BrandzView
Konten ini merupakan kerjasama Kompas.com dengan Facebook

Berawal dari Kegemaran Belanja Tas "Branded", Maya Kini Punya Bisnis Beromzet 3M

Kompas.com - 28/10/2019, 16:55 WIB
Maya, founder Banananina saat Kompas.com temui di toko offline Banananina di Menteng Central, Jakarta Pusat Kamis (10/10/2019). MICO DESRIANTO/Kompas.comMaya, founder Banananina saat Kompas.com temui di toko offline Banananina di Menteng Central, Jakarta Pusat Kamis (10/10/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com – Kegiatan belanja wanita acapkali dikonotasikan negatif oleh sebagian orang karena dinilai hanya menghambur-hamburkan uang saja.

Namun tidak bagi Maya (39), melalui ide miliknya, kegiatan tersebut mampu melahirkan bisnis beromzet Rp 3 miliar setahun.

Bisnis tersebut dinamainya Banananina, e-commerce yang menjual ragam kebutuhan fesyen yang mayoritas untuk wanita.

Saat ditemui Kompas.com, Kamis (10/10/2019), Maya menceritakan perjalanan bisnisnya.

“Awalnya gemar beli tas bermerek terkenal (branded), lalu pada 2007 saya melihat banyak sekali tas tak terpakai di lemari, jadi saya berpikir untuk dijual sebagian di sosial media, ternyata responsnya bagus,” kisahnya.

Dari situlah, Maya mencoba untuk menekuni binis secara serius.

Keluar dari pekerjaan

Dua tahun berselang, yaitu tepatnya pada 2009, ia kemudian memutuskan untuk resign dari pekerjaannya sebagai staff ekspor impor pada salah satu perusahaan Jepang demi beralih dan fokus menjadi wirausaha.

Kala itu, modal awal yang dipegang Maya Rp 50 juta. Ia pun mulai mengisi stok dengan membeli barang-barang fesyen wanita dari luar negeri untuk kemudian dijual kembali.

Perlahan tapi pasti, usaha Maya terus mengalami peningkatan.

“Konsumen saya itu wanita umur 25 sampai 35 tahun,” ujar Maya.

Puncaknya pada 2012, Maya dan suami membuat web resmi demi mengakomodasi rasa penasaran konsumen mengenai info detil produk yang mereka jual.

Tak terasa, beberapa tahun berlalu. Kini, Maya telah mempekerjakan lebih dari 50 orang.

Ia juga sudah memiliki sebuah toko offline yang berlokasi di Menteng Central, Jakarta Pusat.

“Toko offline ditujukan bagi konsumen yang ingin melihat langsung secara fisik barang yang diinginkan,” sambung Maya.

Pantauan Kompas.com, toko offline Banananina terlihat mewah dengan warna interior mayoritas emas, tas-tas branded berjejer hampir di segala sisi toko.

Tak hanya tas, pernak-pernik fesyen pendukung seperti jam tangan, jaket, topi dan sebagainya juga terpajang di sini.

Sempat rugi puluhan juta

Bukan berbisnis namanya jika tidak mengalami jatuh bangun.

Maya bercerita, membangun usaha sampai seperti sekarang ini harus ditempuh dengan perjuangan.

Terlebih segmen yang ditekuninya adalah barang-barang dari luar negeri. Di sini, terang Maya, pengalaman dan kepercayaan sangat dibutuhkan untuk kelancaran berbisnis.

“Pernah kami pesan barang hingga puluhan juta, namun setelah ditunggu-tunggu barangnya tak kunjung sampai,” papar Maya.

Tak cukup sampai di situ, tak jarang dirinya juga menemukan kondisi barang yang tak sesuai dengan pesanan.

Maya menceritakan, membangun bisnis Banananina menjadi seperti sekarang dibutuhkan perjuangan yang sangat keras.MICO DESRIANTO/Kompas.com Maya menceritakan, membangun bisnis Banananina menjadi seperti sekarang dibutuhkan perjuangan yang sangat keras.
“Cukup sering menemukan barang cacat dari pabrik,” terang Maya.

