Orang Berduit Bakar Uang, Apa Salahnya?

Kompas.com - 03/12/2019, 10:15 WIB
Bakar uang. ThinkstockBakar uang.

Beberapa waktu lalu, saat mendampingi sebuah start up yang akan pitching di Silicon Valley. Saya mengajukan pertanyaan sederhana tentang bagaimana mereka menentukan besarnya investasi.

Baca juga : Ekonomi Dunia Melambat, Menkominfo Minta Startup Jeli

Jawaban mereka sangat beragam. Mayoritas memang menjawab potensi efek jejaring yang dihasilkan (network effect).

Wajar, ini eranya teknologi informasi. Ibarat telepon, kalau hanya satu orang yang memiliki maka nilainya nol. Nah semakin besar yang sudah pegang aksesnya dan berada dalam jaringan itu, maka semakin besar pula nilai dan efek jejaringnya.

Lalu ada pula yang melihat growth, atau potensi untuk dijadikan ekosistem pada platform yang lebih besar (super apps).

Namun untuk mendapatkan itu semua, pemilik awal-lah yang paling banyak berkorban. Dengan masuknya investor baru, maka otomatis persediaan cash “untuk dibakar” tersedia, namun pemilik lama harus mengorbankan sahamnya yang terus terdilusi.

Kini misalnya, Jeff Bezos hanya punya 12 persen di Amazon, Jack Ma (Alibaba) 11,7 persen, dan Ren Zhengfei (Huawei) tinggal 1 persen. Hal serupa juga dialami hampir semua pendiri unicorn Indonesia.

Nafas Panjang Investor Amazon

Jadi sampai di sini mungkin ada nasehat yang bisa saya berikan. Pertama, kalau ada start up yang baru berumur dua atau lima tahun tapi masih rugi, hendaklah kita jangan langsung men-judge bisnisnya tak punya prospek. Anda harus melihat dulu bagaimana network effect-nya. Agar lebih jelas, mari kita simak sejenak perjalanan Amazon.

Perusahaan ini didirikan Jeff Bezos pada Juli 1994 dan baru bisa mencetak profit 35 juta dollar AS pada 2003. Setelah itu rugi lagi. Namun, pada Triwulan IV 2017 Amazon meraih untung 1,86 miliar dollar AS.

Jadi, butuh 58 triwulan atau 14 tahun bagi Amazon untuk mencetak untung yang "lumayan besar". Amazon yang dulu hanya dikenal sebagai pedagang buku online kini merambah kemana-mana, termasuk jasa keuangan dan cloud.

Tapi mereka toh masih gemar bakar duit sampai hari ini. Katanya untuk menciptakan masa depan baru memang harus begitu. Harus mengikuti irama pendapatan masyarakat.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X