BrandzView
Konten ini merupakan kerjasama Kompas.com dengan Sampoerna Retail Community

Menelusuri Geliat UKM, Tulang Punggung Perekonomian Indonesia

Kompas.com - 25/11/2019, 23:02 WIB
Seorang pengrajin sedang mengemas produk keripik jengkol di sentra UKM Desa Tuk, Kabupaten Cirebon. Adzhahri AhmadSeorang pengrajin sedang mengemas produk keripik jengkol di sentra UKM Desa Tuk, Kabupaten Cirebon.

KOMPAS.com – Senin (18/11/2019) pukul delapan pagi, cuaca tampak begitu terik. Sengatan matahari cukup terasa meski berada di dalam mobil berpendingin.

Tim Kompas.com menyusuri jalanan di kawasan Bantar Gebang, Bekasi. Tujuan kami adalah sebuah toko kelontong yang ada di sana.

Proyek pembangunan jembatan di simpang Cipendawa membuat kendaraan kami harus merayap perlahan. Kemacetan dan debu-debu yang beterbangan mengiringi suasana perjalanan kami di sana.

Tak lama setelah menyusuri Jalan Raya Narogong, aplikasi petunjuk arah memberi tanda bahwa lokasi tujuan kami ada di sebelah kanan jalan.

Setelah berbelok, kami memasuki sebuah lahan yang tidak begitu besar. Di sana terdapat belasan truk besar terparkir. lengkap dengan para pengemudinya yang sedang bersantai di pelataran toko kelontong.

Saat kami sedang memarkirkan kendaraan, seorang pria tampak sedang asyik mengepel lantai teras toko kelontong. Di depan tokonya, terlihat spanduk membentang horizontal bertuliskan “SRC Prima”.

Baca juga: Membaca Kembali Kisah Perjalanan Toko Kelontong di Indonesia

Setelah kami turun dari mobil, pria tersebut langsung menyambut kedatangan kami dengan ramah. Pria ini adalah Herman (31) yang ternyata merupakan sang pemilik toko.

“Panggil aja bang Eer,” ujarnya seraya tersenyum.

Herman, pemilik SRC Prima yang telah memulai usaha toko kelontong sejak usia muda. National Geographic Indonesia/Zulkifli Herman, pemilik SRC Prima yang telah memulai usaha toko kelontong sejak usia muda.

Herman pun membereskan beberapa bangku di depan toko dan mempersilahkan kami duduk. Kami pun disuguhi dengan beberapa minuman kemasan yang ada di tokonya.

Seraya meneguk segarnya minuman dingin yang tersaji, kami perlahan menggali kisah tentang Herman dan usaha toko kelontongnya.

Toko kelontong ini didirikan olehnya sejak 2009 silam. Kami sedikit terperangah mengingat usianya yang relatif muda saat merintis usaha ini.

“Saya dari dulu dididik orangtua untuk usaha. Jadi dari SMA tidak pernah terpikir untuk kuliah atau kerja,” kisahnya.

Dengan sedikit bantuan dari orangtuanya, Herman memulai petualangan toko kelontongnya. Saat itu tokonya belum sebesar sekarang, hanya berukuran tiga kali empat meter.

Baca juga: Penyebab Toko Kelontong di Indonesia Sulit Berkembang

“Awal buka tidak begitu (ramai). Tapi ya dicukup-cukupin saja lah,” ujarnya sambil terkekeh.
Akan tetapi, semuanya berubah saat Herman memutuskan untuk bergabung dengan Sampoerna Retail Community (SRC) pada 2012.

Sejak 2008, SRC memang dikenal aktif memberikan pendampingan bisnis yang berkelanjutan untuk toko-toko kelontong di seluruh Indonesia.

Herman bercerita tentang banyaknya wawasan yang didapat setelah bergabung dengan SRC.

“Mulai penempatan produk, cara melayani konsumen, cara meningkatnya omzet. Saya juga didorong untuk menjaga toko agar bersih, rapi, dan nyaman,” ujarnya.

Setelah berbincang singkat, kami pun menelusur ke dalam toko. Ada satu rak bertuliskan Pojok Lokal yang langsung terlihat di muka toko. Tampak berbagai camilan seperti kerupuk kulit, keripik pisang, wajit, dan koya susu.

Beragam camilan khas daerah dari UKM sekitar toko kelontong Herman. Adzhahri Ahmad Beragam camilan khas daerah dari UKM sekitar toko kelontong Herman.

Sebelum sempat menanyakan asal muasal produk-produk tersebut, seorang wanita paruh baya datang menghampiri toko sambil membawa satu plastik besar di tangannya.

“Langsung taruh saja ya bu Haji,” ujar Herman.

