Wamenkeu Sebut Pertumbuhan Ekonomi RI 5,02 Persen Bukan Angka Rendah

Kompas.com - 06/11/2019, 14:34 WIB
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara saat diperkenalkan Presiden RI, Joko Widodo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (25/10/2019). Joko Widodo melantik 12 orang wakil menteri Kabinet Indonesia Maju. KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMOWakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara saat diperkenalkan Presiden RI, Joko Widodo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (25/10/2019). Joko Widodo melantik 12 orang wakil menteri Kabinet Indonesia Maju.

JAKARTA, KOMPAS.com - Perang dagang antar kedua negara maju, Amerika Serikat (AS) dan China jelas memberikan dampak negatif terhadap perekonomian dunia.

Apalagi prediksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini diproyeksi berada di angka 3 persen. Setelah beberapa kali sempat terkoreksi proyeksinya.

Pertumbuhan ekonomi di Indonesia pun juga ikut terkena imbasnya dari kondisi perang dagang. Seperti dilaporkan oleh Badan Pusat Statistik ( BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2019 berada di 5,02 persen.

Bagi Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara, angka tersebut masih dianggap tinggi dibanding negara-negara lain.

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi 5,02 Persen di Kuartal III-2019, Ini Penyebabnya

"Pertumbuhan di tingkat 5,02 persen, itu bukan pertumbuhan yang rendah. Ini adalah pertumbuhan yang seharusnya masih bisa memberikan optimisme yang baik. Banyak negara lain yang penurunan pertumbuhan ekonominya itu jauh lebih steep dari Indonesia," ujarnya dalam sambutan event Indonesia Banking Expo (IBEX) 2019, Jakarta, Rabu (6/11/2019).

Dia memberi contoh, China yang selama ini pertumbuhan ekonominya selalu di atas 10 persen justru anjlok akibat perseteruannya terhadap AS.

"Dan di levelnya, beberapa negara lain seperti Tiongkok sekarang di level 6, turunnya itu dari dua atau tiga tahun yang lalu, turun beberapa basis point. Yang kita tahu, Tiongkok itu biasa double digit, sekarang turunnya ke level 6," katanya.

Meski, angka pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih rendah dari kuartal sebelumnya sebesar 5,05 persen namun pemerintah berupaya mempertahankan angka tersebut.

Karena beberapa tahun terakhir, Indonesia selalu berhasil mempertahankan diangka 5 persen.

Baca juga: Lembaga Riset AS Ragukan Data Pertumbuhan Ekonomi RI, Ini Jawaban BPS

"Khusus Indonesia, pertumbuhannya saya pastikan tetap steady di lima persen. Dan akan kita jaga momentumnya agar tetap sustainable dan ditingkatkan," ujarnya.

Sebelumnya, Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, pertumbuhan yang melambat dipengaruhi oleh perekonomian yang diliputi ketidakpastian sehingga berdampak pada ekonomi kawasan, baik di negara maju maupun berkembang.

Kendati demikian, pertumbuhan ini lebih baik ketimbang negara-negara lainnya yang penurunannya sudah terlalu curam. Sebut saja China dari 6,5 persen menjadi 6 persen (yoy), AS dari 3,1 persen menjadi 2 persen (yoy), dan Singapura dari 2,6 persen menjadi 0,1 persen (yoy).

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X