Konflik AS-Iran Berlarut, Sektor-sektor Ini Akan Terdampak

Kompas.com - 07/01/2020, 07:41 WIB
Ilustrasi tentara Amerika Serikat (AS) yang tengah melakukan persiapan. Menteri Pertahanan Mark Esper mengumumkan, mereka bakal mengirim 750 tentara ke Timur Tengah sebagai tanggapan setelah Kedutaa Besar AS di Irak diserang demonstran pro-Iran. US Marine Corps/Sgt Robert G. Gavaldon via Sky NewsIlustrasi tentara Amerika Serikat (AS) yang tengah melakukan persiapan. Menteri Pertahanan Mark Esper mengumumkan, mereka bakal mengirim 750 tentara ke Timur Tengah sebagai tanggapan setelah Kedutaa Besar AS di Irak diserang demonstran pro-Iran.

NEW YORK, KOMPAS.com - Lembaga pemeringkat kredit Moody's memberi peringatan mengenai dampak dari potensi konflik di Timur Tengah setelah adanya serangan Amerika Serikat ke Baghdad yang menewaskan pimpinan militer Iran Qasem Soleimani.

Seperti dikutip dari CNBC, Moody's menyatakan, jika konflik antara Iran dan Amerika Serikat akan berlangsung dalam jangka panjang bakal meningkatkan risiko di sektor ekonomi dan keuangan.

"Jika konflik (antara Amerika Serikat dan Iran) terus berlanjut dan meluas maka akan berimplikasi secara meluas terhadap ekonomi dan finansial yang secara signifikan akan memperburuk kondisi operasional dan keuangan," ujar analis senior Moody's Alexander Perjessy dalam keterangannya, Selassa (7/1/2019).

" Konflik yang berlarut-larut berpotensi menimbulkan dampak global, khususnya melalui pengaruhnya terhadap harga minyak," tambah dia.

Baca juga: Apa yang Terjadi pada Harga Minyak jika Pecah Perang AS-Iran?

Seiring dengan konflik yang menewaskan Soleimani, Kamis (2/1/2020), siaran TV pemeirntah Iran menyatakan pada Minggu (5/1/2020) tidak akan lagi menghormati pembatasan pengayaan uranium yang ditetapkan dalam perjanjian nuklir 2015.

Selain itu, parlemen Irak pun mengeluarkan resolusi yang menyerukan pengusiran atas pasukan asing yang menimbulkan pertanyaan mengenai masa depan misi sekutu yang berhasil melawan ISIS dalam beberapa tahun terakhir.

Perjessy mengatakan, dampak dari ketegangan yang sedang terjadi bakal berdampak luas terhadap perekonomian, tidak hanya terhadap harga minyak dan perbankan saja, namun juga merambah sektor lain seperti pariwisata di Timur Tengah misalnya, secara langsung akan terdampak.

Baca juga: AS-Iran Memanas, Erick Thohir Antisipasi Kenaikan Harga Minyak Dunia

Adapun sejak serangan terjadi, harga aset-aset safe haven seperti emas dan obligasi terus meningkat, dan harga minyak pun mencatatkan level harga tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.

Pada Senin (6/1/2020) harga acuan minyak mentah Brent mencatatkan level tertinggi sejak September 2019 yaitu sebesar 70,74 dollar AS per barrel sementara West Texas Intermediate mencatatkan harga tertinggi sejak April di 64,72 dollar AS per barrel.

Perjessy mengatakan bahwa bagi produsen minyak di Timur Tengah harga yang lebih tinggi dapat mengurangi beberapa implikasi negatif kredit, selama permintaan tetap tinggi dan negara-negara dapat melanjutkan ekspor.

Baca juga: Serangan AS Tewaskan Pimpinan Militer Iran, Harga Minyak Dunia Melonjak



Sumber CNBC
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X