BrandzView
Konten ini merupakan kerjasama Kompas.com dengan Sampoerna Retail Community

Siasat Toko Kelontong Hadapi Era Industri 4.0

Kompas.com - 04/12/2019, 19:42 WIB
Seperti apa siasat toko kelontong dalam menghadapi era Industri 4.0? Shutterstock/RembolleSeperti apa siasat toko kelontong dalam menghadapi era Industri 4.0?

Matahari tenggelam tepat saat kami memasuki Gerbang Tol Bekasi Timur. Saat itu, tim Kompas.com baru saja menyelesaikan petualangannya di kota Bekasi.

Kendaraan kami merayap perlahan di tengah proyek pembangunan light rail transit (LRT) dan elevated toll road yang membentang sepanjang Bekasi hingga Karawang. Kepadatan mulai terurai saat kami memasuki kawasan Cikampek.

Setelah membelah jalanan sejauh 180 kilometer, akhirnya kami memasuki kota Cirebon via Gerbang Tol Plumbon. Kami segera menuju penginapan yang ada di kawasan Bondol untuk melepas lelah.

Pagi pun menjelang, kami bersiap untuk menuju sebuah toko kelontong yang ada di kawasan Kesambi.

Baca juga: Toko Kelontong Masa Kini Ciptakan Ruang Interaksi Masyarakat

Bangunan-bangunan tua dan modern tampak rukun berdampingan. Berbagai ornamen tradisional mewarnai setiap sudut jalan yang kami lalui, membangkitkan nuansa ekletik khas Cirebon.

Menikmati suasana senja di kota Cirebon, tampak Gunung Ciremai dari kejauhanShutterstock/Akhmad Dody Firmansyah Menikmati suasana senja di kota Cirebon, tampak Gunung Ciremai dari kejauhan

Sejak lama, Cirebon memang dikenal sebagai kota yang unik dan bersejarah.

Catatan sejarah dalam naskah Babad Tanah Sunda dan Carita Purwaka Caruban Nagari, nama Cirebon berasal dari kata “Caruban” yang dalam bahasa Sunda berarti “campuran”.

Nama tersebut merepresentasikan pluralitas masyarakat kota Cirebon yang terdiri dari beragam suku bangsa, adat dan agama. Tak heran mengingat kota ini adalah salah satu pusat perdagangan tertua di Pulau Jawa.

Lokasinya yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat, membuat Cirebon memiliki corak kebudayaan tersendiri.

Di kota ini pula, ada sebuah pergerakan yang digalakkan oleh toko-toko kelontong.

Baca juga: Peran Toko Kelontong Masa Kini dalam Membangun Geliat Interaksi Masyarakat

Mereka bersiasat, memikirkan upaya-upaya untuk beradaptasi dengan perubahan zaman. Kala dimana semua harus bersiap menghadapi perkembangan teknologi merasuk ke setiap lini kehidupan manusia.

Digitalisasi

Setelah kurang lebih 15 menit perjalanan, tim Kompas.com tiba di sebuah toko kelontong yang ada di Jalan Dr. Sutomo.

Toko kelontong tersebut tampak cukup besar dengan tampilan interior layaknya ritel modern yang rapi, bersih dan terang.

Di sebelah toko, terdapat semacam garasi yang menampung galon air mineral dan tabung gas. Sesekali, tampak orang yang lalu lalang di sana untuk mengambil galon ataupun tabung setelah selesai membayarnya di kasir.

Pohon-pohon rindang yang mewarnai setiap sudut jalannya membuat kawasan tersebut layaknya oase di tengah teriknya cuaca Cirebon.

Toko kelontong SRC Tatik yang ada di bilangan Kesambi, CirebonAdzhahri Ahmad Toko kelontong SRC Tatik yang ada di bilangan Kesambi, Cirebon

“Cangkrukan SRC Tatik”, begitu yang tertulis pada plang di depan toko. Tampak beberapa pengemudi ojek online sedang bersantai seraya menanti pesanan di kursi-kursi yang ada di sana.

“Cangkrukan itu artinya tempat buat kongkow mas,” ujar seorang wanita.

Wanita itu adalah Tatik Lusia Sari (42), pemilik toko kelontong SRC Tatik yang telah menanti kehadiran kami sedari pagi.

Baca juga: Melalui Pojok Lokal, SRC Beri Jalan Pelaku UKM Lakukan Promosi Produk

Tatik berkisah toko kelontong tersebut didirikannya sejak 2007 silam. Saat itu, tokonya masih sangat kecil serta jauh dari kata rapi dan tertata.

