BrandzView
Konten ini merupakan kerjasama Kompas.com dengan Sampoerna Retail Community

Toko Kelontong Masa Kini Ciptakan Ruang Interaksi Masyarakat

Kompas.com - 28/11/2019, 20:43 WIB
Budaya gotong royong di Indonesia lahir dan dipelihara lewat interaksi langsung yang terjadi di ruang-ruang publik selama bertahun-tahun lamanya ShutterstockBudaya gotong royong di Indonesia lahir dan dipelihara lewat interaksi langsung yang terjadi di ruang-ruang publik selama bertahun-tahun lamanya

KOMPAS.com - Deru kereta api membangunkan kami dari tidur. Masih setengah tujuh pagi saat itu. Alarm ponsel yang telah kami atur semalam pun belum sempat berbunyi.

Kami, tim Kompas.com, memang menginap di hotel yang berada di depan Stasiun Pekalongan. Dengan posisi penginapan yang begitu dekat dengan stasiun, tak heran suara kereta sering menghampiri telinga.

Pagi itu, kami menyusuri Jalan Gajah Mada yang berganti menjadi Jalan Ahmad Yani saat kami mulai memasuki perbatasan Kabupaten Pekalongan.

Truk-truk besar yang berlalu lalang menjadi sebuah pemandangan lumrah mengingat jalan yang kami lalui adalah bagian dari Jalur Pantura.

Tidak lama, papan reklame besar bertuliskan “Selamat Datang di Kota Batik Pekalongan” menyambut kami.

Tugu nol kilometer di Pekalongan, Jawa Tengah Shutterstock Tugu nol kilometer di Pekalongan, Jawa Tengah

Pekalongan memang menjadi salah satu ikon kota batik di Indonesia selain Cirebon, Surakarta, dan Yogyakarta. Bahkan sejak 2009, batik Pekalongan diakui sebagai salah satu warisan budaya dunia dari UNESCO.

Akan tetapi, bukan batik yang menjadi tujuan tim Kompas.com menyambangi Pekalongan.

Sepanjang 18-24 November 2019, kami mengunjungi toko- toko kelontong yang ada di kawasan pesisir utara Jawa. Mulai dari Bekasi, Cirebon, Pekalongan, hingga Semarang.

Kami menggali kisah tentang pergerakan toko-toko kelontong yang bertransformasi di tengah arus modernitas.

Baca juga: Membaca Kembali Kisah Perjalanan Toko Kelontong di Indonesia

Toko kelontong masa kini yang berperan dalam memberdayakan Usaha Kecil Menengah ( UKM) sekitar, sekaligus menciptakan ruang interaksi langsung masyarakat yang perlahan meredup.

Ciptakan komunitas

Setelah sekitar setengah jam perjalanan, tim Kompas.com tiba di toko kelontong yang berlokasi di Desa Wirakanan, Kabupaten Pekalongan.

Toko tersebut relatif besar dibanding toko-toko kelontong biasanya. Terdapat tempat lesehan yang cukup luas dan bersih untuk kami bersantai sejenak.

Kami disambut dengan berbagai camilan khas Pekalongan seperti keripik koro-koro dan permen asem. Berbagai minuman segar pun melepas dahaga kami yang sedari tadi bermandi peluh karena cuaca Pekalongan begitu panas terasa.

Di depan toko kelontong tersebut terdapat “pasar malam” yang belum bangun dari tidurnya. Dari luar, tampak berbagai wahana seperti bianglala dan komedi putar.

“Setiap malam buka ini mas,” ujar Casriatun.

Casriatun (39) atau yang akrab dipanggil Atun adalah pemilik toko kelontong SRC Bambang yang kami tuju. Dirinya telah menanti kedatangan kami sedari tadi.

Casriatun mengisahkan perjalanan toko kelontongnya, mulai dari ?warung papan? hingga sebesar saat sekarangAdzhahri Ahmad Casriatun mengisahkan perjalanan toko kelontongnya, mulai dari ?warung papan? hingga sebesar saat sekarang

Atun telah membuka toko kelontongnya sejak 2002. Pada awal perjalanannya, kawasan sekitar tokonya masih relatif sepi dan minim interaksi antar masyarakat.

