Boeing Bakal Temui Lion Air

Kompas.com - 06/11/2019, 20:32 WIB
Pendiri Lion Air, Rusdi Kirana (kedua dari kiri) dan Executive Vice President, Boeing President and CEO, Boeing Commercial Airplanes, Stanley A Deal terlihat di Dermaga JICT 2, Tanjung Priok, Jakarta, usai tabur bunga keluarga korban kecelakaan jatuhnya pesawat Lion Air JT 610, Selasa (29/10/2019). Tabur bunga di perairan Karawang untuk memperingati satu tahun kecelakaan pesawat Lion Air JT 610 rute Jakarta - Pangkal Pinang. KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMOPendiri Lion Air, Rusdi Kirana (kedua dari kiri) dan Executive Vice President, Boeing President and CEO, Boeing Commercial Airplanes, Stanley A Deal terlihat di Dermaga JICT 2, Tanjung Priok, Jakarta, usai tabur bunga keluarga korban kecelakaan jatuhnya pesawat Lion Air JT 610, Selasa (29/10/2019). Tabur bunga di perairan Karawang untuk memperingati satu tahun kecelakaan pesawat Lion Air JT 610 rute Jakarta - Pangkal Pinang.

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Perdagangan Amerika Serikat Wilbur Ross mengatakan, pihak Boeing bakal menyambangi Indonesia untuk menyelesaikan kasus kecelakaan pesawat Lion Air JT310 dengan tipe pesawat Boeing 737 Max yang jatuh di perairan Kerawang Oktober tahun lalu.

Ketika ditemui di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Ross mengatakan pihak Boeing akan bertemu dengan Lion Air dalam waktu dekat.

"Boeing telah menunjukkan kesediaan untuk berkomitmen lebih dan berbicara dengan Lion Air. Mereka juga mengungkapkan permintaan maaf kepada keluarga korban atas apa yang terjadi," ujar dia di Jakarta, Rabu (6/11/2019).

Baca juga: Boeing Dituduh Pentingkan Untung Ketimbang Keselamatan

Ross mengatakan, Boeing pun menjadi bagian dari delegasi AS yang kali ini bertandang ke Indonesia. Kedatangan delegasi AS tersebut untuk membahas mengenai komitmen hubungan perdagangan antara kedua negara.

Kini, Boeing tengah bersiap membayar kompensasi pelanggan maupun keluarga korban kecelakaan yang mencapai 5 miliar dollar AS.

Dalam pertemuan tersebut, Ross juga mengatakan tak hanya perkara kerjasama dan investasi saja, kedua negara juga membahas tentang isu-isu sensitif lainnya.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan, di dalam pertemuan tersebut Indonesia meminta pihak AS untuk kembali memasukkan RI ke dalam daftar negara yang diberi fasilitas Generalized System of Preferences ( GSP) yang sejak 27 April 2018 lalu tengah ditijau ulang.

Adapun GSP adalah sebuah sistem tarif preferensial yang membolehkan satu negara secara resmi memberikan pengecualian terhadap aturan umum Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

"(Yang dibicarakan) antara lain harapan terkait engineering company yang akan melakukan kegiatan di Indonesia dan terkait finalisasi review GSP yang diharapkan segera dilakukan. Dan Indonesia mengatakan akan segera kirim tim di bawah Kemendag (Kementerian Perdagangan)," ujar Airlangga.

Baca juga: Mendag AS Sambangi RI, Bahas Apa?

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X