“Pertama saya buka ukurannya hanya 3x3 meter. Etalasenya masih di depan, banyak (barang dagangan) yang masih digantung juga,” kisahnya.

Selama beberapa tahun beroperasi, ujar Tatik, omzet tokonya cenderung stagnan.

“Paling besar Rp 500 ribu sehari,” ujarnya.

Perjalanan Tatik dimulai dengan toko kelontong kecil yang didirikannya pada 2007Adzhahri Ahmad Perjalanan Tatik dimulai dengan toko kelontong kecil yang didirikannya pada 2007

Sampai pada tahun 2013, roda nasib Tatik berputar 180 derajat setelah memutuskan untuk bergabung dengan Sampoerna Retail Community (SRC).

Sejak bergabung dengan SRC, Tatik merasa usaha toko kelontongnya perlahan berkembang. Menurutnya, hal ini karena SRC terus memberikan pembinaan dan dorongan semangat untuk maju.

“Pelan-pelan saya rapikan toko, mulai dari cat sampai beli rak gondola. Barang-barang (dagangan) juga ditata sesuai kategorinya,” kisahnya.

Ada hal menarik saat kami menelusur ke dalam toko kelontong milik Tatik.

Terdapat mesin-mesin EDC dan papan QR Code yang ada di bagian kasir. Selain itu, tampak petugas kasir sedang memindai barang-barang yang dibeli oleh pelanggan.

Baca juga: SRC Wadahi Peritel Tradisional Hadapi Perubahan Zaman

“Sudah sekitar dua tahunan lah pake komputer. Kalau mesin (EDC) baru setahun terakhir,” ujarnya.

Tatik menuturkan, SRC mendorong para pemilik toko kelontong binaannya untuk beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Salah satunya adalah dengan menghadirkan pilihan pembayaran nontunai di tokonya.

“Kerasa, sekarang juga sudah banyak pelanggan yang pakai ( transaksi nontunai). Istilahnya jangan kolot lah, harus mengikuti zaman,” tuturnya.

Mesin-mesin EDC bersanding dengan alat timbang tradisional di toko kelontong milik Tatik Adzhahri Ahmad Mesin-mesin EDC bersanding dengan alat timbang tradisional di toko kelontong milik Tatik

Selain itu, toko kelontong SRC Tatik ini juga menghadirkan layanan Pojok Bayar. Lewat layanan ini, para pelanggannya dapat membayar berbagai produk digital dan tagihan seperti pulsa, listrik, PDAM, dan lain sebagainya.

“Kebanyakan sih beli pulsa, token listrik, PDAM, sama BPJS. Kadang ada juga yang beli voucher game,” ujarnya.

Upaya digitalisasi yang dilakukan Tatik pun menuai hasil manis. Omzet Tatik melesat tinggi seiring semakin ramainya pelanggan.

“Alhamdulillah sekarang bisa Rp 7 juta sehari,” ujarnya.

Baca juga: Toko Kelontong Bergandengan Tangan Majukan UKM Lokal

Permudah promosi

Kisah serupa juga kami temui saat mengunjungi toko kelontong SRC ACDC yang ada di kawasan Tegalrejo, Yogyakarta.

Sepanjang petualangan kami mengelilingi toko kelontong SRC di berbagai daerah, toko ini adalah yang terbesar.

“Ini toko sudah dari tahun ’86. Dulu masih kecil, mungkin hanya sepersepuluhnya,” ujar Yohana Sukmawati (55) sang pemilik toko.

Yohana sedang melayani pelanggan di toko kelontongnya yang ada di bilangan Tegalrejo, YogyakartaAdzhahri Ahmad Yohana sedang melayani pelanggan di toko kelontongnya yang ada di bilangan Tegalrejo, Yogyakarta

Yohana berkisah sejak bergabung dengan SRC pada 2011, dirinya mendapat bimbingan dan didorong untuk bergerak ke arah yang lebih modern. Salah satunya adalah dengan pembinaan tentang transaksi digital.

“Sudah dari 2014 (transaksi digital) itu. Awalnya saya tidak paham, maklum orang tua. Tapi SRC telaten dan sabar mau membimbing saya,” kisahnya.

Modernisasi yang dilakukan Sukma mendapatkan respon positif dari para pelanggannya. Selain dapat berbelanja dengan lebih praktis, para pelanggannya pun memiliki banyak pilihan metode pembayaran.

