Tak Hanya Jadi Konsumen, RI Berpeluang Jadi Produsen Industri Halal

Kompas.com - 06/11/2019, 21:00 WIB
Pembukaan Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (6/11/2019). KOMPAS.com/SAKINA RAKHMA DIAH SETIAWANPembukaan Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (6/11/2019).

SURABAYA, KOMPAS.com – Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Sebanyak 207 juta atau 87,2 persen penduduk Indonesia merupakan kaum muslim.

Dengan angka yang sangat besar tersebut, ada potensi ekonomi yang sangat menjanjikan. Ini terutama dalam industri halal.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo menjelaskan, ada 6 sektor unggulan industri halal Indonesia yang memiliki potensi yang besar, seperti industri makanan halal, pariwisata halal, mode muslim, industri kreatif, pertanian terintegrasi, dan energi terbarukan.

Namun demikian, kata Dody, kedudukan Indonesia saat ini masih terhitung sebagai konsumen utama produk halal dunia, seperti makanan busana, dan pariwisata halal.

Akan tetapi, bukan tidak mungkin Indonesia juga ke depan mampu menjadi produsen industri halal terkemuka dunia.

Baca juga: Genjot Ekonomi Syariah di Jatim, Ini yang Dilakukan Khofifah

“Kita cukup optimis, bahwa ke depan Indonesia dapat memainkan peran yang lebih besar sebagai produsen industri halal yang tidak hanya sanggup mencukupi kebutuhan di dalam negeri, namun juga bisa memenuhi pasar global,” jelas Dody dalam pembukaan Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (6/11/2019).

Doddy mengungkapkan, optimism tersebut semakin menguat, seiring penghargaan yang baru saja diterima oleh Indonesia dari Global Islamic Finance Report (GIFR) 2019, yang mendudukan Indonesia sebagai negara peringkat pertama di dunia dalam mengembangkan ekosistem keuangan syariah.

Peringkat Indonesia bahkan naik cukup signifikan dari tahun sebelumnya yang berada di peringkat ke-6.

Menurut dia, peluang untuk meningkatkan kredibilitas Indonesia di mata dunia tentunya masih terbuka lebar, untuk itu kuncinya adalah memastikan strategi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia tidak lagi terlaksana dalam ruang yang monoton dan hanya terjebak pada rutinitas.

“Tetapi juga mulai fokus kepada inovasi dan pencapaian kualitas yang lebih baik,” ujar Dody.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X