Perputaran bisnisnya pun masih sangat kecil. Belum berani menyiapkan banyak stok di toko kelontongnya, dirinya harus bolak-balik ke pasar grosir setiap hari untuk mengisi rak-rak toko dengan barang dagangan.

“Saya juga buka warung wedang di sebelah (toko), untuk nambah-nambah,” kisahnya.

Seiring waktu, semakin banyak masyarakat yang tinggal di sekitar tokonya. Atun melihatnya sebagai peluang dan mengambil inisiatif untuk membangun komunitas di tengah masyarakat sekitar.

Baca juga: Melalui Pojok Lokal, SRC Beri Jalan Pelaku UKM Lakukan Promosi Produk

“Inisiatif saja buat lapangan badminton sederhana di lahan belakang warung saya. Pelan-pelan juga saya sediakan meja pingpong sama meja catur,” kisahnya.

Inisiatif tersebut berhasil mengundang perhatian masyarakat sekitarnya. Area di sekitar toko kelontongnya pun semakin ramai.

Perlahan, dirinya pun mengumpulkan uang untuk membeli sound system dan tenda yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar.

“Makin ramai karena warga sekitar jadi suka karaoke disini. Terus kalau ada kegiatan apa juga suka saya pinjemin sound system sama tenda, pokoknya mendukung aktivitas warga di sekitar sini lah,” ujarnya.

Geliat interaksi di toko kelontong SRC Bambang milik Casriatun        Adzhahri Ahmad Geliat interaksi di toko kelontong SRC Bambang milik Casriatun

Sejak bergabung dengan Sampoerna Retail Community (SRC) pada 2012, Atun pun didorong untuk memberikan pelayanan yang baik agar dapat merangkul para pelanggannya.

“Bisa seperti ini pastinya gak lepas dari peran SRC. Mereka membina saya agar bisa merangkul pelanggan, terutama masyarakat di sekitar saya,” ujarnya.

Seiring perkembangan usahanya, Atun merevitalisasi ruang di teras tokonya menjadi tempat lesehan yang luas dan nyaman untuk masyarakat dan para pelanggannya bercengkerama.

“Di sini ada Wi-Fi juga lho mas,” tandasnya.

Baca juga: Peran Toko Kelontong Masa Kini dalam Membangun Geliat Interaksi Masyarakat

Berbagai fasilitas dan kehangatan yang dihadirkan langsung oleh pemilik menjadi salah satu resep sukses Atun dalam mengembangkan usaha toko kelontongnya.

Lebih jauh lagi, Atun memiliki andil penting dalam menciptakan, sekaligus merawat interaksi masyarakat di sekitarnya.

Etalase karya

Puas menjelajahi Pekalongan, tim Kompas.com melanjutkan petualangannya di kota Semarang pada Jumat (22/11/2019) malam.

Hujan mendera begitu deras dalam pekatnya malam di sepanjang Tol Trans Jawa.

Setelah menempuh kurang lebih dua jam perjalanan, akhirnya kami pun tiba di penginapan untuk beristirahat.

Bangunan bersejarah ?De Factorij? of Nederlandse Handel Maatschappij (NHM) di Kota Tua, Semarang, Jawa TengahShutterstock Bangunan bersejarah ?De Factorij? of Nederlandse Handel Maatschappij (NHM) di Kota Tua, Semarang, Jawa Tengah

Pagi pun menjelang dan kami siap memulai petualangan di ibukota Jawa Tengah ini. Kami menelusuri padatnya jalanan kota Semarang menuju daerah Tembalang.

Tak sampai setengah jam, kami memasuki kawasan perumahan Ketileng. Kami disuguhi pemandangan asri dengan pepohonan hijau yang berderet di setiap sudut jalannya.

Tibalah kami di toko kelontong tujuan kami. “SRC Hidayah” begitu tertulis di spanduk depan toko yang terhalang sebuah pohon rindang.

Baca juga: Berbenah, Ini Wajah Toko Kelontong Masa Kini

“Duh, gimana ya ini ambil fotonya,” keluh salah satu tim Kompas.com sambil tertawa kecil.

