BrandzView
Konten ini merupakan kerjasama Kompas.com dengan Sampoerna Retail Community

Membaca Kembali Kisah Perjalanan Toko Kelontong di Indonesia

Kompas.com - 17/11/2019, 18:36 WIB
Geliat perekonomian toko kelontong di kota Pekalongan. Dok. Shutterstock/Maharani AfifahGeliat perekonomian toko kelontong di kota Pekalongan.

KOMPAS.com - “Ardi, tolongin ibu sebentar, beliin satu bungkus kecil garam sama telur setengah kilo ke warung depan ya.”

Momen ini tentunya sangat familiar saat masa kecil hingga menjelang remaja kita. Saat itu, entah kita sedang asyik membaca komik di kamar ataupun menonton program televisi favorit di ruang tengah, dengan segera kita merespons panggilan sang ibu.

Kita pun menyambanginya, meraih lembaran-lembaran uang dari tangannya. Bahkan, yang diberi uang biasanya sedikit merengek untuk minta dilebihkan semata-mata agar bisa membeli jajanan di warung.

Tak hanya dekat secara jarak, kedekatan relasi dengan pemilik toko kelontong juga menjadi salah satu faktor kenyamanan berbelanja kala itu. Suatu pengalaman yang tidak kita bisa dapatkan saat berbelanja di minimarket atau swalayan.

Kelengkapannya pun, jangan ditanya. Toko kelontong menyediakan berbagai kebutuhan rumah tangga yang relatif lengkap. Mulai dari beras, bumbu dapur, alat-alat mandi, pembersih rumah, dan lain sebagainya.

Menengok sejarahnya, toko kelontong di Indonesia sendiri bisa kita lacak ada di abad 19 silam.

Saat itu, kebutuhan-kebutuhan rumah tangga umumnya dijual para pedagang Tionghoa.
Mereka berkeliling menjajakan dagangannya menggunakan “kelontongan”, alat bunyi-bunyian seperti tambur kecil yang memiliki gagang dan tali di kedua sisinya. Setiap ujung tali terdapat biji-bijian yang akan menciptakan bunyi saat gagangnya digoyangkan.

Sekitar akhir abad 19, para pedagang ini berhenti berkeliling dan mulai menetap. Mereka mulai membuka toko di titik-titik strategis seperti persimpangan jalan ataupun dekat pemukiman warga.

Dengan adanya toko, barang yang dijajakan semakin lengkap. Sampai-sampai lumrah apabila toko kelontong menyediakan jasa kredit atau biasa disebut “mendreng”.

Memakai jasa itu, pelanggan dapat mengambil barang terlebih dulu atau berhutang sampai waktu tertentu. Adapun barang kebutuhan yang diambil itu, akan dicatat penjualnya.

Seiring berjalannya waktu, toko kelontong pun semakin menjamur. Pada setiap persimpangan, gang, dan pemukiman warga setidaknya terdapat satu toko kelontong.

Saat itu, selama puluhan tahun, toko kelontong berjaya dan menjadi pilihan utama masyarakat.

Kala badai menerpa

Teknologi berkembang seiring perubahan zaman dan merasuk hampir ke semua sektor kehidupan manusia. Mereka yang tidak siap untuk beradaptasi pun harus rela menelan pil pahit.

Toko kelontong pun sempat berada di fase terbawah karena minimnya digitalisasi, seperti penggunaan uang elektronik yang kini populer sebagai metode pembayaran.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo memaparkan terjadi lonjakan penggunaan uang elektronik sebagai alat transaksi sebesar 241,2 persen pada kuartal IV 2019.

“Pesatnya pertumbuhan penggunaan uang elektronik mengindikasikan preferensi masyarakat menggunakan uang digital terus meningkat,” ujarnya seperti diwartakan Kompas.com (23/08/2019).

Pesona toko kelontong yang sempat memudar di tengah serbuan peritel modern. Dok. Sampoerna Retail Community Pesona toko kelontong yang sempat memudar di tengah serbuan peritel modern.

Dilansir Kompas.com (8/11/2019), Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Teten Masduki pun mengatakan UKM harus segera masuk ke ranah digital agar dapat bersaing.

“Kita perlu mendigitalisasi UKM demi meningkatkan market yang lebih luas agar mereka dapat bersaing,” ujarnya.

Selain itu, toko kelontong yang mayoritas kondisi dan penampilannya kurang nyaman pun membuatnya semakin ditinggalkan banyak orang.

Hal-hal tersebut akhirnya menjadikan toko kelontong kesulitan untuk bersaing di era modern. Kondisi ini mengancam eksistensi toko kelontong dan peritel tradisional lain.

Jika tidak ada upaya untuk beradaptasi dan berbenah diri, perlahan mereka akan mati tergerus waktu.

Membangkitkan kejayaan toko kelontong

Toko kelontong pernah berjaya. Saat ini dan ke depan bukan tak mungkin toko-toko itu dapat bangkit kembali.

Hal itu yang kemudian diupayakan Sampoerna Retail Community ( SRC) sejak 2008.
Memulai kisahnya dengan 57 toko di Medan, saat ini SRC telah mendampingi lebih dari 110.000 toko kelontong di seluruh Indonesia.

SRC mendorong daya toko kelontong untuk mengembangkan rakyat langsung di akarnya. Dok. Sampoerna Retail Community SRC mendorong daya toko kelontong untuk mengembangkan rakyat langsung di akarnya.
Membawa visi “Jadi Lebih Baik”, SRC memberikan pendampingan bisnis yang berkelanjutan bagi para mitra toko kelontong.

Dengan begitu, toko kelontong diharapkan dapat meningkatkan daya saing mereka di tengah ketatnya persaingan pasar.

Bersama lebih dari 3.000 Paguyuban SRC, visi itu diwujudkan lewat partisipasi aktif di berbagai aktivitas sosial demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia.

Beragam inovasi pun dihadirkan untuk mendukung kemajuan mitra toko kelontong di tengah era digital seperti aplikasi AYO SRC dan Pojok Bayar.

AYO SRC sendiri merupakan sebuah aplikasi sekaligus gerakan sosial yang mengajak para pemilik toko kelontong untuk mengedepankan pelayanan terbaik pada seluruh pelanggannya.

Hadirnya layanan Pojok Bayar pun memberikan kemudahan bagi para pelanggan toko kelonton mitra dalam pembayaran berbagai tagihan rutin seperti pulsa, listrik, PDAM, dan lain sebagainya.

Tak berhenti dari sisi peritel saja, SRC pun mengajak masyarakat untuk membangkitkan kembali budaya berbelanja di toko kelontong terdekat lewat gerakan sosial bertajuk Berkah atau lengkapnya Berbelanja Dekat Rumah.

Hal itu didorong keyakinan SRC akan toko kelontong yang bukan sekadar tempat berbelanja. Lebih dari itu, toko kelontong adalah sebuah ruang interaksi.

Toko kelontong jadi wahana untuk merawat hubungan antar masyarakat yang perlahan tergerus arus teknologi.

Berbagai upaya untuk memajukan peritel tradisional dan UKM ini tak lain sebagai bentuk bentuk kontribusi SRC untuk mengembangkan ekonomi kerakyatan langsung dari akarnya.

Pada akhir November 2019, SRC akan menjelajah pesisir utara Jawa untuk menyambangi langsung para mitra toko kelontong.

Penjelajahan ini akan menyingkap kisah-kisah inspiratif dari pemberdayaan ekonomi kerakyatan melalui toko kelontong di Indonesia.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya