Sejarah Panjang Garuda Indonesia yang Pernah Rajai Langit Asia

Kompas.com - 10/12/2019, 12:32 WIB
Garuda pernah hampir bangkrut sebelum diselamatkan Tanri Abeng. Nuansa vintage dalam penerbangan Garuda Indonesia yang bertajuk Garuda Indonesia Classic Brand pada Desember 2018. DOK. Garuda IndonesiaGaruda pernah hampir bangkrut sebelum diselamatkan Tanri Abeng. Nuansa vintage dalam penerbangan Garuda Indonesia yang bertajuk Garuda Indonesia Classic Brand pada Desember 2018.

KOMPAS.com - Isu tak sedap seolah belum reda menerpa PT Garuda Indonesia Tbk (Persero) dalam sepekan terakhir. Bersih-bersih maskapai flag carrier ini tengah dilakukan Menteri BUMN Erick Thohir.

Usia perusahaan ini nyaris sama dengan umur berdirinya republik ini. Sejarah Garuda tak bisa dilepaskan dari masa perang kemerdekaan, saat rakyat Aceh sukarela menyumbangkan hartanya untuk pembelian pesawat pertama Garuda, Dakota RI-001 Seulawah.

Dalam beberapa dekade sejak orde lama, Garuda Indonesia mengalami pasang surut bisnis seiring pergantian penguasa.

Seperti diberitakan Harian Kompas, 26 Januari 1999, Garuda Indonesia sempat menikmati kejayaannya di tahun 1980-an.

Armada Garuda Indonesian Airways waktu itu mencapai 79 pesawat, menjadikan Garuda sebagai maskapai penerbangan terbesar di belahan bumi selatan dan kedua di Asia setelah Japan Air Lines.

Baca juga: Cerita Garuda yang Pernah Nyaris Bangkrut

Butuh waktu bertahun-tahun membangun reputasi tersebut. Tidak lain dibangun dengan kredibilitas dan pemupukan modal yang saat itu susah payah dibangun Direktur Utama Garuda Wiweko Soepono yang menjabat tahun 1968-1984.

Saat itu, Wiweko merombak habis-habisan Garuda. Tindakannya ini sangat tidak populer dan kecaman datang dari segala penjuru, namun ia tidak peduli dan terus melabrak setiap usaha yang menghalangi tugasnya menyehatkan perusahaan yang dipercayakan oleh pemerintah.

Pada awal kepemimpinannya, otoritas dipusatkan di tangannya tetapi kemudian Wiweko membatasi kegiatannya hanya pada masalah strategis.

Wiweko disebut-sebut jadi satu-satunya dirut yang sering berdialog dengan para penerbang dan teknisi, yang mau turun ke lapangan sampai ke bengkel pesawat hingga menerbangkan penumpangnya sendiri.

Gaya kepemimpinannya dikritik terlalu otoriter dan tidak transparan, namun di sisi lain transparansi itu dituangkan dalam buku laporan tahunan alias annual report.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X