Turunkan Harga Gas: Janji Jokowi yang Belum Terealisasi Sejak 2016

Kompas.com - 07/01/2020, 14:51 WIB
Presiden Joko Widodo (Jokowi) didampingi  Walikota Yogyakarta  Drs. H. Haryadi Suyuti (kiri) menanti detik-detik pergantian tahun di Gedung Agung, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (31/12/2019). ISTANA PRESIDEN/AGUS SUPARTOPresiden Joko Widodo (Jokowi) didampingi Walikota Yogyakarta Drs. H. Haryadi Suyuti (kiri) menanti detik-detik pergantian tahun di Gedung Agung, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (31/12/2019).

Janji Jokowi

Diberitakan Harian Kompas, 5 Oktober 2016, Presiden Jokowi meminta harga gas turun hingga 5-6 dollar AS per MMBTU mulai November 2016.

Saat itu, Jokowi membandingkan harga gas di negara tetangga yang jauh lebih murah. Padahal, kata dia, Indonesia memiliki cadangan gas lebih banyak daripada negara-negara itu.

Jokowi memerintahkan agar harga gas untuk industri pada November turun hampir separuh dari harga saat ini. Rumusan harga baru gas untuk industri akan diberlakukan mulai awal 2017.

Langkah ini untuk memperkuat daya saing industri nasional di pasar global. Saat ini, harga gas industri domestik yang berkisar 9,5 dollar AS hingga 11 dollar AS per MMBTU menempatkan Indonesia sebagai negara dengan harga gas industri termahal di Asia Tenggara.

”Saya meminta ada langkah konkret untuk menjadikan harga gas di Indonesia lebih kompetitif. Dari simulasi hitungan, harga gas Indonesia bisa turun hingga 5 dollar AS sampai 6 dollar AS per MMBTU. Jika tidak bisa turun, sebaiknya tidak perlu dihitung lagi,” kata Presiden saat memimpin sidang kabinet di Kantor Presiden, Kompleks Istana, Jakarta, Selasa (4/10/2016).

Baca juga: Harga Gas Industri Mahal, Luhut Sebut Banyak Maling

Menurut Jokowi, harga gas di Vietnam 7 dollar AS, di Malaysia 4 dollar AS, dan di Singapura 4 dollar AS per MMBTU. Padahal, kata Presiden, Indonesia memiliki cadangan gas lebih banyak daripada negara-negara tersebut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

”Hal ini harus dibenahi untuk meningkatkan daya saing industri Indonesia, terutama keramik, tekstil, petrokimia, pupuk, dan baja yang banyak menggunakan gas,” kata Jokowi.

Sebagai tindak lanjut, pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2016 tentang Penetapan Harga Gas Bumi yang mengatur penurunan harga jual gas bumi bagi industri.

Perpres yang ditandatangani Jokowi pada 3 Mei 2016 itu menindaklanjuti Paket Kebijakan Ekonomi III yang diumumkan pada Oktober 2015.

Penyebab mahal

Sebelumnya, Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, mahalnya harga gas industri karena adanya kenaikan harga bahan baku dari sisi hulu. Hal itu menurut Luhut karena di hulu migas diduga banyak maling.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.