Keluhan Industri Keramik: Sudah Gas Mahal, Dihajar Impor Pula

Kompas.com - 07/01/2020, 12:31 WIB
Pabrik keramik milik PT Arwana Citramulia Tbk di Mojokerto gunakan Gas Bumi PGN, Jawa Timur. Pramdia Arhando Julianto/Kompas.comPabrik keramik milik PT Arwana Citramulia Tbk di Mojokerto gunakan Gas Bumi PGN, Jawa Timur.

JAKARTA, KOMPAS.com - Industri keramik dalam negeri sudah sejak lama mengeluhkan harga gas yang dinilai sangat memberatkan. Padahal industri ubin di dalam negeri tengah dalam kondisi pelik karena membanjirnya impor keramik.

Ketua Dewan Pembina Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki), Elisa Sinaga, mengungkapkan harga gas yang dibayar bagi industri domestik masih berada di atas 9 dollar AS per MMBTU.

"Harga kita masih termasuk yang mahal di banding secara kawasan, kita harganya 9,1 dollar AS (per MMBTU). Artinya apa? Harus ada campur tangan pemerintah, terserah lah caranya bagaimana," kata Elisa kepada Kompas.com, Selasa (7/1/2020).

Menurutnya, penurunan gas jangan hanya sekadar janji. Masalah harga gas sudah memberatkan industri sejak beberapa tahun belakangan.

"Padahal kita kan ingat, sekitar kalau nggak salah tiga tahun lalu kan janji katanya gas sudah bisa berikan penurunan gas. Kita percaya, kepercayaan ini yang penting," ujar Elisa.

"Tinggal seberapa mampu pemerintah dan seberapa effort-nya, kita perhatikan betul. Jangan bilang oh nggak bisa turun, negara nggak mampu. Jadi bisa harga 5 dollar (per MMBU) bagus, bisanya 6 dollar (per MMBTU) juga monggo. Buktinya negara lain bisa kok," imbuhnya.

Baca juga: Punya Potensi Besar, Industri Keramik Jadi Sektor Unggulan Indonesia

Dikatakannya, harga gas yang membuat ongkos produksi tertekan. Di sisi lain, pelaku industri keramik juga harus dihadapkan pada keramik impor dari China, India, dan Vietnam.

Kata Elisa, meski harga keramik ditentukan banyak faktor, ongkos energi untuk di pabrik keramik tetap jadi yang dominan. Itu sebabnya, penurunan gas sudah sangat mendesak.

China bisa memproduksi keramik dengan sangat murah lantaran menggunakan gas dari batubara yang harganya 5 dollar AS per MMBTU. Industri keramik China juga menikmati banyak insentif pemerintah.

"Di China mereka pakai gas batubara, murah sekali hanya 5 dollar AS, karena energi kotor. Tapi memang dua tahun ke depan akan dilarang, mereka juga mulai beralih ke gas alam yang harganya mirip dengan kita di kisaran 8-9 dollar AS (per MMBTU)," jelas Elisa.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X