Nelayan Sultra Khawatirkan Kebijakan Edhy Buka Ekspor Benih Lobster

Kompas.com - 16/12/2019, 11:38 WIB
Sejumlah barang bukti dihadirkan saat rilis kasus penyelundupan bibit lobster di Gedung KPU Bea Cukai Tipe C Bandara Soekarno-Hatta Tangerang, Banten, Jumat (23/02/2018). Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Kementrian Keuangan, menggagalkan penyelundupan 71.982 ekor benih lobster jenis pasir dan mutiara di Terminal Keberangkatan 2D Bandara Soekarno-Hatta pada Kamis 22 Februari 2018 kemarin. KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELISejumlah barang bukti dihadirkan saat rilis kasus penyelundupan bibit lobster di Gedung KPU Bea Cukai Tipe C Bandara Soekarno-Hatta Tangerang, Banten, Jumat (23/02/2018). Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Kementrian Keuangan, menggagalkan penyelundupan 71.982 ekor benih lobster jenis pasir dan mutiara di Terminal Keberangkatan 2D Bandara Soekarno-Hatta pada Kamis 22 Februari 2018 kemarin.
|

KOMPAS.com - Sejumlah nelayan di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, mengkhawatirkan sulitnya pasokan benih lobster jika pemerintah kembali membuka ekspor benur.

Diberitakan Harian Kompas 16 Desember 2019, nelayan Konawe sangat mengandalkan suplai bibit lobster dari luar daerah, itu pun dengan harga selangit.

”Kalau nanti jadi membuka keran ekspor benih lobster, pasti bibit makin susah dan bisa jadi semakin mahal. Harga lobster di pasar juga akan semakin murah,” kata Ketua Kelompok Nelayan Bintang Fajar, Bahar.

Tahun ini, nelayan Soropia membeli bibit lobster Rp 600.000 per kilogram termasuk pengiriman. Isinya rata-rata lima ekor dengan berat 2 ons.

”Tahun ini, saya keluarkan modal Rp 36 juta untuk bibit saja,” kata Bahar.

Baca juga: Dilema Edhy, Larang Ekspor Benih Lobster dan Maraknya Penyelundupan

Akibat tingginya harga benih lobster dan ketiadaan bantuan pemerintah, nelayan harus utang tiap masa panen. Hal serupa dialami 11 nelayan lain di Kelompok Nelayan Bintang Fajar.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hisyam, nelayan lain, mengatakan, ia mengeluarkan modal Rp 18 juta untuk 30 kg bibit lobster. Bibit ia rawat lebih kurang 10 bulan sebelum dijual.

Akan tetapi, ada risiko mematikan penyakit lobster budidaya.

”Sudah bibit mahal, kalau kena virus langsung mati. Kami perlu perhatian pemerintah untuk ini,” katanya.

Menurut Bahar, nelayan harus mengambil kredit bank untuk membiayai pengadaan benih lobster setiap tahun. Untuk tahun 2020, Bahar telah mengajukan kredit pinjaman Rp 40 juta untuk pembelian bibit di sembilan petak keramba.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.