Hidup Mati Mobil Listrik Eropa Bergantung Nikel

Kompas.com - 18/12/2019, 10:32 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Uni Eropa (UE) gerah dengan langkah Indonesia menyetop ekspor bijih nikel mentah. Mereka bahkan berencana menggugat Indonesia ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) terkait larangan ekspor yang efektif berlaku mulai 1 Januari 2020.

Pelarangan ekspor mineral mentah ini mengacu pada Peraturan Menteri (Permen) ESDM nomor 11 tahun 2019 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri ESDM Nomor 25 Tahun 2018 tentang Pengusahaan Pertambangan Mineral dan Batubara.

Indonesia merupakan salah satu produsen dan eksportir nikel terbesar dunia yang menguasai sekitar 27 persen pasar global. Kendati demikian, Indonesia selama puluhan tahun hanya mengekspor nikel mentah.

Negara produsen nikel lainnya yakni Amerika Serikat, Australia, Bolivia, Brasil, China, dan beberapa negara Afrika.

Melansir pemberitaan Harian Kompas, 18 November 2019, Ekonom PT Bank UOB Indonesia Enrico Tanuwidjaja, memaparkan bahwa nikel adalah mineral yang sangat berharga di masa depan karena pesatnya perkembangan kendaraan listrik.

Baca juga: Mengenal Nikel, Logam yang Disamakan Edhy Prabowo dengan Lobster

Nikel adalah salah satu logam terbesar dalam pembuatan baterai listrik. Lithium-ion ibarat jantung dari revolusi mobil listrik.

Kandungan baterai lithium-ion itu, terdiri dari anoda, katoda, dan elektrolit. Nikel merupakan komponen logam yang dominan dalam komposisi baterai listrik, khususnya katoda.

"Selama dua dekade terakhir, produsen telah berupaya meningkatkan kadar nikel dalam komponen bahan baku utama baterai mobil listrik, mengingat harga nikel relatif lebih murah," kata Enrico.

Bahkan dengan teknologi baterai lithium-ion yang semakin berkembang seiring pesatnya pertumbuhan kendaraan listrik, kandungan nikel diprediksi akan semakin besar karena memiliki penyimpanan daya yang lebih baik.

Peningkatan kandungan nikel dalam komposisi baterai akan meningkatkan kepadatan energinya sehingga mobil listrik akan memiliki kemampuan jarak tempuh yang lebih jauh.

Baca juga: Harta Karun di Masa Depan Itu Bernama Nikel

Pada awal 2019, produsen baterai mobil listrik di China, Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CATL), telah memasarkan baterai Lithium Nickel Cobalt Mangan (NCM) 811 (80 persen nikel, 10 persen kobalt, 10 persen mangan) dengan kandungan nikel lebih tinggi dari pendahulunya.

Pangsa pasar baterai NCM 811 menduduki posisi kedua terbesar di China (setelah NCM 523), meningkat menjadi 13 persen pada Agustus 2019, dari 1 persen pada Januari dan 4 persen pada Juni 2019.

Baterai NCM 811 telah membuat terobosan di China dan disinyalir akan segera dikomersialkan secara luas kepada produsen mobil listrik seperti Volkswagen, General Motors (GM), dan BMW.

Tak berhenti di situ, upaya meningkatkan kandungan nikel pada baterai mobil listrik terus dikembangkan oleh produsen melalui inovasi berikutnya, yaitu baterai NCM 90 (90 persen nikel, 5 persen kobalt, 5 persen mangan yang diprediksi akan diluncurkan pada 2025 atau lebih cepat.

Bagi Indonesia, nikel merupakan komoditas mineral yang sangat strategi di pasar dunia bersama timah dan batubara.

Baca juga: Perang Dagang Indonesia-Uni Eropa: Sawit Ditolak, Nikel Bertindak

Dengan mengolah bijih nikel di peleburan dan pemurnian (smelter) di dalam negeri, Indonesia bisa mendapatkan keuntungan yang jauh berlipat ketimbang mengapalkan bijih nikel yang masih berupa 'tanah'.

Dengan mengolah bijih nikel menjadi feronikel, misalnya, harganya dapat meningkat dari 55 dollar AS per ton menjadi 232 dollar AS per ton, atau memberikan nilai tambah sekitar 400 persen.

