Kompas.com - 06/12/2019, 15:41 WIB
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani memberi keterangan seusai acara buka puasa di Grand Sahid Jaya, Jakarta, Rabu (22/5/2019). KOMPAS.com/MURTI ALI LINGGAKetua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani memberi keterangan seusai acara buka puasa di Grand Sahid Jaya, Jakarta, Rabu (22/5/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Adanya pencopotan Direktur Utama (Dirut) Garuda Indonesia, I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra atau Ari Ashkara oleh Menteri BUMN, Erick Thohir, diharapkan membawa dampak positif bagi industri pariwisata.

Salah satunya persoalan harga tiket pesawat yang masih tinggi yang selama ini dikeluhkan oleh masyarakat.

"Kita berharap ya, paling tidak menjadi kompetitif. Poinnya bisa dirasakan oleh masyarakat, tiketnya itu tidak kompetitif dibandingkan di ASEAN maupun Amerika," ujar Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Hariyadi Sukamdani, di Jakarta, Jumat (6/12/2019).

Industri penerbangan Indonesia meski telah menerapkan Low Cost Carrier (LCC), tetap saja menurutnya tidak mengurangi permasalahan. Karena tidak adanya maskapai lain selain Garuda Indonesia Group dan Lion Air Group.

Baca juga : Bagaimana Hitung-hitungan Tarif Tiket Pesawat?

Dia menyebut, 97 persen penerbangan kedua maskapai tersebut paling mendominasi pangsa pasar. Maka tak heran, bila harga tiket penerbangan masih tinggi.

"Seperti di Eropa, sama-sama penerbangan satu setengah jam sampai dua jam, kalau kita bicara LCC, itu ya mahal. Ketika tidak ada kompetisi, semuanya mahal. Begitu ada kompetitor masuk, harganya bisa murah," katanya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Wilayah timur, sebut Hariyadi, yang paling terdampak akibat tiket mahal tersebut. Oleh sebab itu, dibutuhkan adanya kompetisi dalam industri penerbangan.

"Nggak fair-lah, masa masyarakat dirugikan gitu. Dan ini sangat terganggu banget di wilayah timur, terasa banget kunjungan orang ke Indonesia bagian timur berkurang," ucapnya.

Sebagai Ketua PHRI, dia menyarankan kepada pemerintah untuk membuka kompetisi di industri penerbangan sehingga bisa menekan harga tiket yang mahal.

"Saya sampaikan ke pemerintah, ini saatnya buka kompetisi. Karena kalau sudah kompetitif ini akan beda," ucapnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.