Seorang wanita paruh baya pun keluar dari toko kelontong tersebut untuk menyambut kami. Dia adalah Nurul Farida (40) atau yang akrab disapa Nur oleh masyarakat sekitarnya.

Kami dipersilakan duduk di kursi-kursi yang ada tepat di depan tokonya. Pohon yang awalnya dikeluhkan keberadaannya, menjadi anugerah tersendiri karena memayungi kami di tengah panasnya cuaca Semarang.

Seraya meluruskan kaki-kaki yang sedari tadi terjebak dalam ruang sempit mobil, kami coba menggali kisah Nur dan toko kelontongnya.

Nurul Farida sang pemilik toko kelontong SRC HidayahAdzhahri Ahmad Nurul Farida sang pemilik toko kelontong SRC Hidayah

“Buka sih dari 2009, tapi waktu itu masih mengontrak di sana,” ujarnya seraya mengarahkan tangannya ke pojokan jalan.

Sebelum membuka toko kelontong, Nur sempat bekerja di sebuah perusahaan swasta. Namun, setelah memiliki anak dirinya memutuskan untuk berhenti bekerja dan coba memulai usaha toko kelontong.

Tak butuh waktu lama, dirinya bersama sang suami pun berhasil membeli rumah yang kini menjadi toko kelontongnya pada akhir 2010.

“Pelan-pelan dibenahi juga biar modal pas-pasan,” ujarnya sambil terkekeh.

Pada 2012, Nur memutuskan untuk bergabung dengan SRC. Dirinya pun mulai sering diajak gathering bersama paguyuban SRC dan diperlihatkan toko-toko kelontong yang telah maju.

“Karena terus dibimbing juga jadi saya termotivasi. Dibimbing agar menjaga kebersihan, kerapihan, dan menata produk sesuai dengan kelompoknya,” ujarnya.

Pohon rindang memayungi setiap orang yang bercengkrama di depan toko kelontong SRC HidayahAdzhahri Ahmad Pohon rindang memayungi setiap orang yang bercengkrama di depan toko kelontong SRC Hidayah

Nur pun didorong untuk memberikan pelayanan terbaik dan menghadirkan fasilitas penunjang untuk menarik lebih banyak pelanggan.

“Mulai 2014 saya sediakan Wi-Fi, bisa seduh kopi dan mi instan juga. Alhamdulillah jadi banyak yang nongkrong disini, banyaknya sih masyarakat sekitar karena ini komplek ya,” kisahnya.

Tak lama setelah Nur berkisah, datang seorang pria yang tampak relatif muda . Setelah membeli minuman kemasan dan camilan keripik di toko, dirinya duduk di bangku kosong sebelah kami dan mulai membuka laptopnya.

Baca juga: Penyebab Toko Kelontong di Indonesia Sulit Berkembang

Pemandangan tersebut biasanya kita temui di kafe-kafe atau kedai kopi. Namun, toko kelontong yang telah berevolusi ini nampaknya dapat menjadi ruang baru bagi masyarakat untuk beraktivitas dan berinteraksi di tengah arus modernitas.

Setelah berbincang, kami pun menengok ke dalam toko kelontong miliknya. Meski tidak begitu besar, toko ini tampak bersih dan modern dengan produk-produk yang tertata rapi sesuai dengan kategorinya.

Uniknya, toko milik Nur tidak hanya menghadirkan produk-produk makanan yang biasa mendominasi rak Pojok Lokal. Di sana, terpajang berbagai produk kerajinan rajut songket berupa tas, syal, hingga sepatu.

Produk kerajinan rajut songket yang ada di rak Pojok Lokal SRC HidayahAdzhahri Ahmad Produk kerajinan rajut songket yang ada di rak Pojok Lokal SRC Hidayah

Pojok Lokal sendiri adalah rak khusus bagi produk-produk UKM yang hadir di setiap toko kelontong SRC di seluruh Indonesia.

Nurul mengatakan bahwa produk kerajinan tersebut milik tetangga yang tinggal tepat di depan toko kelontongnya.

“Yuk, mau saya anter (ke sana)?” ujarnya setelah berbincang singkat dengan kami.