Wanita tersebut ternyata adalah tetangga Herman yang biasa menaruh produk usaha camilan wajit dan keripik pisangnya sejak awal 2019, tidak lama setelah program Pojok Lokal berjalan di SRC Prima.

Baca juga: Melalui Pojok Lokal, SRC Beri Jalan Pelaku UKM Lakukan Promosi Produk

“Saya sih selalu terbuka kalau ada masyarakat sekitar yang mau nitip (produk usahanya). Mudah-mudahan bisa saling bantu, maju bersama,” kata Herman.

Tim Kompas.com pun menyambangi rumah sekaligus tempat produksi yang hanya beberapa langkah dari toko kelontong Herman.

Wanita tersebut bernama Anisa (40) yang telah memulai usaha camilan rumahan sejak 2009 silam.

Anisa menyambut positif kehadiran Pojok Lokal di toko kelontong milik Herman. Sebelum mulai menaruh produknya SRC Prima, dirinya mengaku cukup kesulitan dalam memasarkan hasil usahanya.

“Awalnya saya coba tembusin ke pasar-pasar kan. Tapi ya gitu, banyak premannya ya di sana, jadi susah” ujarnya.

Anisa, pemilik usaha camilan wajit dan keripik pisang rumahan yang menitipkan produknya di Pojok Lokal SRC Prima milik Herman.Adzhahri Ahmad Anisa, pemilik usaha camilan wajit dan keripik pisang rumahan yang menitipkan produknya di Pojok Lokal SRC Prima milik Herman.

Tak hanya diberikan tempat untuk menitipkan jualannya, dirinya pun mendapat banyak masukan untuk mengembangkan usahanya dari Herman.

“Bang Eer banyak ngasih masukan, seperti coba bikin packing produk yang menarik, terus jualnya camilan-camilan khas daerah. Banyak ide-ide baru lah pokoknya, jadi usaha bisa makin maju,” tambahnya.

Baca juga: Toko Kelontong Bergandengan Tangan Majukan UKM Lokal

Lebih jauh lagi, Anisa pun kerap mendapat rekomendasi toko-toko kelontong SRC lain untuk menjual produk camilannya dari Herman.

“Saya merasa senang aja gitu, jadi merasa didukung, Gak perlu jauh-jauh nyari warung untuk nitip jualan yang dekat juga ada, dibantu juga buat ke (toko) yang lain” ujarnya.

Pelihara kearifan lokal

Selain berperan dalam memberdayakan para pelaku Usaha Kecil Menengah ( UKM), ternyata toko kelontong juga berpotensi sebagai wahana untuk memelihara kearifan lokal.

Hal tersebut tampak saat tim Kompas.com menyambangi toko kelontong SRC Bambang yang ada di Desa Wirakanan, Kabupaten Pekalongan.

Kami disambut ramah saat tiba di sana. Casriatun (39) sang pemilik toko kelontong bahkan telah menyiapkan berbagai minuman dan camilan untuk kami.

Toko tersebut relatif besar dibanding toko-toko kelontong biasanya. Ketimbang kursi dan meja yang biasa kami temui, di depan terdapat tempat lesehan yang cukup luas dan bersih untuk kami bercengkrama.

“Dulu (toko kelontong) ini kecil banget, lingkungan sini juga masih sepi,” ujar Casriatun yang telah bergabung dengan SRC sejak 2012 silam.

Casriatun mengisahkan perjalanan toko kelontongnya, mulai dari ?warung papan? hingga sebesar saat sekarangAdzhahri Ahmad Casriatun mengisahkan perjalanan toko kelontongnya, mulai dari ?warung papan? hingga sebesar saat sekarang

Di awal perjalanannya, Casriatun kerap harus menyambangi pasar grosir 3-4 kali sehari karena keterbatasan modal. Bahkan untuk menambah penghasilan, dirinya membuka usaha minuman wedang di samping toko kelontongnya.

"Ya namanya merintis, masih susah. Apa saja deh dilakukan untuk bertahan," ujarnya.

Mengusung misi untuk melihat perkembangan UKM, kami pun mengintip rak Pojok Lokal yang ada di toko tersebut.

Baca juga: Peran Toko Kelontong Masa Kini dalam Membangun Geliat Interaksi Masyarakat

Di antara berbagai camilan yang ada di sana, ada satu produk yang menarik perhatian kami, Kopi Tahlil.

Kopi Tahlil adalah salah satu produk khas Pekalongan yang memiliki sejarah unik. Kopi ini acap kali disajikan saat tahlilan untuk mendoakan orang yang sudah meninggal dunia.

Berbagai rempah khas Nusantara yang menjadi bahan-bahan dasar pembuatan Kopi Tahlil khas Pekalongan.Adzhahri Ahmad Berbagai rempah khas Nusantara yang menjadi bahan-bahan dasar pembuatan Kopi Tahlil khas Pekalongan.

