OJK: Pindah Ibu Kota Negara Bisa Buat Sebaran Investor Lebih Merata

Kompas.com - 26/10/2019, 19:02 WIB
Dewan Komisioner Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen di Jakarta, Kamis (9/5/2019). KOMPAS.com/AKHDI MARTIN PRATAMADewan Komisioner Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen di Jakarta, Kamis (9/5/2019).
Penulis Mutia Fauzia
|

LOMBOK, KOMPAS.com - Data Kustodian Sentral Efek Indonesia per 23 Agustus 2019, sebagian besar investor pasar modal terkonsentrasi di Pulau Jawa. Rasio investor pasar modal yang berasal di Pulau Jawa bahkan mencapai 72,2 persen.

Namun demikian, pihak Otoritas Jasa Keuangan ( OJK) mengatakan, rencana pemindahan ibukota negara ke Kalimantan bisa membuat sebaran investor ritel lebih merata.

"Mudah-mudahan kalau nanti pemerintah pindah ibu kota ke Kalimantan berarti akan ada titik pertumbuhan ekonomi baru dan penyebaran ke orang-orang kaya baru, ini bisa lebih merata investornya," kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen di Lombok, Jumat (25/10/2019).

Baca juga: OJK: Pasar Modal RI Dicemburui Negara Tetangga

Adapun setelah Jawa, Sumatera menjadi pulau berikutnya dengan persentase investor terbesar, angkanya sebesar 15,01 persen, dan Pulau Kalimantan sebesar 4,9 persen, sementara sisanya tersebar di Indonesia bagian timur.

Dari total rasio persentase sebesar 72,20 persen tersebut, Pulau Jawa menggengam total aset Rp 2.385 triliun, setara dengan 95,55 persen dari total aset nasional. Kemudian yang kedua dipegang oleh Sumatera dengan total aset senilai Rp 32,89 triliun. Sisanya tersebar di wilayah Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Indonesia bagian timur.

Untuk mengurangi ketimpangan sebaran investor tersebut, saat ini OJK terus menggenjot pembentukan perusahaan efek di daerah- daerah untuk meningkatkan jumlah investor.

Baca juga: Ekonomi Dunia Melemah, Bagaimana Proyeksi Pertumbuhan Pasar Modal Tahun Depan?

Hoesen juga berharap pembangunan di titik-titik ekonomi baru di berbagai daerah lewat pembangunan infrastruktur selama lima tahun terakhir bisa ikut mendorong pemerataan. Dengan adanya pembangunan itu, diharapkan muncul pusat perekonomian baru sehingga memunculkaan adanya potensi investor baru.

"Harapan saya sampai 2022 itu komposisinya 72 persen yang ada di Pulau Jawa turun, menjadi berkisar 60-65 persen, sisanya berada di luar Pulau Jawa," kata Hoesen.

Baca juga: Promo Diskon Super Indo Akhir Pekan Ini, Yuk Cek Harganya

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X