Inflasi Terendah Sejak 20 Tahun Perry Sebut Ada 4 Faktor, Apa Saja?

Kompas.com - 03/01/2020, 18:13 WIB
Gubernur BI, Perry Warjiyo menjelaskan kepada media terkait perkembangan moneter, di Kompleks BI, Jakarta, Jumat (3/1/2020). KOMPAS.com/ADE MIRANTI KARUNIA SARIGubernur BI, Perry Warjiyo menjelaskan kepada media terkait perkembangan moneter, di Kompleks BI, Jakarta, Jumat (3/1/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo mengatakan, inflasi 2019 sebesar 2,72 persen merupakan angka terendah sejak 20 tahun terakhir setelah krisis moneter (krismon) yang terjadi tahun 1998.

Dalam lima tahun ini, BI selalu mematok angka inflasi berada di 3,5 persen ±1 persen, namun realisasi 2019 ternyata lebih rendah dari prediksi sebelumnya.

Rendahnya inflasi ini, menurut dia terdapat empat faktor. Salah satunya permintaan yang tinggi dari masyarakat justru telah dibarengi dengan pasokan berlebih.

"Pertama, bahwa kapasitas produksi atau pasokan jauh lebih memadai dari permintaan. Permintaan memang naik tapi kapasitas produksi kita masih memenuhi sehingga produsen itu masih bisa memenuhi permintaan atau kesenjangan, output gap kita masih negatif," kata Perry ditemui di Kompleks BI, Jakarta, Jumat (3/1/2020).

Baca juga: Angka Inflasi Catat Rekor, Ini Kata BI

Faktor selanjutnya, adanya koordinasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan BI untuk memastikan ketersediaan pasokan bahan pangan dan keterjangkauan harga.

"Itu menunjukkan mengapa inflasi volatile food rendah dan sejumlah barang komoditas itu deflasi, seperti bawang merah. Cabai naik sedikit tapi tidak terlalu besar, hampir semua komponen itu mengalami inflasi yang rendah bahkan deflasi," katanya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selain itu, stabilnya pergerakan nilai tukar rupiah yang mempengaruhi harga barang atas impor tidak begitu tinggi. Meskipun terdapat tekanan akan ketidakpastian global.

"Bahkan mengalami apresiasi sehingga tekanan harga dari eksternal dan global sangat rendah bahkan tidak signifikan sebab stabilitas nilai tukar yang terkendali bahkan apresiasi menguat membuat harga atas barang-barang yang diimpor itu rendah," tuturnya.

Terakhir, terjaganya ekspektasi harga tetap terkendali.

"Keempat, terjaganya ekspektasi harga-harga ke depan di dalam survei, ekspektasi konsumen maupun juga perkiraan-perkiraan inflasi para ekonom, produsen dan konsumen terjaga rendah. Empat faktor itu mengapa yang membuat inflasi rendah dan terkendali," katanya.

Baca juga: BPS: Inflasi 2019 Terendah Sejak 10 tahun Terakhir

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.