Mempertimbangkan Kembali Pengembangan Bandara-bandara Baru

Kompas.com - 19/11/2019, 08:00 WIB
Suasana Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati yang lengang di Majalengka, Jawa Barat, Sabtu (15/6/2019). PT BIJB menyatakan pemindahan 12 rute penerbangan dari Bandara Internasional Husein Sastranegara Bandung ke Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) yang seharusnya pada tanggal 15 Juni 2019 dibatalkan karena adanya masalah administrasi. ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/pras. ANTARA FOTO/Dedhez AnggaraSuasana Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati yang lengang di Majalengka, Jawa Barat, Sabtu (15/6/2019). PT BIJB menyatakan pemindahan 12 rute penerbangan dari Bandara Internasional Husein Sastranegara Bandung ke Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) yang seharusnya pada tanggal 15 Juni 2019 dibatalkan karena adanya masalah administrasi. ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/pras.

Padahal, jarak ideal sebuah bandara komersial dengan bandara komersial lainnya adalah dua lingkaran ADC (Aerodrome Control) atau 2 x 30 NM (nautical mile) atau sekitar 108 kilometer.

Persoalan jarak ini masih ditambah dengan banyaknya obstacle di sekitar lokasi landasan udara Wirasaba.

Jika pengembangan bandara sangat diperlukan, pemerintah dapat memfokuskan pada beberapa bandara yang telah ada, misalnya Tunggul Wulung, Tasikmalaya, Pangandaran, BIJB, Penggung di Cirebon yang semuanya masih beroperasi secara komersial.

Ketiga, bandara baru di Samarinda. Jika dilihat dari kondisi faktual Bandara Samarinda lama dengan banyaknya obstacle, memang tepat jika dibangun bandara baru untuk menggantikan bandara lama tersebut.

Namun, jika dilihat dari keberadaan Bandara Sepinggan di Balikpapan, keberadaan bandara baru di Samarinda ini dapat memunculkan persaingan dan inefisiensi.

Ditambah lagi dengan rencana pembangunan ibu kota baru, akan semakin mengurangi kegiatan penerbangan di Samarinda, dengan perlunya peningkatan fasilitas dan lain-lain di Balikpapan sebagai bandara Ibu Kota yang baru.

Sementara itu, secara umum untuk konteks pengembangan bandara di kawasan Indonesia Timur, perlu pengkajian kembali. Beberapa bandara di Indonesia timur, khususnya Papua, Kalimantan Utara, Maluku, dan Sulawesi, di antaranya ada yang terkendala secara geografis, demografi dan cuaca sehingga pengembangan tidak efisien, tetapi merupakan pemborosan. Seyogianya untuk bandara tersebut dicarikan lokasi lain yang lebih ideal.

Pengembangan bandara, khususnya pembangunan bandara baru, harus melalui kajian yang matang. Melibatkan berbagai disiplin ilmu, masyarakat pemakai jasa, serta Kementerian Perhubungan sebagai regulator.

Personel profesional

 

Dalam hal ini pejabat Direktorat Jenderal Perhubungan Udara harus memiliki visi sebagai Aviation Personnel yang profesional sehingga benar-benar mengetahui apa yang diperlukan agar pembangunan atau pengembangan bandara sesuai dengan yang diharapkan. Untuk membangun sebuah bandara yang ideal, perlu memperhatikan beberapa kriteria, antara lain:

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X