Ekonom: BI Turunkan GWM Memang Tambah Likuiditas, tetapi...

Kompas.com - 26/11/2019, 14:12 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menurunkan giro wajib minimum (GWM) sebesar 50 basis poin (bps).

Penurunan tersebut membuat GWM bank umum konvensional dan syariah menjadi 5,5 persen.

Chief Economist PT Bank CIMB Niaga Tbk Adrian Panggabean mengatakan, penurunan GWM memang membuat likuiditas perbankan bertambah sehingga perbankan bakal membuka peluang peminjaman kredit.

"GWM turun, likuiditas pasti bertambah. Apa yang kira-kira dilakukan dengan likuiditas bertambah? Saya pinjamin ke orang untuk kredit," kata Adrian Panggabean di Jakarta, Selasa (26/11/2019).

Baca juga: BI Turunkan GWM, BCA Dapat Tambahan Likuiditas Rp 3,3 Triliun

Namun penurunan GWMmembuat likuiditas perbankan bertambah dirasa belum cukup untuk mengdongkrak ekonomi RI. Adrian menuturkan, masalahnya saat ini kebanyakan orang menahan konsumsi dan berjaga-jaga.

"Tapi kemudian, apa yang mau dipinjam orang-orang? Karena mereka kan sekarang nahan konsumsi," ujar Adrian.

Hal tersebut ditengarai karena adanya ketidakpastian global meski tahun politik di RI sudah berakhir. Ketidakpastian global seperti perang dagang antara AS-China yang diprediksi akan berlangsung lama atau tidak temporer memengaruhi pola konsumsi masyarakat.

Buktinya, masyarakat saat ini lebih banyak menaruh uangnya di deposito untuk berjaga-jaga ketimbang sekedar menabung.

Mereka pun akhirnya menahan konsumsi dengan menghindari kredit otomotif, kredit konsumsi, maupun kredit rumah.

"Ada ketidakpastian global. Jadi mereka enggak yakin situasi ke depan seperti apa. "Saya enggak mau beli mobil, beli motor, saya jaga-jaga konsumsi dan lebih banyak nabung". Jadi kelihatan dari situ," tutur Adrian.

Baca juga: Pola Konsumsi Masyarakat Bergeser, dari Makanan-Minuman ke Transportasi dan Komunikasi

Karena ketidakpastian global pula, masyarakat akan lebih selektif dalam menggarap proyek-proyek tertentu yang didanai dari kredit perbankan. Adrian memprediksi, hanya FMCG yang terlihat masih menarik di 2020, sementara sisanya masih berfluktuasi.

"FMCG pasti menarik. Properti harus melihat level dahulu, yang middle up properti sudah turun. Jadi orang akan lebih selektif karena mereka enggak tahu apakah barang yang diproduksi masih diminati di 2020. Kalau beli apartemen, jangan-jangan masyarakat belinya sepatu," pungkasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

YLKI Khawatir Konsumen Buru Rokok Murah, Jika Batasan Produksi Tak Diubah

YLKI Khawatir Konsumen Buru Rokok Murah, Jika Batasan Produksi Tak Diubah

Whats New
[POPULER MONEY] Beli Elpiji 3Kg Juga Pakai MyPertamina? | 10 Tempat Kerja Terbaik di Indonesia

[POPULER MONEY] Beli Elpiji 3Kg Juga Pakai MyPertamina? | 10 Tempat Kerja Terbaik di Indonesia

Whats New
Pemerintah Dinilai Perlu Cepat Turun Tangan Atasi Kenaikan Harga Avtur

Pemerintah Dinilai Perlu Cepat Turun Tangan Atasi Kenaikan Harga Avtur

Whats New
Ditjen Pajak: Peserta PPS Meningkat Sangat Signifikan dalam 24 Jam

Ditjen Pajak: Peserta PPS Meningkat Sangat Signifikan dalam 24 Jam

Whats New
Emiten Pengelola Lucy in The Sky Ekspansi Gerai di Baru di Cikini

Emiten Pengelola Lucy in The Sky Ekspansi Gerai di Baru di Cikini

Whats New
Begini Langkah INACA untuk Bantu Pemulihan Industri Penerbangan

Begini Langkah INACA untuk Bantu Pemulihan Industri Penerbangan

Whats New
Daftar MyPertamina, Boleh Lebih 1 Kendaraan dalam 1 Akun

Daftar MyPertamina, Boleh Lebih 1 Kendaraan dalam 1 Akun

Whats New
Pertamina: 60 Persen Orang Kaya Nikmati BBM Subsidi

Pertamina: 60 Persen Orang Kaya Nikmati BBM Subsidi

Whats New
INACA Ungkap Tantangan yang Dihadapi Maskapai Penerbangan Saat Ini, Apa Saja?

INACA Ungkap Tantangan yang Dihadapi Maskapai Penerbangan Saat Ini, Apa Saja?

Whats New
Simak 3 Tips agar UMKM Tembus Pasar Global

Simak 3 Tips agar UMKM Tembus Pasar Global

Work Smart
Pemerintah Diminta Beri Insentif buat Produk Keuangan 'Hijau', Ini Alasannya

Pemerintah Diminta Beri Insentif buat Produk Keuangan "Hijau", Ini Alasannya

Whats New
Daripada Impor Daging dari India, Peternak Minta Bulog Serap Sapi dan Kerbau Mereka yang Bebas PMK

Daripada Impor Daging dari India, Peternak Minta Bulog Serap Sapi dan Kerbau Mereka yang Bebas PMK

Whats New
BERITA FOTO: Pandemi Mereda, 'Angin Segar' Bisnis Kuliner

BERITA FOTO: Pandemi Mereda, "Angin Segar" Bisnis Kuliner

Whats New
Pemotor Tak Perlu Daftar MyPertamina saat Beli Pertalite

Pemotor Tak Perlu Daftar MyPertamina saat Beli Pertalite

Whats New
Digiserve by Telkom Indonesia Tunjuk Adil Siagian sebagai Direktur Sales dan Operation

Digiserve by Telkom Indonesia Tunjuk Adil Siagian sebagai Direktur Sales dan Operation

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.