Pelaku Pasar Tunggu Gebrakan Kabinet Jokowi-Ma'ruf Amin

Kompas.com - 21/11/2019, 16:31 WIB
Kolase foto memperlihatkan susunan menteri Kabinet Indonesia Maju, saat diumumkan dan diperkenalkan oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Rabu (23/10/2019). KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMO - DINO OKTAVIANOKolase foto memperlihatkan susunan menteri Kabinet Indonesia Maju, saat diumumkan dan diperkenalkan oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Rabu (23/10/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Sudah sebulan berlalu sejak terbentuknya susunan kabinet Indonesia Maju.

Meskipun pasar merespon hasil pengumuman dengan cukup positif, namun hal ini belum bisa dijadikan dasar untuk menarik kesimpulan konkret jangka panjang.

Pelaku pasar masih terus memperhatikan dan menantikan gebrakan yang diharapkan mampu menstabilkan ekonomi serta sentimen investor,” ujar Bharat Joshi, Asian Equities Investment Director, Aberdeen Standard Investments Indonesia dalam keterangannya, Kamis (21/11/2019).

Dalam menghadapi resesi ekonomi, Presiden Joko Widodo telah menerapkan langkah pertamanya dengan pembentukan tim ekonomi saat ini dalam Kabinet Indonesia Maju.

Keputusan tersebut cukup menuai beragam komentar, sebab beberapa menteri terpilih dianggap kurang memiliki rekam jejak yang sesuai.

Baca juga: Sebulan Bekerja, Ini Kesan Sri Mulyani terhadap Kabinet Indonesia Maju

“Ada sosok-sosok yang saat ini duduk di kabinet yang memberikan keyakinan kepada investor jangka panjang (termasuk kami) bahwa disiplin fiskal akan dipertahankan dan pemerintah akan terus mendorong reformasi fiskal yang lebih dalam. Sikap keras terhadap korupsi dan penggelapan pajak juga membangun kredibilitas dimata investor,” jelas Joshi.

Ia mengatakan, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) juga diharapkan akan mampu meningkatkan disiplin keuangan dan pengawasan tata kelola di seluruh perusahaan BUMN.

Adapun konsumsi masyarakat masih menjadi sumber pertumbuhan di era Presiden Jokowi. Penurunan suku bunga acuan menstimulasi pertumbuhan ekonomi nasional saat ini.

“Bank Sentral (BI) telah memangkas suku bunga beberapa kali tahun ini, yang mana hal ini seharusnya menguntungkan bank-bank dengan basis pendanaan dan neraca likuiditas yang cukup besar," terang dia.

Baca juga: Kabinet Dipercaya Pasar, Capital Inflow Per Oktober Rp 217,04 Triliun

Pihaknya juga melihat peluang di sektor properti, dimana valuasi terlihat menarik karena harga saham tetap baik di tengah banyaknya berita negatif. Meskipun sektor semen lemah, permintaan semen per kapita masih tetap terendah di ASEAN dan konsolidasi akan menguntungkan industri.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X