Game MOBA Lokal Rilis Awal 2020, Ada Karakter Gajah Mada Dkk

Kompas.com - 04/11/2019, 16:10 WIB
Ilustrasi bermain game shutterstockIlustrasi bermain game
Penulis Kiki Safitri
|

JAKARTA, KOMPAS.com – Game Multiplayer Online Battle Arena (MOBA) pertama di Asia Tenggara akan rilis pada awal 2020. Game bentuk e-Sport ini tak lain adalah kreasi anak bangsa dengan nama Loka Pala dengan nilai investasi 1 juta dollar AS.

Loka Pala merupakan game lokal yang menggunakan karakter-karakter tokoh di masa lampau seperti Gajah Mada, Dwarapala, Ratu Pandharmaan dan banyak lagi. Loka Pala ditargetkan akan terus berinovasi baik dalam karakter hero, musik, skin bahkan ditargetkan bisa mengikuti turnamen yang menghasilkan seperti game Dota 2, Mobile Legend atau PUBG.

“Tampilannya memang dibuat berbeda karena memang ada ragam Indonesia-nya, di mana ada 16 karakter yang sudah selesai dan kalau namanya MOBA pasti karakternya terus bertambah,” ungkap Chris Lie salah satu pembuat karakter dari Caravan Studio di Jakarta Convention Center, Minggu (3/11/2019).

Baca juga: Intip Cara Investasi Orang-orang Terkaya Dunia

Diana Paskarina selaku Chief Operating Officer (COO) game Loka Pala dari Anantarupa Studios menyebutkan bahwa anggaran dalam pembuatan game Loka Pala ini cukup minim karena sulitnya mencari investor.

“Game (Loka Pala) ini anggarannya cukup besar bisa minimal 1 juta dollar AS. Kalau kami kan budget-nya ya memang tidak bisa dibandingkan dengan luar negeri. Karena kami memang funding dan cari sendiri,” kata Diana.

Diana menargetkan selama jenjang lima tahun peluncuran Loka Pala mampu menyumbang sedikitnya 5 persen pendapatan negara dari industri kreatif game lokal. Saat ini Diana menyebutkan bahwa game lokal hanya menyumbang pendapatan negara di angka 0,2 persen.

Meskipun tertinggal jauh dari game-game luar negeri yang membanjiri pasar lokal, ia optimis game lokal bisa berinovasi dan sejajar dengan game MOBA luar negeri.

Baca juga: Menggali Potensi Industri Game Bagi Ekonomi Indonesia

“Lima persen itu adalah target perkembangan industri kreatif (game) di Indonesia, karena kan untuk game ini hanya menyumbang 0,2 persen dari 1 miliar dollar AS. Gimana caranya kami bisa naik dari 0,2 persen ke 5 persen. Tentunya walau confident, kami itu posisinya sudah di belakang, yang penting kami berjuang bukan cuma diam saja,” ungkapnya.

Namun, tidak menutup kemungkinan untuk mengejar ketertinggalan Indonesia di industri kreatif game, jika pemerintah concern untuk ikut terlibat dalam meningkatkan daya saing game lokal.

“Kalau ada support dari beberapa pihak, seperti pemerintah pasti bisa. Lima persen (sumbangan dari penerimaan negara) itu memang besar secara angka tapi kalau secara progres itu kan hanya 5 persen (kecil). Tapi kalau dari 0,2 persen ke 5 persen itu sudah pencapaian yang membanggakan,” jelas Diana.

Baca juga: Ini yang Bisa Dilakukan Pengembang Game agar Raih Keuntungan Jangka Panjang

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X