Menkes Palestina Minta Bantuan BPOM, Buat Apa?

Kompas.com - 10/10/2019, 12:38 WIB
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K Lukito di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakart, Rabu (7/9/2016) KOMPAS.com/Nabilla TashandraKepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K Lukito di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakart, Rabu (7/9/2016)

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan ( BPOM) RI Penny K Lukito melakukan kunjungan kerja ke Palestina. Dalam kunjungan itu, Penny bertemu dengan Menteri Kesehatan (Menkes) Palestina Dr Mai Kaila.

Kaila menyebut, Palestina sangat membutuhkan bantuan BPOM RI untuk membentuk lembaga pengawas Obat dan Makanan Palestina yang independen.

Kaila pun berharap dalam waktu dekat dapat dibahas roadmap atau peta jalan dan plan of action alias rencana aksi untuk pembentukan Lembaga Pengawas Obat dan Makanan Palestina.

Ini akan diformalkan terlebih dahulu dengan nota kesepahaman antara BPOM dengan pihak otoritas regulator obat dan makanan di Palestina. Kaila meminta agar lembaga tersebut dapat terbentuk dalam waktu 6 bulan ke depan.

“Saat ini belum ada lembaga independen di Palestina yang bertanggung jawab atas keamanan dan mutu obat dan makanan. Peran pengawasan tersebut saat ini dilakukan oleh unit kerja kecil di bawah Kementerian Kesehatan Palestina,” terang Kaila.

Baca juga: Ketua Komisi IX DPR Nilai Anggaran BPOM Masih Kurang

Dalam keterangan resminya, Kamis (10/10/2019), Penny menyambut baik dan merasa terhormat atas permintaan Menkes Palestina itu.

Dalam kunjungannya ke Palestina, Penny juga menyampaikan saat ini pihaknya tengah memberikan peningkatan kapasitas di bidang pengawasan obat terhadap 14 perwakilan regulator obat Palestina dan dihadiri juga pertama kalinya oleh 3 wakil dari badan pengawas obat dan makanan Yordania di bawah kerangka Kerja Sama Selatan-Selatan (KSS) tahap kedua.

KSS tahap pertama telah dilakukan pada tahun 2018 yang melibatkan 6 orang peserta dari regulator Palestina.

Kaila juga menyatakan, sejumlah negara donor telah menyatakan ketertarikan di bidang obat dan makanan kepada Palestina, namun beliau memandang hal ini lebih baik dilakukan dengan BPOM RI.

"Kami sangat bergantung kepada BPOM terkait hal ini. Apalagi BPOM telah menunjukkan komitmen yang nyata dengan melakukan capacity building secara berturut-turut selama dua tahun terakhir ini," jelas Kaila.

Baca juga: BPOM Terbitkan Aturan Label Pangan Olahan Susu Kental Manis

Dalam pertemuan tersebut dibahas beberapa isu terkait pentingnya dukungan dari BPOM, serta upaya peningkatan nilai perdagangan antara kedua negara.

“Ke depan, diharapkan semakin banyak produk obat dan makanan Indonesia dapat memasuki pasar Palestina dan demikian juga sebaliknya,” sebut Penny.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X