Beli Saham IPO Selalu Untung? Cek Faktanya

Kompas.com - 25/12/2019, 06:47 WIB
Suasana Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (1/7/2018). IHSG dibuka pada 6.381,18 naik 22,56 poin dibandingkan penutupan perdagangan Jumat lalu. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGSuasana Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (1/7/2018). IHSG dibuka pada 6.381,18 naik 22,56 poin dibandingkan penutupan perdagangan Jumat lalu.

LISTING  atau dikenal dengan istilah Initial Public Offering ( IPO) adalah pencatatan saham perdana perusahaan di bursa efek.

Dengan demikian saham perusahaan yang bersangkutan diperjualbelikan di pasar saham, dalam hal ini di Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai dari jam 9.00-16.00 WIB.

Ada fenomena yang menyatakan bahwa saham perusahaan IPO "pasti naik". Anggapan itu karena umumnya saham perusahaan tersebut bagus untuk diinvestasikan dan peminatnya tinggi.

Mari kita lihat.

Apakah ada berita bagus pada saham IPO?

Data historis saham IPO:

1. Tahun 2017 ada 37 saham IPO, dan ada dua saham yang turun di hari pertama perdagangannya, yaitu CARS dan PPRE.

2. Tahun 2018 ada 58 saham IPO, dan ada tiga saham yang turun di hari pertama perdagangannya, yaitu HEAL, MDKE, dan CAKK.

3. Tahun 2019 (sampai dengan 10 Desember 2019) ada 52 saham IPO, dan ada tiga saham yang turun di hari pertama perdagangannya, yaitu CCSI, IPTV, dan BAPI.

Rata-rata kenaikan seluruh saham IPO di hari pertama dari tahun 2017-2019 adalah 46 persen.

Apa kabarnya harga saham-saham tersebut seiring berjalan waktu dari tahun ke tahun?

Saham IPO 2017-2019

Ada hal yang menarik pada harga saham-saham IPO mulai dari 2017 sampai 2019.
Menariknya adalah saham-saham IPO tersebut banyak "memakan korban".

Bahkan per tanggal 13 Desember 2019 sudah ada 13 saham yang harganya sudah turun di bawah harga IPO.

Hanya harga saham NASA, BELL, dan HOKI yang end year to end year nya cukup stabil atau naik selama 3 tahun terakhir semenjak IPO.

Saham IPO 2018-2019

Ada hal yang menarik pada harga saham-saham IPO mulai dari 2018 sampai 2019.
Saham-saham yang IPO di tahun 2018 dan kemudian disimpan hingga tahun 2019 juga banyak "memakan korban".

Bahkan per tanggal 13 Desember 2019 sudah ada 23 saham yang harganya sudah turun di bawah harga IPO.

Hanya harga saham URBN, SAPX, LAND, POLL, RISE, MAPA, BTPS, dan INPS end year to end year nya cukup stabil atau naik selama 2 tahun terakhir semenjak IPO.

Saham IPO 2019

Ada hal yang menarik pada harga saham-saham IPO di tahun 2019.

Ada 24 saham dari 52 saham IPO tahun 2019 yang sudah terkoreksi di akhir tahun 2019.
14 dari 24 saham tersebut sudah mengalami penurunan harga lebih rendah daripada harga IPO nya mula-mula.

Saham IPO cenderung naik puluhan persen pada hari pertama, namun cenderung mudah turun pada hari-hari selanjutnya.

Contoh, untuk saham harga Rp 500 naik menjadi harga Rp 1.000, maka terjadi kenaikan 100 persen.
Sedangkan untuk saham harga Rp 1.000 turun menjadi Rp 500, maka terjadi penurunan 50 persen.

Harga saham yang naik lebih terasa euforia-nya dibandingkan harga saham ketika turun.

Walaupun dalam contoh kasus ini harga saham kembali menjadi Rp 500 atau turun 50 persen dari harga saham sebelumnya yaitu Rp 1.000, namun kerugiannya akan terasa luar biasa.

Saham yang IPO di hari pertama tahun 2017, banyak yang mengalami penurunan di tahun tersebut.

Sebagai contoh, saham TOPS (Totalindo Eka Persada) sudah mengalami penurunan harga di hari pertama IPO, sempat diperjuabelikan pada harga Rp 464 dan mengalami penurunan harga hingga Rp 446.

Saham ANDI pada tahun 2018 juga mengalami penurunan di bawah harga IPO nya. Saham ANDI IPO pada harga Rp200 dan kini harganya Rp50.

Kembali kepada konsep utama

Apabila harga saham perusahaan IPO naik pada hari pertama perdagangan dengan asumsi banyak peminatnya, tapi dalam jangka waktu yang relatif pendek (2017-2019) justru cenderung turun.

Anda mungkin berpendapat bahwa IHSG juga sedang turun sehingga saham-saham IPO tersebut menjadi "korban" penurunan harga.

Jika IHSG turun 0,24-2,7 persen, saham-saham IPO justru turun hingga puluhan persen.
Maka ada kemungkinan saham IPO bukan menjadi "korban" dari IHSG, melainkan saham IPO yang mungkin menghambat pergerakan IHSG untuk naik.

Delisting

Setiap tahun di Bursa Efek Indonesia selalu ada saham yang delisting.

Delisting bisa diakibatkan banyak hal, salah satu penyebab yang paling buruk adalah delisting akibat kinerja yang buruk/pailit.

Penyebab delisting lainnya adalah adanya proses merger dua perusahaan sehingga lebih kuat.
Contohnya pada tahun 2017 CTRP dan CTRS menjadi CTRA.

Hal yang merepotkan dari proses delisting adalah menjadi shareholder dari perusahaan tertutup. Dalam proses jual beli saham menjadi lebih sulit karena proses jual belinya berubah manual dan tidak mudah dikendalikan.

Jangan membeli saham berdasarkan emosi, tetapi gunakan ilmu edukasi atau pengetahuan yang mencukupi, sehingga Anda bisa memperoleh saham yang berkualitas.

Bagi Anda yang ingin mempelajari sumber data olahannya silahkan akses pada link sebagai berikut : http://bit.ly/ipopastiuntungpret

Demikian sharing dari saya.
Salam investasi untuk Indonesia !!

 

 

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X