Namun karena memang dasarnya sudah hobi melihat barang-barang branded, bukannya kapok, Maya terus belajar dari kesalahan.

Kepercayaan konsumen adalah kunci

Sadar jenis usahanya merupakan pasar segmented, Maya mengaku terus berupaya memenuhi ekspektasi tinggi dari konsumen.

“Sebab dengan harga yang tak murah, wajar saja mereka berharap lebih,” ucap Maya.

Untuk itu, Maya punya cara tersendiri agar terus menjaga reputasi baik Banananina di mata konsumen setianya.

Misalnya, ia menyediakan customer service yang didesain responsif menerima pesan dari konsumen.

Customer service tersebut bertugas menerima pesan dari seluruh media yang dimiliki Banananina, antara lain sosial media, website, atau telepon.

“Pesannya bisa keluhan, atau sekedar bertanya info produk yang mereka inginkan,” jelas Maya.

Tak hanya itu, di Bananina juga terdapat tim kurator yang bertugas memeriksa keaslian barang atau sekadar mengecek apakah barang tersebut terdapat cacat fisik sebelum dikirim ke konsumen.

“Kami sangat cepat tanggap, jika konsumen menemukan barang yang tak sesuai, segera kami tangani,” ujar Maya.

Manfaatkan sosial media

Selain menjaga kepercayaan konsumen, Maya menjelaskan kesuksesan Banananina tak lepas dari peran sosial media.

Sejak awal mula merintis usaha, ia bersama sang suami sudah sadar potensi sosial media untuk keberlangsungan Banananina.

Atas dasar itulah, Banananina secara berkala terus menerus melakukan iklan di sosial media seperti Facebook dan Instagram untuk melakukan promosi.

Agar iklan dapat berjalan efektif, Maya mengaku telah memproduksi gambar semenarik mungkin serta merangkai caption yang unik.

“Karena content is the king,” kata Maya.

Meski begitu, beriklan di sosial media seperti Facebook rupanya tidak semudah yang dikira.

Setelah belajar dari pengalaman, Maya akhirnya menemukan cara yang tepat untuk mempromosikan Banananina di sosial media.

Campaign Budget Optimization

Campaign Budget Optimization (CBO), tools Facebook yang digunakan Maya saat beriklan untuk Banananina.

Melalui CBO, Maya tak perlu lagi ribet memikirkan mau dialokasikan kemana dana iklan karena secara otomatis Facebook akan memilih jenis ad sets yang tepat untuk produk Banananina.

“Saya cukup menentukan dana pada tataran campaign, kemudian algoritma Facebook yang akan menentukan atau mengalokasikan ad sets mana yang bekerja paling optimal dan menghasilkan hasil maksimal,” terang Maya.

Melalui iklan di sosial media, perlahan tapi pasti semakin banyak orang mengetahui Banananina.

Bahkan, tak sedikit di antaranya kemudian menjadi pelanggan setia.

Saat ini tercatat, pengikut Banananina di Instagram mencapai 230.000 lebih akun dan Facebook mencapai 812.000 lebih akun.

“Itu semuanya organik loh,” ujarnya.

Ke depan, Maya bercita-cita Banananina naik level karena dapat menjual produk-produk dengan kategori grade A.

“Inginnya ke sana, sekarang kami sedang melakukan pendekatan kepada merek-merek tas ternama untuk mau menjadikan Banananina sebagai penjual resmi produk mereka di Indonesia,” sambung Maya.

Terakhir, Maya pun tak luput memberikan pesan kepada pengusaha yang baru menjalani bisnis agar bisa berkembang.

“Memulai usaha tanpa melakukan upaya promosi (iklan), jangan harap apa yang dijual bisa dikenal oleh konsumen,” kata Maya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya