Pertumbuhan Ekonomi RI Stagnan di 5 Persen, Ini 3 Solusinya

Kompas.com - 26/11/2019, 15:19 WIB
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. THINKSTOCKSIlustrasi pertumbuhan ekonomi.

JAKARTA, KOMPAS.com - Chief Economist PT Bank CIMB Niaga Tbk Adrian Panggabean memprediksi pertumbuhan ekonomi RI masih berada di kisaran 5 persen pada tahun 2020 mendatang.

"PDB growth kurang lebih 5 persen. Sekalipun naik atau turun masih di kisaran 5 persen," kata Adrian di Jakarta, Selasa (26/11/2019).

Hal tersebut dipengaruhi oleh sejumlah tantangan yang menghantam ekonomi RI, seperti berlanjutnya perang dagang AS-China, stagnannya pertumbuhan ekonomi dunia, dan dinamika investasi juga konsumsi dalam negeri.

"Kondisi faktual yang terjadi di lapangan menurut yang saya baca memang tidak menggembirakan. Indikator ekonomi di AS memang tidak menggambarkan perekonomian AS terlalu kuat atau terlampau lemah. China juga demikian, tantangannya besar," tutur Adrian.

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2020 Diprediksi Melambat ke 5,1 Persen

Kendati dibayangi oleh sejumlah tantangan, Adrian menuturkan para pelaku usaha harus tetap optimis dengan memanfaatkan setiap peluang yang ada.

"Tentu saja para pelaku pasar harus menatap ke depan dengan optimis. Manfaatkan setiap peluang terutama dalam kondisi market yang masih berfluktuasi," ujarnya.

Untuk itu, Adrian pun menawarkan 3 solusi yang bisa dipraktikkan RI dalam menata ekonomi.

Pertama, dalam jangka pendek keterbatasan kebijakan moneter, pemerintah perlu mempertimbangkan pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ( APBN) mendekati 3 persen.

"Dengan merumuskan secara detil, kebijakan suplementer itu dapat mereduksi efek negatif dari pelebaran defisit," ucapnya.

Baca juga: Ekonomi Loyo Pada 2020, Ini Sektor yang Dinilai Bisa Bertahan

Kedua, dalam jangka pendek hingga menengah, pemerintah perlu agresif menaikkan kontribusi dividen Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terhadap APBN melalui penurunan biaya yang signifikan dan peningkatan produktivitas yang optimal.

"Pemerintah juga perlu memanfaatkan potensi pembiayaan lewat mekanisme sekuritisasi aset pemerintah," ungkapnya.

Ketiga, pemerintah dan regulator perlu segera melakukan terobosan dalam meningkatkan mobilisasi tabungan dalam negeri lewat reformasi besar-besaran industri dana pensiun dan jaminan sosial.

"Pemerintah daerah juga harus menaikkan Pendapatan Asli Daerah secara netral untuk mengurangi ketergantuangan daerah terhadap dana alokasi dari pusat," pungkasnya.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X