Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2020 Diprediksi Melambat ke 5,1 Persen

Kompas.com - 20/11/2019, 12:32 WIB
Dialog CORE Economic Outlook dihadiri para pakar perekonomian yang berlangsung di Hotel Ashley, Jakarta, Rabu (20/11/2019) KOMPAS.com/ADE MIRANTI KARUNIA SARIDialog CORE Economic Outlook dihadiri para pakar perekonomian yang berlangsung di Hotel Ashley, Jakarta, Rabu (20/11/2019)

JAKARTA, KOMPAS.com - Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 akan kembali tumbuh pesimis. Lantaran, ketidakpastian perekonomian global diprediksi bakal berlanjut.

"Di tahun 2020, kita mempunyai pandangan yang potensi pertumbuhan ekonomi tahun depan antara 4,9 sampai 5,1 persen. Artinya, ini bisa kurang lebih sama atau bisa lebih rendah daripada tahun ini," ujar Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, dalam agenda CORE Economic Outlook, Jakarta, Rabu (20/11/2019).

Sebelumnya, CORE memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2019 lebih kecil dibanding tahun 2020, kisaran 3,1 hingga 5,2 persen.

"Kalau kita melihat range-nya 0,2 persen, ini agak kurang biasa. Karena itu CORE memasang pertumbuhan prediksi 0,1 persen seperti tahun lalu, kita prediksi 3,1-5,2 kemudian direvisi oleh pemerintah. Ini jadi 0,2 persen karena ketidakpastiannya tinggi sekali hingga rangenya juga melebar," jelasnya.

Baca juga : BPS: Pertumbuhan Ekonomi RI Mudah Tergelincir di Bawah 5 Persen

Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Cina memang jadi faktor utama yang membuat prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat. Diperkirakan, perang dagang antar-kedua negara ini terus berlanjut selama Presiden AS Donald Trump masih memimpin.

"Apa yang mempengaruhi? Kalau kita lihat dari sisi global kita melihat ada dua skenario. Pertama, dari prediksi yang paling mungkin adalah pertumbuhan ekonomi global meningkat tapi tertahan, perlambatan pertumbuhan ekonomi terjadi di AS dan Cina. Tapi, bisa jadi lebih positif kalau eskalasi perang dagang bisa jadi lebih negatif jika eskalasi perang dagang berlanjut dan ekonomi global melemah," paparnya.

Opsi lainnya, perekonomian bisa tumbuh melesat apabila Trump tidak terpilih lagi dalam pemilihan presiden yang berlangsung pada tahun 2020 mendatang. Namun, secara kans, vote untuk Donald Trump masih begitu besar.

Sisi lain, harga minyak mentah dunia juga melatarbelakangi ekonomi Indonesia tumbuh melambat.

"Bisa positif, bila Trump ini di tahun 2020 tidak terpilih, otomatis perang dagang tidak berlanjut. Tapi bisa berlanjut lagi, jika Trump terpilih. Dan harga minyak di baseline kita prediksikan melemah, tapi bisa juga meningkat ketika ada faktor geopolitik yang mempengaruhi secara tiba-tiba," katanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tak Jadi Hari Ini, Pengumuman Anggota BPA AJB Bumiputera Dilakukan Besok

Tak Jadi Hari Ini, Pengumuman Anggota BPA AJB Bumiputera Dilakukan Besok

Whats New
Pengusaha Genjot Produksi, Inflasi Diproyeksi Tak Meningkat Tinggi

Pengusaha Genjot Produksi, Inflasi Diproyeksi Tak Meningkat Tinggi

Whats New
Berapa Hadiah Uang yang Didapat Pemain India dari Thomas Cup?

Berapa Hadiah Uang yang Didapat Pemain India dari Thomas Cup?

Whats New
Menhub: Industri Penerbangan Indonesia Akan Kembali Bangkit dalam Waktu Dekat

Menhub: Industri Penerbangan Indonesia Akan Kembali Bangkit dalam Waktu Dekat

Whats New
Belajar dari Terra Luna, Investor Jangan Terlalu Bergantung kepada Kripto

Belajar dari Terra Luna, Investor Jangan Terlalu Bergantung kepada Kripto

Earn Smart
Ini Strategi Kemenperin untuk Mempercepat Implementasi Industri Hijau

Ini Strategi Kemenperin untuk Mempercepat Implementasi Industri Hijau

Whats New
Kemenhub Catat 2,15 Juta Pemudik Keluar dari Jabodetabek, Peningkatan Terbesar ke Arah Merak

Kemenhub Catat 2,15 Juta Pemudik Keluar dari Jabodetabek, Peningkatan Terbesar ke Arah Merak

Whats New
Soal WFA, Perusahaan E-commerce Ini Justru Sudah Menerapkannya Sejak Awal 2022

Soal WFA, Perusahaan E-commerce Ini Justru Sudah Menerapkannya Sejak Awal 2022

Whats New
IHSG Anjlok Pekan Lalu, Bagaimana Dampaknya ke Kinerja Reksa Dana?

IHSG Anjlok Pekan Lalu, Bagaimana Dampaknya ke Kinerja Reksa Dana?

Whats New
Menag Bantah Dana Haji Dimanfaatkan untuk Pembangunan IKN

Menag Bantah Dana Haji Dimanfaatkan untuk Pembangunan IKN

Whats New
Soal Investasi Kripto, Sandiaga Uno: Jangan Tergiur Keuntungan Saja, Bisa Jadi Ambyar

Soal Investasi Kripto, Sandiaga Uno: Jangan Tergiur Keuntungan Saja, Bisa Jadi Ambyar

Whats New
Jasa Raharja Serahkan Santunan Korban Kecelakaan di Tol Mojokerto

Jasa Raharja Serahkan Santunan Korban Kecelakaan di Tol Mojokerto

Whats New
Stafsus Bantah Erick Thohir Kampanye Saat Turun ke Lapangan

Stafsus Bantah Erick Thohir Kampanye Saat Turun ke Lapangan

Whats New
Lion Parcel Ungkap Tantangan Industri Logistik Selama Pandemi Covid-19

Lion Parcel Ungkap Tantangan Industri Logistik Selama Pandemi Covid-19

Whats New
Cara Buka Rekening Mandiri Online lewat HP Tanpa ke Bank

Cara Buka Rekening Mandiri Online lewat HP Tanpa ke Bank

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.