Tim Kompas.com pun berkesempatan untuk bertemu dengan Henny Indriyati (56) sang pengrajin produk rajut tersebut.

Henny berkisah bahwa keahlian ini diberikan secara turun-temurun. Selain produksi, dirinya pun membuka kursus rajut di rumahnya.

Baca juga: SRC Wadahi Peritel Tradisional Hadapi Perubahan Zaman

“Dulu diajarin sama ibu, dari kelas enam SD saya sudah bisa merajut,” kisahnya.

Bertetangga dan mengenal akrab satu sama lain, Nur berinisiatif untuk menawarkan ruang di Pojok Lokal untuk produk rajutan Henny.

“Jadi bisa pesan lewat saya. Kalau keperluannya besar, baru saya anter langsung ke bu Henny,” ujar Nur.

Henny pun menyambut positif kehadiran Pojok Lokal karena berperan serta dalam pengembangan usaha miliknya.

“Kerasa, makin banyak tambahan pesanan. Apalagi karena sudah akrab dan dekat, jadi lebih enak,” ujarnya.

Henny Indriyati sang pembuat kerajinan rajut songket yang merupakan tetangga NurulAdzhahri Ahmad Henny Indriyati sang pembuat kerajinan rajut songket yang merupakan tetangga Nurul

Nur merasa bahwa kehadiran Pojok Lokal ini sangat membantu perekonomian masyarakat, terutama bagi para pelaku UKM di sekitarnya.

Terlebih, Nur dapat merekatkan hubungan dengan masyarakat sekitar dengan menciptakan ruang-ruang interaksi baru di toko kelontongnya.

“Senang, kehidupan bertetangga jadi lebih hidup,” tutupnya.

Gerakan “Berkah”

Perkembangan teknologi yang ada membuat hampir semua orang seakan tidak bisa terlepas dari smartphone dan koneksi internet.

Di satu sisi, perkembangan teknologi ini memudahkan kita dalam beraktivitas sehari-hari. Entah terkait pekerjaan ataupun dalam berkomunikasi sehari-hari.

Baca juga: Toko Kelontong Bergandengan Tangan Majukan UKM Lokal

Kehadiran media sosial pun membantu kita terkoneksi dengan lebih banyak orang, tanpa mengenal batas ruang dan waktu.

Akan tetapi, segala kemudahan yang dihadirkan oleh teknologi tersebut memiliki konsekuensi. Salah satunya adalah meredupnya interaksi langsung di tengah kehidupan masyarakat.

Padahal, Indonesia dikenal sebagai masyarakat komunal yang menjunjung tinggi sikap gotong royong dan membantu sesama.

Budaya ini lahir dan dipelihara lewat interaksi langsung yang terjadi di ruang-ruang publik selama bertahun-tahun lamanya.

Kemeriahan Festival SRC 2019 yang berlangsung di 13 kota di IndonesiaNational Geographic Indonesia/Zulkifli Kemeriahan Festival SRC 2019 yang berlangsung di 13 kota di Indonesia

Sebagai bentuk jawaban atas permasalahan tersebut, belum lama ini SRC meluncurkan gerakan Berkah atau lengkapnya Berbelanja Dekat Rumah.

Gerakan ini mengajak masyarakat untuk membangkitkan kembali budaya berbelanja di toko kelontong terdekat.

Hal tersebut didorong oleh keyakinan SRC, jika toko kelontong bukan sekedar tempat berbelanja kebutuhan sehari-hari.

Lebih jauh lagi, toko kelontong dapat menjadi wahana untuk merawat hubungan antar masyarakat yang perlahan tergerus arus teknologi.

Selain itu, berbelanja di dekat rumah juga dapat menjadi bentuk partisipasi untuk memajukan UKM di sekitar.

Peluncuran gerakan Berkah berlangsung di Festival SRC 2019 yang berlangsung di 13 kota di Indonesia sepanjang November-Desember 2019.

Rangkaian Festival SRC Indonesia bertujuan untuk meningkatkan daya saing UKM sektor retail sekaligus memperkenalkan ekosistem SRC kepada masyarakat Indonesia.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya