YLKI Minta Pemerintah Perbaiki Label Pemanis Buatan "Tidak Wajar"

Kompas.com - 11/10/2019, 13:09 WIB
Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi saat menggelar konferensi pers di Jakarta, Jumat (16/11/2018). -KOMPAS.com/AKHDI MARTIN PRATAMAKetua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi saat menggelar konferensi pers di Jakarta, Jumat (16/11/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia ( YLKI) meminta pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan ( BPOM) memperbaiki label pemanis buatan pada makanan yang terlihat tidak wajar.

Pasalnya, YLKI menemukan 25 sampel makanan kerap ditemui konsumen menggunakan label yang tidak wajar. Label-label pemanis buatan pada makanan tersebut biasanya diperkecil, samar-samar, dan disembunyikan.

Hal tersebut tentu membuat konsumen kecolongan, utamanya konsumen yang memang rentan terhadap pemanis buatan.

"Kami meminta Kemenkes dan BPOM segera meninjau dan merevisi kembali label pemanis buatan," kata Ketua Harian YLKI Tulus Abadi di Jakarta, Jumat (11/10/2019).

Baca juga: Waspada Pangan Sugar Free, Ternyata Pakai Pemanis Buatan

Adapun perevisian itu bisa berupa memperjelas atau memperbesar tulisan, memberikan pewarnaan khusus, bahkan memberikan peringatan berupa gambar agar mudah dipahami konsumen.

Apalagi, peraturan soal label pemanis buatan itu telah tertera pada Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 33 Tahun 2012 Tentang Bahan Tambahan Pangan (BTP).

Tertera pula di dalam Keputusan Badan POM Nomor HK.00.05.5.1.4547 Tahun 2004 Tentang Persyaratan Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Pemanis Buatan Dalam Produk Pangan.

"Untuk itu, pemerintah melalui BPOM RI dan Kemenkes harus bertanggung jawab menyampaikan informasi kepada konsumen dalam kategori rentan agar dapat memahami maksud dari peringatan kesehatan yang tercantum pada label," kata dia.

Selain itu, Tulus meminta kepada para pelaku usaha pangan agar memberikan informasi yang jelas pada label pangan.

Hal tersebut mencegah terjadinya asimetris informasi di mana terdapat info penting yang tersembunyi dibalik bombastisnya klaim produk.

"Misalnya minuman dengan klaim sugar free, ternyata diganti pakai pemanis buatan, tertulis dengan tulisan yang sangat kecil di belakang produk," ujar Tulus.

Baca juga: Pengusaha Banyak Gunakan Gula Impor, Ini Alasannya Menurut Asosiasi

Pihaknya pun telah berusaha meminta keterangan lebih lanjut kepada 13 dari 25 sampel bahan pangan yang menyembunyikan label pemanis buatan. Sayangnya, hanya 2 perusahaan yang menjawab.

"Tapi mereka yang 2 (perusahaan) itu tidak memberikan jawaban yang sesuai yang kami tanyakan, yang sesuai ekspektasi kami," ungkap Tulus.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X