5 Tahun Mendatang, Tantangan Sektor Transportasi Kian Berat?

Kompas.com - 17/10/2019, 10:12 WIB
Ilustrasi Logistik SHUTTERSTOCKS/MAXX-STUDIOIlustrasi Logistik

JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Bidang Transportasi, Carmelita Hartoto mengungkapkan kinerja sektor transportasi ke depan semakin berat.

Salah satunya kerena gejolak ekonomi dunia serta kondisi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Lesunya pasar ekspor membuat sektor transportasi tertekan.

"Tantangan ke depan tidak mudah kinerjanya semakin berat melihat kondisi perang dagang AS dan China," kata Carmelita dalam Opening Ceremony Indonesia Transport Supply Chain & Logistics, di Jiexpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (16/10/2019).

Carmelita menilai, dengan kondisi tersebut secara otomatis akan mempengaruhi kinerja sektor industri nasional. Namun demikian, pihaknya tetap optimistis sektor transportasi akan terus tumbuh dengan adanya dukungan pemerintah serta stakeholder terkait, swasta.

"Kami harus tetap optimis karena kelanjutan pembangunan infrastruktur masih jadi prirotas lima tahun mendatang, itu akan cukup mengerek sektor transportasi nasional," ujarnya.

Baca juga : Efisiensi Jadi Pekerjaan Rumah untuk Sektor Transportasi RI

Selain itu, lanjut dia, tantangan lain yang masih dihadapi sektor transportasi ialah masalah efisiensi serta beban biaya logistik yang dinilai masih tinggi. Faktanya, beban logistik berada di 24 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) dan harus menjadi perhatian.

"Pastinya akan berdampak pada daya saing kinerja kita. Untuk itu perbaikan kinerja logistik nasional tidak bisa hanya melihat kesuksesan negara lain tapi harus mencari solusi dan berbenah dengan mengikuti perkembangan teknologi. Ini tidak lepas dari kinerja kita yang menginginkan logistik lebih efisien," pungkasnya.

Biaya Logistik Indonesia Termahal di Asia

Sejauh ini Indonesia menjadi negara di kawasan Asia dengan biaya logistik termahal saat ini. Angkanya mencapai sekitar 24 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). 

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengakui atas fakta tersebut. Bahkan Indonesia menanggung beban biaya logistik paling besar dibandingkan negara Asia lainnya.

Di antaranya Vietnam 20 persen, Thailand 15 persen, Malaysia 13 persen, dan serta Jepang dan Singapura maaing-masing sebesar 8 persen. 

"Biaya logistik juga masih tinggi yakni terhadap PDB sebesar 24 persen, maka susah untuk investasi baru (bagi investor) di Indonesia," kata Bambang pada Opening Ceremony Indonesia Transport Supply Chain & Logistics, di Jiexpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (16/10/2019).

Bambang menuturkan, tingginya biaya logistik membuat para investor enggan menanamkan modal atau berinvestasi. Sehingga kondisi ini juga berdampak pada daya saing Indonesia atau turun.

"Karena biaya logsitik tinggi, pendapatan investor harus berkorban (menyusut)maka dia akan pindah ke negara lain. Maka biaya logsitik Indonesia harus dipangkas," tuturnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Transportasi, Carmelita Hartoto mengatakan, tantangan usaha sektor transportasi di Indonesia akan semakin berat dalam lima tahun mendatang.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku
Komentar


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X