Dikelola Garuda, Utang Sriwijaya Turun dan Laba Melonjak 149 Persen

Kompas.com - 10/11/2019, 10:11 WIB
Pesawat Sriwijaya Air di Bandara Internasional Juanda, Surabaya, Senin (21/5/2018) KOMPAS.com/ KURNIASIH BUDIPesawat Sriwijaya Air di Bandara Internasional Juanda, Surabaya, Senin (21/5/2018)

JAKARTA, KOMPAS.com - Selama dikelola Garuda Indonesia, kinerja keuangan Sriwijaya Air membaik signifikan sepanjang semester I 2019.

Dari data yang diperoleh Kompas.com, hingga akhir Juni 2019 pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (Ebitda) Sriwijaya Air melonjak 149 persen menjadi Rp 235 miliar dari akhir 2018 yang mencatatkan rugi Rp 479 miliar.

Adapun pendapatan atau revenue Sriwijaya Air di akhir ssemester I 2019 naik 13,9 persen dari akhir 2018 menjadi sebesar Rp 5,9 triliun dari akhir Desember 2018 Rp 5,2 triliun. 

Sementara itu nilai utang Sriwijaya Air juga turun dari sebelumnya Rp 2,3 triliun menjadi Rp 1,9 triliun. 

Mantan Direktur Utama Sriwijaya Air Joseph Saul membenarkan bahwa selama Kerja Sama Manajemen (KSM) antara Garuda Indonesia-Sriwijaya Air, kinerja Sriwijaya mengalami perbaikan yang signifikan.

"Jadi tidak benar pernyataan bahwa Sriwijaya Air memburuk setelah dikelola Garuda Indonesia. Kami punya data semuanya bagaimana kinerjanya selama KSM," jelasnya kepada Kompas.com, Sabtu (9/11/2019).

Baca juga : Deadlock, Sriwijaya Ingin Hentikan Kerja Sama dengan Garuda Indonesia

Joseph juga mengungkapkan bahwa ontime performance (OTP) Sriwijaya Air juga turut membaik, dari sebelumnya di level 50 persen menjadi di level 80 persen.

"Arus kas juga menjadi positif. Cashflow 1 bulan ada sekitar Rp 250 miliar. Coba bandingkan dengan sebelum KSM," kata dia.

Hal ini diungkapkan oleh Joseph untuk menanggapi klaim dari pihak Sriwijaya bahwa keberadaan Garuda membuat maskapai swasta itu berada dalam kondisi sulit.

Sebagaimana diungkapkan oleh kuasa hukum Sriwijaya Air Yusril Ihza Mahendra, bahwa perawatan pesawat Sriwijaya Air yang ditangani oleh GMF AeroAsia memunculkan biaya yang jauh lebih mahal. Padahal sebelumnya, Sriwijaya kerap mengerjakan maintenance sendiri.

"Lalu, selama ini Sriwijaya punya asrama-asrama untuk menampung para kru pesawat. Sekarang dipindahkan ke hotel. Jadi hasilnya menjadi lebih mahal dibanding jika ditangani oleh Sriwijaya sendiri," sebut Yusril.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X