2019 Tahun yang Berat bagi Industri Penerbangan Dunia, Mengapa?

Kompas.com - 11/12/2019, 20:09 WIB
Ilustrasi pesawat Delta. SHUTTERSTOCKIlustrasi pesawat Delta.

NEW YORK, KOMPAS.com - Asosiasi Transportasi Udara Internasional ( IATA) menyatakan, laba industri penerbangan dunia akan lebih rendah dari proyeksi pada tahun 2019 ini.

Penyebabnya adalah tertekannya jumlah penumpang dan volume kargo, sejalan dengan perlambatan ekonomi global dan perang dagang.

Dikutip dari Bloomberg, Rabu (11/12/2019), IATA telah menurunkan proyeksi laba tahunan industri penerbangan dunia menjadi 25,9 miliar dollar AS. Angka ini lebih rendah 2,1 miliar dollar AS dibandingkan proyeksi pada Juni 2019.

Angka tersebut pun lebih rendah 10 miliar dollar AS dibandingkan proyeksi yang dibuat IATA setahun lalu.

"Ketegangan geopolitik, gejolak sosial, dan ketidakpastian terkait Brexit berkontribusi pada kondisi bisnis yang lebih sulit," kata IATA.

Baca juga: IATA: Laba Maskapai Penerbangan Asia Pasifik Naik 8,3 Persen pada 2019

Data tersebut yang dirilis IATA tersebut mencerminkan penurunan 14 persen dibandingkan tahun 2018 lalu. Walaupun demikian, IATA mengekspektasikan adanya perbaikan kondisi bisnis pada tahun 2020.

Akan tetapi, ada beberapa tantangan yang menghadang, antara lain kekhawatiran mengenai emisi karbon yang mengarah pada pengajuan pajak terhadap bahan bakar pesawat, hingga ketidakpastian terkait masih dilarang terbangnya pesawat Boeing 737 MAX.

"Pertanyaan besar untuk tahun 2020 adalah bagaimana kapasitas akan berkembang, khususnya ketika pesawat Boeing 737 MAX akan kembali beroperasi dan pesawat-pesawat yang ditunda pengirimannya akhirnya tiba," ujar CEO IATA Alexandre de Juniac.

IATA menyebut, maskapai-maskapai di Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Latin diprediksi bakal menderita kerugian pada tahun ini.

Baca juga: Ini Upaya Pemerintah Menyuntik Industri Penerbangan

Adapun kawasan yang paling menguntungkan bagi maskapai adalah Amerika Utara, menyumbang 65 persen dari pendapatan industri penerbangan.

Kerugian yang dialami maskapai-maskapai Amerika Latin diprediksi berakhir pada 2020 sejalan dengan penguatan ekonomi regional. Saat ini ada 290 maskapai yang beroperasi di kawasan itu.

Laba maskapai-maskapai Eropa diprediksi membaik pada tahun 2020. Adapun pendapatan kargo diprediksi masih akan menukik pada 2020.

Kawasan Asia Pasifik diproyeksi bakal menunjukkan peningkatan pendapatan, dengan asumsi tidak ada kebijakan lanjutan terkait tarif dan meski perang dagang masih berlangsung.



Sumber Bloomberg
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X