Kinerja Mandiri Baru Akan "Keok" jika Rupiah Tembus Rp 37.000 Per Dollar AS

Kompas.com - 26/11/2019, 15:23 WIB
Ilustrasi Bank Mandiri. Rafapress/SHUTTERSTOCKIlustrasi Bank Mandiri.

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (KOMPAS100: BMRI) menyatakan telah memiliki rencana pemulihan (recovery plan) jika memang dihadapkan pada kondisi krisis keuangan seperti yang terjadi pada 1998-1999 lalu.

Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Sulaiman Arif Arianto mengatakan, sebagai langkah awal recovery plan, perseroan telah melakukan stress test. Hasilnya, Bank Mandiri baru akan bermasalah jika nilai tukar rupiah terhadap dollar AS mencapai Rp 37.000.

"Jadi satu, untuk bayangannya kalau Mandiri akan bermasalah kalau kurs sampai jadi Rp 37.000. Itu simulasi," ujar Sulaiman dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta, Selasa (26/11/2019).

Namun demikian, Sulaiman mengatakan hal tersebut merupakan skenario terburuk yang tidak diharapkan terjadi.

Baca juga : Bank Mandiri Tawarkan Promo Bunga KPR 4,5 Persen, Berminat?

Adapun, Sulaiman tidak membeberkan lebih lanjut mengenai langkah bank untuk mengantisipasi krisis.

"InsyaAllah mohon doa restu bapak ibu sekalian itu mudah-mudahan tidak terjadi, tapi itulah yang ingin disampaikan kita punya recovery," ujar dia.

Dua tahun belakangan ekonomi dunia tengah dihadapkan pada kondisi perlambatan pertumbuhan ekonomi. Bahkan beberapa negara telah dihadapkan pada resesi.

Sebelumnya, Dana Moneter Internasional (IMF) menyebutkan, pertumbuhan ekonomi global ada berada dikisaran 3 persen di tahun 2019, paling lambat sejak krisis keuangan global di tahun 2008-2009.

Sepanjang tahun ini IMF telah berkali-kali memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi. Pada awal tahun diperkirakan ekonomi global mampu tumbuh 3,5 persen, kemudian dipangkas pada April 2019 sebesar 3,3 persen dan pada Juli menjadi 3,2 persen.

IMF menilai pertumbuhan ekonomi akan terus melemah dengan meningkatnya tensi perang dagang dan ketegangan geopolitik di berbagai negara.

Bahkan, ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Cina diperkirakan akan secara kumulatif mengurangi tingkat Produk Domestik Bruto (PDB) global sebesar 0,8 persen pada tahun 2020.

Dalam October World Economic Outlook, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global di 2020 menjadi 3,4 persen, turun 0,2 persen dari prediksi pada April lalu. Pertumbuhan ini dinilai cukup moderat.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X