Bakal IPO, Valuasi Saham Saudi Aramco Diperkirakan Capai 1,71 Triliun Dollar AS

Kompas.com - 18/11/2019, 07:37 WIB
Tangki dan pipa minyak Aramco di kilang minyak Ras Tanura dan terminal minyak di Arab Saudi pada 21 Mei 2018. (REUTERS/Ahmed Jadallah) Ahmed JadallahTangki dan pipa minyak Aramco di kilang minyak Ras Tanura dan terminal minyak di Arab Saudi pada 21 Mei 2018. (REUTERS/Ahmed Jadallah)

NEW YORK, KOMPAS.com - Valuasi saham Saudi Aramco, perusahaan minyak BUMN Arab Saudi, diperkirakan mencapai 1,71 triliun dollar AS atau sekitar Rp
23.800 triliun (kurs Rp 14.000 per dollar AS) jelang penawaran saham perdana (IPO).

Dikutip dari CNBC, angka tersebut meleset dari target awal yang dibidik Putra Mahkota Mohammed bin Salman sebesar 2 triliun dollar AS.

Dalam sebuah keterangan pers, Saudi Aramco menyatakan bisa menjual 1,5 persen saham perusahaan, atau setara dengan 3 miliar lembar. Harga indikatif dari saham raksasa produsen minyak dunia tersebut di kisaran 30 hingga 32 riyal Saudi.

Dengan demikian, melalui IPO diperkirakan Aramco bisa meraup dana hingga 25,6 miliar dollar AS.

Baca juga: Segera IPO, Ini 6 Risiko yang Bakal Dihadapi Saudi Aramco

Angka itu menyiratkan bahwa Aramco memiliki valuasi saham antara 1,6 triliun dollar AS hingga 1,7 triliun dollar AS. IPO yang direncanakan bakal dilakukan bulan depan bisa mengalahkan rekor 25 miliar dollar AS yang dicetak oleh perusahaan e-commerce China Alibaba, ketika melantai di bursa New York pada 2014.

Sebagai informasi, wacana Aramco untuk melakukan IPO telah tertunda sejak 2018 lalu.

Analis pun memiliki perkiraan beragam mengenai valuasi saham perusahaan, yaitu di kisaran 1,2 triliun dollar AS hingga 2,3 trilium dollar AS.

Sebagai perbandingan, rival terdekat Aramco, Exxon Mobil, memiliki kapitalisasi pasar hampir 300 miliar dollar AS dan Chevron bernilai sekitar 229 miliar dollar AS.

Baca juga: Imbas Kilang Minyak Aramco Diserang, Harga Emas Dunia Melonjak

Melantainya Aramco di bursa bertujuan untuk mengumpulkan dana bagi pemerintah yang ingin secara signifikan mengurangi defisit anggarannya. Selain itu, pemerintah Arab juga tengah mendiversifikasi ekonominya di luar minyak sebagai bagian dari program Vision 2030 Putra Mahkota.

Perekonomian Arab Saudi sebagian besar masih sangat bergantung pada hasil produksi minyak. Harga minyak yang lebih rendah (satu barel minyak mentah Brent saat ini dihargai mendekati 63 dollar AS) telah membuat defisit anggaran negara melebar.

Pada tahun 2018, defisit anggaran pemerintah Saudi diperkirakan sekitar 136 miliar riyal (atau sekitar 36 miliar dollar AS).

Adapun tahun ini, pemerintah memasang target defisit dikisaran yang sama. Tahun depan, pemerintah Saudi memerkirakan defisit anggaran akan melebar jadi 50 miliar dollar AS.

Baca juga: Harga Minyak Melonjak akibat Kilang Aramco Diserang, Ini Kata Sri Mulyani



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X