Produk hasil akulturasi budaya Jawa dan Arab ini konon dapat mendongkrak energi tubuh yang kelelahan. Pasalnya, kopi ini diracik dengan berbagai rempah seperti kayu angin, jahe merah, kapulaga, kayu manis, dan lain sebagainya.

“Yang bikin masih muda lho, tinggalnya tidak jauh dari sini,” ujar Casriatun.

Penasaran, kami meminta bantuan Casriatun untuk menunjukkan lokasi pembuatannya.Dirinya menghubungi pun sang pemilik usaha untuk memberitahu rencana kedatangan kami.

Setelah berkendara selama lima menit, kami tiba di sebuah rumah bergaya tradisional Jawa. Di sana kami disambut dua orang pemuda berpakaian serba batik dari atas sampai bawah.

Baca juga: Saat Toko Kelontong Memasuki Ekosistem Digital

Pemilik usaha Kopi Tahlil tersebut adalah M. Mahfud, usianya pun baru menginjak 25 tahun. Usaha ini belum genap setahun berlangsung.

“Produksinya juga cuma selusin setiap minggu, sebulan empat kali buat,” ujarnya.

Seraya berbincang, dirinya menunjukkan proses produksinya pada kami. Berbagai bahan sudah disiapkan dalam bentuk bubuk dan cair. Dirinya menuangkannya ke panci berukuran sedang, mengaduknya perlahan di atas api kompor yang membara.

Mahfud membereskan peralatannya setelah meracik Kopi Tahlil buatannya. Adzhahri Ahmad Mahfud membereskan peralatannya setelah meracik Kopi Tahlil buatannya.

Kehadiran produknya di toko kelontong Casriatun pun diakuinya berdampak positif. Meski masih kecil-kecilan, dirinya perlahan mendapat permintaan dari berbagai kota di luar Pekalongan.

“Udah ada permintaan dari Dieng, Wonosobo, sampai Banjarnegara. Tinggal memikirkan produksinya aja sekarang,” ujarnya.

Berdayakan UKM

Pada awal 2019, SRC meluaskan misinya untuk mendorong perkembangan UKM di Indonesia dengan menginisiasi program Pojok Lokal.

Pojok Lokal adalah salah satu bagian rak di SRC yang dikhususkan untuk menjual produk-produk UKM yang ada disekitar SRC tersebut.

Pojok Lokal, ruang khusus bagi UKM di sekitar toko-toko SRC yang tersebar di seluruh Indonesia.Adzhahri Ahmad Pojok Lokal, ruang khusus bagi UKM di sekitar toko-toko SRC yang tersebar di seluruh Indonesia.

Selain itu, SRC pun turut mendorong para pemilik toko kelontong binaannya untuk memberdayakan pelaku-pelaku UKM yang berada di sekitar tokonya.

Inisiatif tersebut meniupkan angin segar bagi para pelaku UKM, mengingat masifnya jaringan toko kelontong SRC yang ada saat ini.

Baca juga: Berbenah, Ini Wajah Toko Kelontong Masa Kini

Tercatat, kini terdapat 110.000 toko kelontong binaan SRC yang tersebar di seluruh Indonesia.
Terlebih berdasarkan data dari Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia ( APRINDO), pada 2018 ritel tradisional mengalami pertumbuhan di atas 15 persen per tahun.

Kehadiran Pojok Lokal dapat menjadi potensi besar bagi para pelaku UKM untuk bersinar.

Sinergi positif

Berbagai kisah di atas adalah sebagian kecil dari contoh sinergi positif antara pemilik toko kelontong dan pelaku UKM.

Upaya sinergi ini tentu perlu terus dipelihara mengingat UKM memiliki peran besar dalam roda perekonomian Indonesia.

Hal tersebut didukung oleh data dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM). Pada laman resminya, kontribusi UKM terhadap Produk Domestik Bruto ( PDB) Nasional pun mencapai 60,34 persen.

Lebih jauh lagi, UKM berperan besar dalam penyerapan tenaga kerja di Indonesia. Dilansir Kompas.com (31/10/2018), Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan bahwa UKM mampu menyerap 96 persen tenaga kerja di Indonesia.

“Jumlahnya sangat besar, oleh karena itu kalau kita mau sinergi untuk memperkuat UKM, maka kita bisa lihat dampaknya ke tenaga kerja, PDB, dan investasi,” ujarnya.

Oleh karenanya, di tengah gejolak ekonomi global dan ancaman resesi yang ada saat ini, keberlangsungan UKM perlu dijaga dan didorong pengembangannya oleh semua pihak.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya