Bank Dunia: Ketimpangan Ekonomi Masih Jadi Tantangan bagi Indonesia

Kompas.com - 10/10/2019, 21:05 WIB
Warga beraktivitas di pemukiman padat penduduk di bantaran Sungai Ciliwung, Manggarai, Jakarta, Minggu (28/7/2019). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta, persentase penduduk miskin DKI Jakarta pada Maret 2019 adalah 3,47 persen atau sebesar 365,55 ribu orang. Saat ini pemerintah DKI Jakarta melakukan pilot project di beberapa wilayah dengan mengutamakan program KJP, Kesehatan, dan Pendidikan yang ditargetkan dapat mengurangi kemiskinan. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGWarga beraktivitas di pemukiman padat penduduk di bantaran Sungai Ciliwung, Manggarai, Jakarta, Minggu (28/7/2019). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta, persentase penduduk miskin DKI Jakarta pada Maret 2019 adalah 3,47 persen atau sebesar 365,55 ribu orang. Saat ini pemerintah DKI Jakarta melakukan pilot project di beberapa wilayah dengan mengutamakan program KJP, Kesehatan, dan Pendidikan yang ditargetkan dapat mengurangi kemiskinan.

JAKARTA, KOMPAS.com - Dunia tengah dihadapkan pada banyaknya tantangan global yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di masing-masing negara.

Di Indonesia sendiri, selain eskalasi perang dagang AS-China yang belum usai dan ketidakpastian global lainnya, ketimpangan ekonomi di berbagai daerah masih menjadi tantangan.

Bank dunia dalam laporan terbarunya mengatakan, sebanyak 6 provinsi di Indonesia justru mengalami peningkatan kemiskinan. Utamanya di kawasan Timur Indonesia, dengan provinsi Papua yang tertinggi sebesar 27,5 persen.

Baca juga: Bank Dunia: Ekonomi RI Bakal Terus Sekitar 5 Persen hingga 2021

Angka ketimpangan itu sangat signifikan, mengingat Jakarta memiliki tingkat kemiskinan terendah, yakni sebesar 3,5 persen.

"Jadi meskipun ada kemajuan terbaru dalam pengurangan kemiskinan, ketimpangan di 6 daerah itu mengalami peningkatan. Ketimpangan ini jadi tantangan bagi Indonesia," kata Ekonom Utama Bank Dunia Indonesia, Frederico Gil Sander di Jakarta, Kamis (10/10/2019).

Adapun terkait perang dagang, Frederico menuturkan ekonomi dunia akan terkena imbasnya, tidak terkecuali Indonesia. Eskalasi ketegangan perang dagang bisa membebani pertumbuhan regional dan harga komoditas.

"Karenanya juga bisa berdampak buruk pada pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga berkontribusi mendalamkan defisit neraca transaksi berjalan, yang juga karena melemahnya ekspor," ucap Frederico.

Baca juga: Ini Target Angka Kemiskinan Jokowi-Maruf Amin di Tahun Pertama

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X