Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hadapi Industri 4.0, BPR Tak Tutup Kemungkinan Gandeng Fintech

Kompas.com - 25/11/2019, 19:47 WIB
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com - Industri Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan Badan Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) tetap mencatat kinerja yang baik meski menghadapi sejumlah tantangan.

Revolusi digital pun kini menjadi tahap permulaan dari revolusi industri 4.0. Revolusi tersebut kemudian secara signifikan telah mengubah cara pandang dalam melakukan aktivitas ekonomi, seperti penggunaan e-commerce yang telah melahirkan model-model bisnis baru antara lain peer to peer lending dan sharing economy.

Ketua Umum Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) Joko Suyanto pun menilai, industri BPR/BPRS harus melakukan inovasi dan adaptif terhadap perkembangan teknologi yang ada.

"Pilihan industri BPR/BPRS dalam merespon revolusi digital adalah melakukan strategic partnership dan kolaborasi," ujar Joko dalam keterangannya, Senin (25/11/2019).

Baca juga: OJK Restui BPR dan Fintech untuk Kolaborasi

Dia mengungkapkan, dengan model bisnis yang saling melengkapi, menguntungkan dan mendorong tumbuh bersama. Sehingga, pada akhirnya, masyarakat yang dilayani lebih mudah, cepat dan aman.

Joko mengaku, tidak tertutup kemungkinan akan bersinergi dan berkolaborasi dengan Industri BPR/BPRS, termasuk industri teknologi keuangan atau fintech, seperti Koinworks, OVO, Investree, Bukalapak dan GETI (Authorized Global Channer Partner Alibaba).

Ia menilai, industri BPR/BPRS yakin sinergi dan koloborasi dengan berbagai pihak strategis merupakan kunci untuk meningkatkan dan memperkuat daya saing Industri BPR/BPRS dalam menghadapi tantangan perekonomian global, disrupsi teknologi dan menjaga momentum pertumbuhan BPR/BPRS untuk memperluas akses layanan dalam upaya mewujudkan masyarakat yang sejahtera dan mandiri secara ekonomi.

Perbarindo juga meluncurkan plikasi GCG dan MR BPR yang dinamakan BPRPrudent Platform.

Baca juga: Nasib BPR di Tengah Serbuan Fintech

BPRPrudent adalah Aplikasi yang dapat membantu BPR/BPRS mengimplementasikan tata kelola Perusahaan dan manajemen risiko sesuai dengan ketentuan regulasi yang ada.

Sebelumnya Perbarindo sudah meluncurkan Sistem Informasi Perbarindo, Rumah Lelang Perbarindo dan Jaringan Bersama (sharing bandwith).

Dalam waktu dekat, tambah dia, Perbarindo juga akan merampung aplikasi penunjang operasional BPR/BPRS yaitu Loan Organising System (LOS), Skoring Kredit, Human Capital
Management (HCM) dan aplikasi lainnya.

Sampai dengan Agustus 2019, aset industri BPR mencapai Rp143 triliun atau tumbuh 9,47 persen dibandingkan posisi tahun lalu, kredit yang disalurkan kepada pelaku UMKM mencapai Rp 106 triliun atau tumbuh 11,44 persen.

Adapun jumlah tabungan tumbuh 9,98 persen dan deposito tumbuh sebesar 11,07 persen dibanding setahun yang lalu.

Baca juga: Ragam Saingan BPR, Fintech hingga KUR dan Laku Pandai

Selain itu, jumlah nasabah yang dilayani mencapai 15,6 juta. Nasabah tersebut didominasi oleh penabung sebanyak 11,5 juta rekening dan rata-rata saldo tabungannya sebesar Rp 2 juta.

Sedangkan nasabah debitur sebanyak 3,6 juta rekening dan rata-rata pinjamannya adalah Rp 29 juta.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Penjelasan DHL soal Beli Sepatu Rp 10 Juta Kena Bea Masuk Rp 31 Juta

Penjelasan DHL soal Beli Sepatu Rp 10 Juta Kena Bea Masuk Rp 31 Juta

Whats New
Stok Lampu Bisa Langka gara-gara Implementasi Permendag 36/2023

Stok Lampu Bisa Langka gara-gara Implementasi Permendag 36/2023

Whats New
IHSG Ditutup Naik 63 Poin, Rupiah Menguat di Bawah Level 16.200

IHSG Ditutup Naik 63 Poin, Rupiah Menguat di Bawah Level 16.200

Whats New
Jam Operasional Pegadaian Senin-Kamis, Jumat, dan Sabtu Terbaru

Jam Operasional Pegadaian Senin-Kamis, Jumat, dan Sabtu Terbaru

Whats New
Bos BI Optimistis Rupiah Bakal Kembali di Bawah Rp 16.000 Per Dollar AS

Bos BI Optimistis Rupiah Bakal Kembali di Bawah Rp 16.000 Per Dollar AS

Whats New
Mendag Ungkap Penyebab Harga Bawang Merah Tembus Rp 80.000 Per Kilogram

Mendag Ungkap Penyebab Harga Bawang Merah Tembus Rp 80.000 Per Kilogram

Whats New
Hadapi Tantangan Perubahan Iklim, Kementan Gencarkan Pompanisasi hingga Percepat Tanam Padi

Hadapi Tantangan Perubahan Iklim, Kementan Gencarkan Pompanisasi hingga Percepat Tanam Padi

Whats New
Panen Ganda Kelapa Sawit dan Padi Gogo, Program PSR dan Kesatria Untungkan Petani

Panen Ganda Kelapa Sawit dan Padi Gogo, Program PSR dan Kesatria Untungkan Petani

Whats New
Alasan BI Menaikkan Suku Bunga Acuan Jadi 6,25 Persen

Alasan BI Menaikkan Suku Bunga Acuan Jadi 6,25 Persen

Whats New
Cara dan Syarat Gadai Sertifikat Rumah di Pegadaian

Cara dan Syarat Gadai Sertifikat Rumah di Pegadaian

Earn Smart
Cara dan Syarat Gadai HP di Pegadaian, Plus Bunga dan Biaya Adminnya

Cara dan Syarat Gadai HP di Pegadaian, Plus Bunga dan Biaya Adminnya

Earn Smart
Peringati Hari Konsumen Nasional, Mendag Ingatkan Pengusaha Jangan Curang jika Mau Maju

Peringati Hari Konsumen Nasional, Mendag Ingatkan Pengusaha Jangan Curang jika Mau Maju

Whats New
United Tractors Bagi Dividen Rp 8,2 Triliun, Simak Jadwalnya

United Tractors Bagi Dividen Rp 8,2 Triliun, Simak Jadwalnya

Whats New
Kunjungan ke Indonesia, Tim Bola Voli Red Sparks Eksplor Jakarta bersama Bank DKI dan JXB

Kunjungan ke Indonesia, Tim Bola Voli Red Sparks Eksplor Jakarta bersama Bank DKI dan JXB

Whats New
Suku Bunga Acuan Naik Jadi 6,25 Persen, Bos BI: Untuk Memperkuat Stabilitas Rupiah

Suku Bunga Acuan Naik Jadi 6,25 Persen, Bos BI: Untuk Memperkuat Stabilitas Rupiah

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com