BPS: Pertumbuhan Ekonomi RI Mudah Tergelincir di Bawah 5 Persen

Kompas.com - 15/11/2019, 16:33 WIB
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto ketika memberi paparan kinerja ekspor impor di Jakarta, Jumat (15/11/2019). KOMPAS.COM/MUTIA FAUZIAKepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto ketika memberi paparan kinerja ekspor impor di Jakarta, Jumat (15/11/2019).
Penulis Mutia Fauzia
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Pusat Statistik ( BPS) bulan lalu baru saja merilis data pertumbuhan ekonomi kuartal III-2019 yang sebesar 5,02 persen. Angka tersembut melambat jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang sebesar 5,17 persen.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, Indonesia perlu mewaspadai kinerja perekonomian dalam beberapa waktu ke depan. Pasalnya, pencapaian pertumbuhan PDB yang sebesar 5,02 persen tersebut adalah yang terendah dalam dua tahun terakhir. Menurutnya sangat mungkin ekonomi Indonesia tumbuh di bawah 5 persen ke depannya.

"Kita memang harus ekstra hati-hati. Sangat mudah kita tergelincir di bawah 5 persen. Banyak hal perlu diperbaiki," ujar dia di kantor BPS, Jakarta, Jumat (15/11/2019).

Baca juga: Perlambatan Ekonomi Dunia Berimbas ke Pertumbuhan Ekonomi RI

Dia mengatakan, jika melihat kondisi perekonomian global saat ini, strategi RI untuk memacu ekspor belum bisa diandalkan.

Menurutnya, jauh lebih baik jika perbaikan kinerja perekonomian dilakukan dengan memperkuat potensi perekonomian domestik.

"Kalau memerhatikan ekonomi global, kalau kita mau memacu ekspor nampaknya berat," kata dia.

BPS pun baru saja melaporkan hasil kinerja neraca perdagangan Indonesia yang cenderung stagnan. Neraca perdagangan pada Oktober mengalami surplus sebesar 161,3 juta dollar AS. Adapun bulan lalu, BPS mencatatkan kinerja neraca perdagangan mengalami defisit sebesar 163,9 juta dollar AS.

Baca juga: Leonardo DiCaprio Bakal Jadi Duta Pariwisata Labuan Bajo?

Suhariyanto memaparkan surplusnya neraca perdagangan bukan karena pertumbuhan ekspor, namun lebih disebabkan impor yang cenderung turun tajam yaitu mencapai 16,49 persen jika dibandingkan dengan Oktober 2018 secara tahunan. Sedangkan nilai ekspor juga mengalami penurunan sebesar 6,13 persen secara tahunan.

Suhariyanto pun memaparkan, upaya pemerintah untuk memerbaiki kinerja perekonomian dengan memperkuat ekspor dengan perbaikan perjanjian bilateran dengan beberapa negara, mencoba menembus pasar-pasar non tradisional, dan memerkuat manufaktur tidak bisa berdampak seketika.

"Di sisi lain kita harus menjaga supaya stabilisasi harga-harga betul-betul terjaga," jelas dia.

Baca juga: Luhut soal Pembangunan Ibu Kota Baru: Akhir Tahun Depan atau Awal 2021

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X