Paradoks "Cost Leadership" Pehobi Ikan Guppy

Kompas.com - 21/11/2019, 19:37 WIB
Sebagai salah satu ikan hias yang mengalami peningkatan jumlah pehobi sangat besar selama periode 2017, 2018 dan 2019, ikan guppy mempunyai peluang pasar sangat besar dibandingkan ikan hias lainnya. Dok Swasti FarmSebagai salah satu ikan hias yang mengalami peningkatan jumlah pehobi sangat besar selama periode 2017, 2018 dan 2019, ikan guppy mempunyai peluang pasar sangat besar dibandingkan ikan hias lainnya.
Editor M Latief

JAKARTA, KOMPAS.com - Tantangan untuk membuka channel transaksi di marketplace membuat pelaku UKM tidak hanya harus memiliki kemampuan menciptakan cost leadership yang baik, tapi juga tantangan produk serupa (homogenitas product) dan produk tiruan (copycat product) yang sangat mungkin terjadi di pasar yang terbuka.

Hal tersebut dipaparkan Dodi Soufiadi, Direktur Pemasaran Swasti Farm, dalam perbincangan mengenai ekspansi pasar UKM melalui kanal marketplace di Jakarta, Rabu (21/11/2019). Dodi mengatakan, tantangan tersebut harus dihadapi tidak hanya cukup bermodalkan kemampuan menciptakan produk dan peningkatan produktivitas produk, tetapi juga harus diimbangi dengan komitmen menjaga kualitas produk.

"Serta kemampuan kreativitas dan strategi komunikasi yang baik dengan pembeli dari pelaku UKM yang akan atau sudah membuka channel transaksi di marketplace," ujar Dodi.

Untuk produk ikan guppy yang ditawarkan oleh Swasti Farm, misalnya. Melalui kanal transaksi di marketplace, menurut Dodi, Swasti mempunyai standar harga lebih tinggi dibandingkan produk lainnya.

Dodi mengatakan, hal itu menjadi tantangan terbesar bagi Swasti Farm untuk mengomunikasikan Swasti Farm sebagai entitas sangat berbeda dengan penjual ikan guppy lain meskipun dengan produk yang sama.

"Contohnya untuk jenis Albino Full Red. Di marketplace Shopee paling rendah itu ditawarkan penjual lain senilai Rp 5.000 untuk setiap pasang, sedangkan kami menawarkan jenis yang sama dengan diversifikasi harga mencapai 6900 persen dibandingkan penjual lain atau dengan harga Rp350.000 untuk setiap pasang pembelian," tutur Dodi.

Danang Prima, selaku Chief Executive Officer (CEO) Swasti Farm, ikut menimpali. Menurut dia, visi Swasti adalah menciptakan produk ikan guppy terbaik dengan semua potensi sumber daya yang dimilikinya.

Danang menambahkan, upaya menciptakan produk terbaik akan memberikan pengalaman jauh dibandingkan produk yang dijajakan oleh pihak lain.

"Hal itu sudah kami lakukan lebih dari setahun belakangan ini, dan penerimaan pasar sangat baik. Ini terbukti dengan pencapaian market share transaksi di marketplace yang mencapai 27.8  persen dibandingkan kanal transaksi lain yang kami miliki sampai Oktober 2019 lalu," ucap Danang.

Artinya, papar Danang, cost leadership dan "perang" harga bisa jadi tidak berlaku ketika produsen mampu menciptakan produk terbaik dan bisa mengomunikasikan dengan baik.

Sebagai salah satu ikan hias yang mengalami peningkatan jumlah pehobi sangat besar selama periode 2017, 2018 dan 2019, ikan guppy mempunyai peluang pasar sangat besar dibandingkan ikan hias lainnya.

Danang mengatakan, ketika sebuah jenis atau strain ikan guppy mampu ditawarkan dengan harga sangat tinggi, dia mengaku yakin ikan guppy tersebut ada di kualitas paripurna.

"Selain jumlahnya sangat besar, penghobi ikan guppy sangat kritis terhadap kualitas sebuah produk yang ditawarkan," ujarnya.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X