 6 Tahun

Ekonomi melambat

Seperti diberitakan, ekonomi India memang tengah melambat akibat hujan monsun terberat dalam 25 tahun terakhir. Musim hujan di India, yang biasanya berlangsung dari Juni hingga September, membanjiri pertanian di beberapa negara.

Pengurangan hasil pertanian selama musim hujan yang berbulan-bulan juga memengaruhi industri-industri lain di India, seperti manufaktur dan ritel. Hal ini berpotensi merusak momentum ekonomi India yang sudah melambat.

Pada kuartal II 2019, ekonomi India tumbuh 5 persen (yoy), yang merupakan laju terlemah dalam 6 tahun terakhir karena permintaan konsumen dan belanja pemerintah melambat.

Kelemahan dalam gambaran pertumbuhan ekonomi di ataslah yang menjadi alasan para analis berharap agar pemerintah India menurunkan suku bunga dua kali lebih banyak tahun ini, meski pemerintah telah memotong tingkat pajak perusahaan dalam upaya untuk menghidupkan kembali perekonomian.

Sebelumnya, Bank sentral India telah menurunkan suku bunga acuannya dengan total 1,1 poin sejak Januari 2019.

Baca juga: Serukan Perang Dagang dengan AS, India Bisa Rugi Sendiri?

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber CNBC
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X