Nilai ekspor bijih nikel Indonesia ke Uni Eropa mengalami peningkatan tajam dalam beberapa tahun terakhir. Tercatat, ekspor bijih nikel Indonesia naik signifikan sebesar 18% pada kuartal kedua 2019 dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2017.

Yang unik, China meskipun memiliki cadangan nikel yang besar, selama puluhan tahun lebih banyak mengimpor bijih nikel dari Indonesia dan negara produsen lain. 

Negeri Panda menyerap lebih dari 50% produksi nikel dunia untuk kebutuhan industrinya. Sementara itu, setelah rencana larangan ekspor bijih nikel, China bersikap lebih kooperatif dibandingkan Uni Eropa.

Baca juga: Jokowi: Nikel Kita, Mau Ekspor atau Enggak, Suka-suka Kita

Negara ini jauh-jauh hari sudah mengamankan pasokan feronikel, salah satu hasil pemurnian bijih nikel, dengan menanam banyak modal untuk pembangunan smelter di Indonesia.

Baik Eropa maupun China, sejak beberapa tahun terakhir gencar membangun industri kendaraan berbasis listrik yang lebih ramah lingkungan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tesla Beli Nikel ke Perusahaan China di Morowali, Apa Untungnya Buat RI?

Tesla Beli Nikel ke Perusahaan China di Morowali, Apa Untungnya Buat RI?

Whats New
Tingkat Imbalan Sukuk Negara yang Akan Dilelang Besok

Tingkat Imbalan Sukuk Negara yang Akan Dilelang Besok

Spend Smart
Moncer di FIME 2022, Produk Medis Indonesia Raih Potensi Transaksi 5,7 Juta Dollar AS

Moncer di FIME 2022, Produk Medis Indonesia Raih Potensi Transaksi 5,7 Juta Dollar AS

Rilis
Nilai Tukar Rupiah Ditutup Menguat ke Level Rp 14.876 Per Dollar AS

Nilai Tukar Rupiah Ditutup Menguat ke Level Rp 14.876 Per Dollar AS

Whats New
Diminta Sediakan Tiket Pesawat dengan Harga Terjangkau, Ini Kata Citilink

Diminta Sediakan Tiket Pesawat dengan Harga Terjangkau, Ini Kata Citilink

Whats New
Kembangkan Bisnis UMKM, Peran Swasta dan BUMN Sangat Dinanti

Kembangkan Bisnis UMKM, Peran Swasta dan BUMN Sangat Dinanti

Whats New
Apa Sumber Kekuatan IKM Bertahan di Masa Pandemi dan Ancaman Resesi Global?

Apa Sumber Kekuatan IKM Bertahan di Masa Pandemi dan Ancaman Resesi Global?

Whats New
Tekan Gap Kebutuhan Gula Konsumsi, Kemenperin: Produksi Terus Digenjot

Tekan Gap Kebutuhan Gula Konsumsi, Kemenperin: Produksi Terus Digenjot

Rilis
Semester I-2022, Laba Bersih UOB Group Naik Tipis

Semester I-2022, Laba Bersih UOB Group Naik Tipis

Rilis
Bangkit Jelang Penutupan, IHSG Ditutup Menguat Tipis

Bangkit Jelang Penutupan, IHSG Ditutup Menguat Tipis

Whats New
Tingkatkan Produksi Blok Rokan, PHR Punya Pusat Digitalisasi DICE

Tingkatkan Produksi Blok Rokan, PHR Punya Pusat Digitalisasi DICE

Whats New
Jaga Ketahanan Energi Nasional, Pertamina Maksimalkan Kinerja Operasi

Jaga Ketahanan Energi Nasional, Pertamina Maksimalkan Kinerja Operasi

Whats New
Ini Alasan SRO Ajak Investor Tingkatkan Transaksi di Pasar Modal pada 9 Agustus 2022

Ini Alasan SRO Ajak Investor Tingkatkan Transaksi di Pasar Modal pada 9 Agustus 2022

Whats New
Hubungan China dan Taiwan Memanas, RI Dinilai Bisa Lakukan Penetrasi Ekspor

Hubungan China dan Taiwan Memanas, RI Dinilai Bisa Lakukan Penetrasi Ekspor

Whats New
Buruh Tembakau Surati Jokowi, Memohon Revisi Aturan Pengendalian Rokok Dihentikan

Buruh Tembakau Surati Jokowi, Memohon Revisi Aturan Pengendalian Rokok Dihentikan

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.