Harga Gas Industri Mahal, Luhut Sebut Banyak Maling

Kompas.com - 07/01/2020, 05:09 WIB
Menko Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan usai melakukan rapat koordinasi di Kantor Kemenko Marves, Jakarta, Senin (23/12/2019). KOMPAS.com/ADE MIRANTI KARUNIA SARIMenko Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan usai melakukan rapat koordinasi di Kantor Kemenko Marves, Jakarta, Senin (23/12/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam rapat terbatasnya hari ini (6/1/2020), di Istana Kepresiden, merasa kesal dengan melambungnya harga gas industri.

Terkait hal itu, Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan,
mahalnya harga gas industri karena adanya kenaikan harga bahan baku dari sisi hulu.

Hal itu menurut Luhut karena di hulu migas diduga banyak maling.

"Ya dari awal sudah banyak maling di sana," kata Luhut di Kemenko Maritim dan Investasi, Jakarta.

Baca juga: Anggap Harga Gas Mahal, Jokowi: Saya Mau Ngomong Kasar, tapi Enggak Jadi

Sementara Wakil Menteri BUMN, Budi Gunadi Sadikin membenarkan harga jual bahan baku gas yang tinggi di area hulu. Saat ini, harga bahan baku gas di sana mencapai lebih 5 dollar AS MBTU.

"Harga bahan baku gas di hulunya kita tinggi. Jadi sebelum sampai ke PGN, sudah di atas 5 sampai. Ini yang harus kita pikirkan bagaimana harga gas ini murah. Karena harga bahan bakunya, PGN sudah mengambil di atas 5," ucapnya di tempat yang sama.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pemerintah sedang berusaha mencari sumber daya lain agar bisa menggantikan harga bahan baku gas hulu yang terlalu tinggi. Namun, pemerintah tidak akan memberikan subsidi gas industri.

"Aku rasa sayang kalau harga gas disubsidi. Harusnya cari sumber gas yang lain saja, yang lebih baru," katanya.

Baca juga: Belanja Kementeriannya Besar, Luhut Akui Kerap Pakai Uang Pribadi

Menurut Budi Gunadi, potensi penurunan harga gas industri pasti bisa hanya saja tergantung permintaan dan pasokan pasar serta perbedaan antara dalam negeri dan luar negeri yang dianggap harganya tak jauh signifikan.

Dalam ratas, Presiden Jokowi mengatakan, gas bukan semata-mata sebagai komoditas, tapi juga modal pembangunan yang akan memperkuat industri nasional. Ia menyebutkan, ada enam sektor industri yang menggunakan 80 persen volume gas Indonesia, baik itu pembangkit listrik, industri kimia, industri makanan, industri keramik, industri baja, industri pupuk, industri gelas.

“Artinya ketika porsi gas sangat besar bagi struktur biaya produksi maka harga gas akan sangat berpengaruh pada daya saing produk industri kita di pasar dunia. Kita kalah terus poduk-produk kita gara-gara harga gas kita yang mahal,” kata Presiden Jokowi saat memberikan pengantar pada ratas tentang Ketersediaan Gas Untuk Industri.

Karena itu, Jokowi meminta soal harga gas betul-betul dihitung, dikalkulasi agar lebih kompetitif. Ia memerintahkan agar dilihat betul penyebab tingginya harga gas, mulai harga di hulu, di tingkat lapangan gas, di tengah, terkait dengan biaya penyaluran gas, biaya transmisi gas, di tengah infrastruktur yang belum terintegrasi dan sampai di hilir, di tingkat distributor.

Presiden juga meminta laporan mengenai pelaksanaan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 40 Tahun 2016 tentang Penetapan Harga Gas Bumi, apakah ada kendala-kendala di lapangan terutama di tujuh bidang industri yang telah ditetapkan sebagai pengguna penurunan harga gas yang diinginkan pemerintah.

Baca juga: Luhut Bicara soal Keberanian Saat Bahas Mandeknya Normalisasi Ciliwung



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X