Perajin Batik Lokal Kian Tergerus Batik Impor

Kompas.com - 17/11/2019, 08:54 WIB
Perajin batik tulis di sanggar batik Katura, Desa Trusmi, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Rabu (25/9/2013). Lama pembuatan batik sekitar 100 hari dengan harga jual batik tulis halus berkisar Rp 3 juta hingga Rp 15 juta.  KOMPAS/AGUS SUSANTOPerajin batik tulis di sanggar batik Katura, Desa Trusmi, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Rabu (25/9/2013). Lama pembuatan batik sekitar 100 hari dengan harga jual batik tulis halus berkisar Rp 3 juta hingga Rp 15 juta.

JAKARTA, KOMPAS.com – Di Indonesia ada banyak Usaha Mikro Kecil dan Menengah ( UMKM) yang potensial mampu untuk berkembang di pasar domestik.

Namun saat ini, ragam produk impor yang membanjiri Indonesia membuat beberapa produk lokal menjadi lesu.

Direktur Eksekutif Indef Enny Sri Hartati mencontohkan, batik merupakan salah satu produk UMKM yang tergerus oleh munculnya batik impor. Hal ini mengingat batik impor memiliki harga yang cenderung lebih murah dengan kualitas yang tak jauh berbeda daripada batik kreasi lokal.

“Memang ada beberapa industri yang sekarang memiliki persoalan cukup akut seperti batik yang mostly impor dan batik impor itu hasil mesin yang tidak mampu menyaingi punya lokal. Karena secara cost, itu jauh sekali bedanya," kata Enny kepada Kompas.com, Jumat (15/11/2019).

Baca juga: Kemenperin Dorong Industri Tenun dan Batik Genjot Daya Saing

"Padahal sekilas mata, modelnya sama. Jadi kalau kita enggak bisa optimalisasi sektor hulunya, sudah pasti garmen dan tekstil kita bisa kalah saing,” imbuhnya.

Enny menjelaskan, kalau dari sektor potensial industri yang tidak rentan terhadap gejolak adalah produk yang unik. Di Indonesia yang cukup besar adalah yang berbasis kreatifitas dan budaya.

Akan tetapi, kendala yang muncul adalah sisi produksi dan pemasaran yang kurang difasilitasi.

“Yang menjadi persoalan adalah batik terkendala dari sisi produksi dan pemasaran. Intinya kalau ini bisa difasilitasi, maka enggak hanya mereka yang mampu bersaing dalam negeri tapi juga mereka bisa menjadi komoditas ekspor,” jelas Enny.

Baca juga: Tembus Jepang dan Eropa, Ekspor Batik Lampau 58 Juta Dollar AS

Selain batik, industri lokal yang tumbuh di Indonesia adalah di sektor makanan dan minuman (mamin). Sayangnya sejauh ini bahan baku industri mamin masih menggunakan bahan baku impor.

“Kalau industri yang tumbuh itu makanan dan minuman sebesar 8 persen sedangkan yang lainnya hanya 4 persen. Permasalahannya industri makanan juga bahan bakunya impor,” jelas Enny.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X