Baca juga: Membaca Kembali Kisah Perjalanan Toko Kelontong di Indonesia

“Kalau lupa bawa uang tidak perlu ke ATM lagi, tinggal gesek bisa di sini. Transfer uang bisa dibantu, sampai buka rekening juga bisa di toko kami,” ujarnya.

Promosi-promosi yang dilakukan oleh Sukma pun semakin mudah dengan hadirnya aplikasi AYO SRC.

Dari sisi pemiliki toko kelontong, aplikasi tersebut dapat memudahkan dalam menjalankan kegiatan operasional toko, termasuk dalam memantau harga dan berbelanja berbagai barang dagangan.

“Sekarang belanja tidak perlu jauh dan antri di grosir, sudah bisa lewat aplikasi,” ujar Yohana.

Yohana menunjukkan cara menggunakan aplikasi AYO SRC di smartphone miliknyaKOMPAS.com/Aditya Mulyawan Yohana menunjukkan cara menggunakan aplikasi AYO SRC di smartphone miliknya

Para pelanggannya dapat melihat promo yang sedang berjalan di toko kelontong SRC sekitarnya dengan menggunakan fitur “terdekat”. Selain itu, kupon undian juga sudah dalam bentuk digital.

“Sekarang buat promosi tidak repot lagi, bisa langsung di AYO SRC. Pelanggan juga bisa langsung cek kupon undian di aplikasi,” jelasnya.

Berbicara soal kenaikan omzet, dirinya mengaku mendapat kenaikan omzet hingga tiga kali lipat sejak bergabung dengan SRC.

“Lebih dari cukup, bisa sekolahkan anak hingga ke S3,” ujarnya sambil tersenyum.

Ekosistem digital

Seiring perubahan zaman, teknologi terus berkembang dan merasuk ke setiap sektor kehidupan manusia.

Terlebih, saat ini akses internet dan smartphone semakin mudah dijangkau oleh berbagai kalangan.

Baca juga: Ekonomi Kerakyatan dan Revolusi Mental

Berdasarkan studi Polling Indonesia dan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia ( APJII), jumlah pengguna internet di Indonesia di tahun 2019 telah mencapai 171 juta orang, tumbuh 10,12 persen dari tahun sebelumnya.

Hal tersebut secara tidak langsung mengubah perilaku kita dalam menjalankan berbagai aktivitas. Salah satunya adalah dalam berbelanja.

Kebiasaan membawa berlembar-lembar uang untuk belanja perlahan terkikis mengingat banyaknya pilihan uang elektronik (e-wallet) yang lebih praktis.

Toko-toko kelontong masa kini yang mengutilisasi alat-alat penunjang transaksi non tunaiKOMPAS.com/Aditya Mulyawan Toko-toko kelontong masa kini yang mengutilisasi alat-alat penunjang transaksi non tunai

Hal tersebut diamini oleh Gubernur Bank Indonesia, Perry Warijo. Dilansir Kompas.com (23/08/2019), dirinya menyatakan terjadi lonjakan penggunaan uang elektronik sebagai alat transaksi sebesar 241,2 persen pada kuartal IV 2019.

Dilansir Kompas.com (8/11/2019), Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah ( UKM) Teten Masduki pun mengatakan UKM harus segera masuk ke ranah digital agar dapat bersaing.

“Kita perlu mendigitalisasi UKM demi meningkatkan market yang lebih luas agar mereka dapat bersaing,” ujarnya.

Merebaknya digitalisasi ini tentunya perlu menjadi perhatian semua orang, terutama bagi para pemilik usaha.

Baca juga: Penyebab Toko Kelontong di Indonesia Sulit Berkembang

Tidak jarang di antara mereka yang harus menelan pil pahit karena tidak siap beradaptasi dengan perubahan.

Menyadari fenomena tersebut, SRC mendorong toko-toko kelontong binaannya untuk mulai masuk ke ekosistem digital.

Hal ini merupakan upaya untuk meningkatkan daya saing toko kelontong di tengah ketatnya persaingan pasar di era Industri 4.0.

Beragam inovasi dihadirkan untuk mendukung kemajuan mitra toko kelontong di tengah era digital seperti aplikasi AYO SRC dan Pojok Bayar.

Menilik kisah di atas, toko kelontong masa kini yang berbenah dan beradaptasi dengan perkembangan dunia digital terbukti dapat bertahan dan mengembangkan usahanya.

 

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya