Pemerintah : Perekonomian Sepanjang 2019 Suram

Kompas.com - 05/12/2019, 06:33 WIB
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. THINKSTOCKSIlustrasi pertumbuhan ekonomi.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah menyebut ada sejumlah peristiwa global pada 2019 yang berdampak terhadap perekonomian nasional.

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Luki Alfirman menyebut kejadian besar yang berdampak ke Indonesia di antaranya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Cina dan demonstrasi besar-besaran di Hong Kong.

"Pada 2019, ternyata gambaran dunia itu terasa cukup suram. Yang lebih menyeramkan lagi adalah adanya ketidakpastian dan volatitas," kata Luki dalam acara Outlook Perekonomian dan Politik di Jakarta, Rabu (4/12/2019).

Adanya serangkaian ketidakpastian global ini mengharuskan Indonesia bergerak cepat untuk menjaga stabilitas perekonomian. "Jadi masalah kita semua saat ini termasuk Indonesia adalah bagaimana kita bermanuver, bagaimana kita bernavigasi," ucapnya.

Sementara itu, International Monetary Fund (IMF) memprediksi pada tahun ini pertumbuhan ekonomi global dikoreksi menjadi 3,0 persen. Sementara pertumbuhan perdagangan global proyeksinya sebesar 1,1 persen.

Baca juga : Jokowi Sebut Pertumbuhan Ekonomi Akhir Tahun Ini Lebih Rendah dari Target

Untuk tahun 2020, pertumbuhan ekonomi global diprediksi menjadi sebesar 3,4 persen. Sementara pertumbuhan volume perdagangan global sebesar 3,2 persen.

Bagaimana dengan Indonesia?

Lantas, bagaimana dengan perekonomian Indonesia?

"Untuk tahun 2019, merupakan tahun spesial karena adanya Pemilu yang diselenggarakan April lalu. Apalagi diadakan secara serentak," ujarnya.

Mengenai aliran modal yang masuk Indonesia dalam bentuk investasi portfolio sepanjang tahun ini masih minim karena faktor ketidakpastian global.

"Dari sisi global berhadapan dengan kondisi serba suram tadi, akhirnya di sisi moneter mengambil kebijakan expantionery. Sampai pertengahan November 2019, aliran modal masuk dalam bentuk bond masuk Rp 170 triliun," katanya.

Begitu pula dengan investasi asing secara langsung atau Foreign Direct Investment (FDI) ke Indonesia, Luki mengakui nilai pertumbuhannya negatif karena adanya Pemilu sehingga investor lebih memilih wait and see.

"Sebagai imbas perang dagang antar AS dan Cina, ekspor kita turun dan memunculkan defisit neraca perdagangan. Untuk sektor perdagangan saat hingga kuartal III kemarin gambarnya cukup suram," ujarnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X