Berbeda dengan Susi, Edhy Buka Peluang Ekspor dan Budidaya Lobster

Kompas.com - 04/12/2019, 13:45 WIB
Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Palembang menggagalkan penyelundupan 20 ribu baby lobster jenis mutiara dan pasir seharga Rp. 3,5 miliar yang akan diselundupkan ke Singapura. HANDOUTPangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Palembang menggagalkan penyelundupan 20 ribu baby lobster jenis mutiara dan pasir seharga Rp. 3,5 miliar yang akan diselundupkan ke Singapura.

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo kembali mengambil kebijakan yang bertentangan dengan kebijakan menteri sebelumnya, Susi Pudjiastuti. Kali ini, soal kebijakan peredaran benih lobster.

Edhy kembali mempertimbangkan peredaran benih lobster untuk dibudidaya maupun diekspor.

Kendati masih dikaji, kebijakan ini tidak sesuai dengan yang dilakukan Susi, yang jelas-jelas melarang peredaran benih lobster di bawah 200 gram sesuai dengan Peraturan Menteri (Permen) 56/2019.

"Kemungkinan ada (peluang ekspor), kemungkinan tidak. Banyak hal yang kita harus luruskan. Kebijakan menteri sebelumnya banyak yang bagus dan banyak yang mesti kita teruskan. Tapi kami punya langkah-langkah untuk meningkatkan sektor kelautan," ucap Edhy di Jakarta, Rabu (4/12/2019).

Baca juga : KKP Gagalkan 440.770 Benih Lobster Senilai Rp 66 Miliar Lebih

Pertimbangan Edhy soal peredaran benih lobster bukan tanpa alasan. Dia menemukan, benih lobster yang diimpor ke Vietnam dari Singapura sebanyak 80 persennya berasal dari Indonesia.

Hal itu membuat harga benih lobster kian melambung jadi Rp 139.000 per benih dari Rp 50.000 hingga Rp 70.000 per benih.

"Coba kalau kita mengarahkan ini, mengelola ini dengan baik, kita atur rapih-rapih, kita buat aturan. Langsung dagangnya dari Indonesia ke Vietnam. Baru kemudian kita hitung berapa pajak yang harus mereka bayar," tutur Edhy.

Edhy mengaku, adanya kemungkinan mengedarkan kembali benih lobster akan menuai pro kontra. Namun bila masalahnya soal keseimbangan ekosistem, dia berjanji akan mengambil jalan keluar yang tidak mengganggu ekosistem di alam.

"Kalau memang alasannya kehabisan induk di alam, kita minta saja bagian berapa persen untuk ditaruh lagi oleh pengekspor di alam. Sebelum itu kita tentukan kuota ekspor, siapa yang ekspor bisa kita tunjuk. Saya pikir bukan hal yang sulit, banyak cara untuk itu," tutur Edhy.

Terlebih, menurut Edhy, benih lobster yang hidup di laut hanya 1 persen. Sementara budidaya benih lobster bisa membuat 40-70 persen benih lobster hidup sesuai dengan jenis lobster.

"Makanya kita ingin kaji ini secara ilmiah. Karena lobster itu kalau tidak dipanen, toh tumbuhnya hanya 1 persen, sisanya mati. Kalau dibudidaya ada 40-70 persen tergantung jenis lobster. Makanya mungkin kami minta pengekspor masukkan di tempat benih-benih itu diambil," pungkas Edhy.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X