Ada Resesi, Disrupsi, dan Ada Porsi Kesalahan Sendiri

Kompas.com - 21/10/2019, 06:00 WIB
Ilustrasi harga saham THINKSTOCKIlustrasi harga saham

Masalahnya, berita-berita tentang resesi bukan hanya mengganggu ekonomi, tetapi juga melunturkan semangat juang CEO dan jajaran manajemennya.

Sekitar 90 persen CEO terbukti mendapatkan pembenaran atas memburuknya kinerja mereka dari berita buruk tentang perekonomian. Hanya sekitar sepuluh persen lainnya yang memilih keluar dari paradigma itu dan mengambil cara yang berbeda sehingga 70 persen di antaranya berhasil.

Itulah yang disebut sebagai confirmation trap. Kita masuk ke dalam perangkap pembenaran, yaitu adanya informasi-informasi yang bisa membenarkan kesalahan sendiri. Sebab semua orang letih mempertahankan stamina untuk terus tumbuh. Maka ibarat akhir pekan, semua sepakat perlu hari leyeh-leyeh sejenak.

Baca juga : Rhenald Kasali: Disrupsi Teknologi Itu Pasti

Faktanya, di tengah-tengah resesi, sedang berlangsung sebuah proses perubahan besar yang meluluhlantakkan puluhan ribu jenis usaha yang tidak efisien.

Usaha-usaha yang terancam itu adalah usaha yang hidup dari peran brokerage yang memakan waktu yang panjang. Termasuk usaha-usaha yang menimbulkan persoalan consumer’s pain, dan membebankan biaya tinggi, serta menyandang fixed cost yang besar. Semua itu tergantikan oleh digital disruption sehingga mesin bisa menggantikan manusia dan peta pasar berubah.

Padahal solusi bagi resesi bukan semata-mata suntikan moneter dan fiskal, juga bukan membuat harga saham naik. Melainkan penciptaan pekerjaan atau lapangan-lapangan kerja baru.

Secara sederhana, resesi menimbulkan income effect, sedangkan disrupsi menimbulkan substitution effect. Yang pertama, bukan pekerjaan CEO untuk mengatasinya, tetapi yang kedua, iya.

Porsi Kesalahan Sendiri

Selain disrupsi dan resesi, kemunduran usaha juga disebabkan oleh kesalahan pengusaha sendiri. Terlalu naif bila kita selalu menyalahkan keadaan dan kemunduran yang kita alami.

Usia pengusaha yang semakin tua, inovasi yang berhenti, ketiadaan penerus atau tim manajemen yang handal, kesalahan dalam mengembangkan produk, terlalu nyaman dengan pertumbuhan yang dinikmati selama bertahun-tahun, adanya regulasi yang melenakan, bisnis model yang tak lagi sesuai, beban biaya yang terlalu besar, dan lain sebagainya sangat mungkin dialami oleh pengusaha.

Bahkan pada masa-masa yang sulit seperti ini, dibutuhkan energi muda yang sangat kuat. Saat ini kehadiran lawan-lawan baru tak lagi kasat mata seperti di masa-masa lalu. Inilah masa ketika “the main is no longer the main.” Segala yang telah menjadi sumber pendapatan utama di masa lalu, karena satu dan lain hal, kini sudah tak bisa lagi dijadikan andalan.

Perubahan terjadi sangat mendasar dan kita tak bisa mengatasi masalah baru dengan solusi kemarin. Perbuatan sia-sia itu hanyalah menghabiskan energi saja dan berakhir dengan kekecewaan.

Ada masanya kita harus melakukan log in, tetapi juga ada masanya harus memilih log out. Yang menjadi persoalan, banyak pengusaha yang memilih log in saat harus melakukan log out.

Kini saatnya melakukan introspeksi dan kalau ada yang harus disalahkan, maka ingatlah selalu ada porsi kita yang dominan.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X