Ledakan Digital Jadi Pendorong Perekonomian RI Tahun Depan

Kompas.com - 06/12/2019, 18:48 WIB
Ilustrasi perkembangan digital ekonomi Indonesia pada 2020 ThinkstockIlustrasi perkembangan digital ekonomi Indonesia pada 2020

JAKARTA, KOMPAS.com - Ekonomi Indonesia tahun 2020 mendatang dipandang relatif masih memiliki potensi yang bisa dikembangkan. Meski, banyak pula tantangan yang dihadapi seiring dengan kondisi perekonomian global yang masih diwarnai ketidakpastian.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira mengataan, salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi RI tahun depan adalah tren ledakan ekonomi digital. Pasalnya, saat ini Indonesia merupakan negara dengan jumlah perusahaan rintisan atau start up terbesar kelima di Indonesia.

Hingga hari ini, tercatat Indonesia memiliki 2.000 start up dan akan terus tumbuh hingga 2.500 start up pada 2020 mendatang.

"Sekarang baru ada 5 unicorn dan decacorn kalau digabung, dan kemungkinan besar akan ada unicorn baru. Ini kita melihat akan ada ledakan ekonomi digital," ujar Bhima ketika berbicara dalam acara OCBC Morning Talk di Jakarta, Jumat (6/12/2019).

Bhima mengatakan, ledakan ekonomi digital yang terjadi di Asia Tengara pada umumnya dan Indonesia pada khususnya, tidak terjadi di kawasan lain. 

Baca juga : Era Digital, Pelaku Industri Harus Cepat Bertransformasi

Indonesia menurut dia memiliki kultur baru dalam dunia usaha. Hal itu yang akan menjadi pendobrak pertumbuhan ekonomi di 2020.

"2019 itu pertama kalinya di Asia Tenggara sudah ada 100 miliar dollar AS perputaran uang dari ekonomi digital, itu meliputi e-commerce, fintech, agritech, dan lainnya. Dan tahun 2025 menurut studi dari Google dan Tamasek akan tumbuh tiga kali lipat yaitu mencapai 300 miliar dollar AS," jelas dia.

Bhima pun mengatakan, industri digital yang berkembang di Indonesia saat ini memiliki efek turunan yang cukup besar di industri UMKM.

Hal tersebut terlihat dari data terakhir Gofood 2018 lalu, di mana pemesanan martabak manis hingga 7 juta kali pesanan, kemudian 10 juta pesanan ayam geprek dalam setahun.

"Jadi ini semua terakumulasi karena keberadaan channel Gofood. Muncul warung dadakan. Jadi investasi kita mungkin secara global memang sedikit melambat, ekspor juga tahun yang berat," ujar dia.

"Tapi karena konsumsi domestik masih jadi penopang dan ledakan ekonomi digital, UMKM ini masih akan menyerap tenaga kerja yang relatif besar," jelas dia.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X