2019, Airbus Kalahkan Boeing

Kompas.com - 06/01/2020, 13:28 WIB
Sebuah pesawat Airbus A-330neo mendarat setelah melakukan penerbangan perdana, dengan helikopter merekam pendaratannya pada 19 Oktober 2017 di Bandara Toulouse-Blagnac, Perancis. AFP/PASCAL PAVANISebuah pesawat Airbus A-330neo mendarat setelah melakukan penerbangan perdana, dengan helikopter merekam pendaratannya pada 19 Oktober 2017 di Bandara Toulouse-Blagnac, Perancis.

PARIS, KOMPAS.com - Airbus SA menjadi pabrikan pesawat terbesar di dunia untuk pertama kalinya sejak tahun 2011 pada tahun 2019 lalu.

Sepanjang tahun 2019, Airbus mengirimkan 863 unit pesawat, jauh di atas proyeksi dan naik 7,9 persen dibandingkan tahun 2018 yang mencapai 800 unit.

Angka tersebut pun jauh mengalahkan jumlah pesawat yang dikirim pesaingnya, Boeing Co.

Dilansir dari Reuters, Senin (6/1/2020), kondisi terbalik yang terjadi antara Airbus dan Boeing sudah diprediksi, sejalan dengan krisis yang menimpa Boeing akibat insiden pesawat 737 MAX. Krisis ini diyakini bakal terus berlanjut hingga tahun 2020.

Angka jumlah pengiriman pesawat yang dicetak Airbus pun menandai bahwa Boeing harus susah payah mengejar ketinggalan.

Baca juga: Airbus Bantah Dapat Keuntungan dari Kasus Boeing 737 MAX

Pasalnya, Boeing hanya mengirimkan 345 unit pesawat sepanjang Januari hingga November 2019. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan jumlah pesawat yang dikirim pada tahun 2018, yakni 806 unit.

Sebagai informasi, pabrikan pesawat menerima pendapatan ketika pesawat dikirim. Angka tersebut pun dikurangi akumulasi progres pembayaran, sehingga kinerja pengiriman pesawat per akhir tahun sangat dipantau oleh investor.

Dari 863 unit pesawat yang dikirim Airbus, sebanyak 640 unit merupakan pesawat berbadan ramping. Airbus memecahkan rekor setelah mengalihkan ribuan pekerja dan membatalkan hari libur untuk menyelesaikan cadangan pesawat yang sudah separuh jadi dan tinggal menunggu penyesuaian desain kabin.

Biasanya pabrik-pabrik Airbus tutup pada periode libur Natal dan Tahun Baru.

Akan tetapi, pusat-pusat pengiriman dan penyelesaian perakitan pesawat Airbus tetap beroperasi hingga siang sebelum malam pergantian tahun, agar maskapai-maskapai Asia dan pasar lainnya bisa menikmati pesawat baru yang telah dipesan.

Baca juga: Airbus Ungguli Boeing

Airbus sendiri pun terdampak akibat keterlambatan dalam pemasangan layout baru yang rumit pada jet A321neo yang dirakit di Hamburg, Jerman.

Ini mengakibatkan puluhan pesawat model tersebut dan model lainnya disimpan di hanggar untuk menunggu desain konfigurasi final dan kedatangan lebih banyak tenaga kerja.

Namun, masalah dalam pemasangan kabin tersebut telah membatasi kemampuan Airbus untuk mengambil keuntungan dari gejolak pasar akibat pengiriman Boeing 737 MAX yang anjlok sejak Maret 2019 setelah dua kecelakaan fatal di Indonesia dan Ethiopia.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Sumber Reuters
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X